PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus memacu ekspansi bisnisnya meski di tengah munculnya berbagai dinamika kebijakan baru. Pengelola jaringan ritel modern Alfamidi ini telah menetapkan target ambisius untuk menambah ratusan gerai baru sepanjang tahun 2026.
Perusahaan ritel ini berencana untuk membuka sekitar 200 unit gerai baru guna memperluas jangkauan pasar secara organik di berbagai wilayah Indonesia. Langkah strategis ini dilakukan untuk memastikan fundamental usaha tetap tumbuh secara berkelanjutan di masa mendatang.
Strategi Ekspansi dan Alokasi Dana MIDI
Untuk memuluskan rencana penambahan gerai tersebut, manajemen MIDI telah menyiapkan sokongan dana yang cukup besar. Perusahaan mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (Capex) mencapai Rp1,5 triliun untuk tahun ini.
Direktur Finance MIDI, Suantopo Po, menjelaskan bahwa dana tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pembukaan fisik gerai semata. Anggaran tersebut juga akan dialokasikan guna memperkuat infrastruktur operasional internal serta mengembangkan berbagai layanan digital perusahaan.
Hingga akhir kuartal pertama tahun 2026, MIDI tercatat telah memiliki total 2.627 gerai yang beroperasi secara nasional. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebanyak 40 gerai jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2025 yang lalu.
Menyikapi Kebijakan Kopdes dan Pembatasan Ritel
Terkait wacana pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KMP) oleh pemerintah, pihak MIDI menyatakan sikap yang positif dan menghormati kebijakan tersebut. Perseroan menilai keberadaan koperasi itu tidak akan mengganggu kelangsungan model bisnis mereka saat ini.
Poin-poin tanggapan manajemen MIDI terkait kondisi pasar dan regulasi :
- Perusahaan meyakini bahwa setiap pelaku usaha ritel memiliki segmentasi konsumen serta target pasar yang berbeda-beda.
- Kehadiran unit usaha baru seperti koperasi desa justru dipandang dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas.
- Wacana pembatasan operasional ritel modern di sejumlah daerah dinilai belum memberikan dampak material secara langsung terhadap bisnis perseroan.
- Fokus lokasi usaha MIDI saat ini masih didominasi di kawasan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang mapan.
- Perseroan berkomitmen penuh untuk tetap patuh pada seluruh aturan pemerintah pusat maupun ketentuan dari pemerintah daerah.
Afid Hermeily selaku Direktur Corporate Legal dan Compliance MIDI menegaskan bahwa perbedaan segmentasi menjadi kunci utama persaingan yang sehat. Hal ini disampaikannya dalam sesi pertemuan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis, 4 Juni 2026.
Meski terdapat aturan pembatasan di beberapa wilayah, MIDI tetap optimistis karena strategi lokasi yang dipilih telah diperhitungkan secara matang. Fokus pada pusat ekonomi membuat bisnis ritel modern ini tetap memiliki ruang tumbuh yang signifikan.
Kinerja Keuangan yang Solid pada Kuartal I/2026
Optimisme perusahaan juga didukung oleh capaian finansial yang cukup mengesankan pada awal tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, MIDI berhasil mencatatkan pertumbuhan pada pos pendapatan maupun laba bersih.
Berikut adalah ringkasan performa keuangan MIDI pada kuartal pertama tahun 2026 :
| Indikator Keuangan | Kuartal I/2025 | Kuartal I/2026 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Bersih | Rp5,52 Triliun | Rp5,88 Triliun | 6,43% |
| Laba Bersih | Rp190,37 Miliar | Rp265,57 Miliar | 39,50% |
Data keuangan di atas menunjukkan bahwa efisiensi dan strategi ekspansi yang dijalankan perusahaan mulai membuahkan hasil yang nyata. Peningkatan laba bersih yang mencapai hampir 40 persen menjadi bukti kuatnya fundamental keuangan perseroan di tengah persaingan ritel yang ketat.
Prospek Bisnis dan Target Akhir Tahun
Manajemen MIDI tetap memandang optimis prospek bisnis ritel modern hingga penghujung tahun 2026 nanti. Meski kondisi ekonomi global maupun domestik terus mengalami dinamika, perseroan yakin mampu menjaga ritme pertumbuhan yang sehat.
Suantopo Po menambahkan bahwa perusahaan berupaya agar kinerja keseluruhan tahun ini dapat tumbuh secara moderat dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya. Fundamental usaha yang kokoh menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan pasar ke depan.
Selain fokus pada penambahan toko fisik, MIDI juga terus memperhatikan perkembangan tren belanja masyarakat. Penguatan layanan digital menjadi salah satu prioritas agar perusahaan tetap relevan dengan kebutuhan konsumen modern yang menginginkan kemudahan akses.
Dengan integrasi antara gerai fisik yang tersebar luas dan layanan digital yang semakin canggih, Alfamidi berharap dapat terus meningkatkan pangsa pasarnya. Komitmen ini sejalan dengan rencana pembagian dividen perusahaan yang juga telah dipersiapkan bagi para pemegang saham.
Secara keseluruhan, langkah MIDI di tahun 2026 menunjukkan keberanian ekspansi yang terukur. Melalui alokasi Capex yang besar, perusahaan siap memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama di industri ritel tanah air.