Bitcoin Terus Tertekan, Aksi Jual Investor Lama di 2026 Mengejutkan Pasar

Bitcoin Terus Tertekan, Aksi Jual Investor Lama di 2026 Mengejutkan Pasar
Foto: Bitcoin Terus Tertekan, Aksi Jual Investor Lama di 2026 Mengejutkan Pasar. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tekanan harga yang membayangi pasar Bitcoin hingga saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski begitu, fenomena aksi jual masif yang dilakukan oleh para pemegang aset lama justru dianggap sebagai sinyal positif.

Ed Engel, seorang analis dari Compass Point, menilai bahwa pergerakan ini bisa menjadi indikasi awal berakhirnya fase pasar bearish atau tren penurunan harga kripto. Menurutnya, kelompok investor yang telah menyimpan asetnya selama minimal 155 hari kini mulai melepaskan kepemilikan mereka.

Para pemegang jangka panjang ini sebelumnya cenderung pasif dalam kurun waktu Februari hingga April lalu. Namun, perilaku pasar berubah drastis dalam beberapa pekan terakhir ketika mereka mulai aktif menjual aset yang dimiliki.

Engel mencatat bahwa nilai penjualan dari kelompok ini telah mencapai angka sekitar 2,4 miliar dollar AS atau setara Rp43,31 triliun dalam dua hari terakhir saja. Langkah ini diyakini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap keseimbangan antara pasokan dan permintaan Bitcoin di pasar.

Analisis Penjualan dan Siklus Pasar

Selain pemegang lama, kelompok investor yang membeli Bitcoin di harga tinggi juga mulai melakukan aksi jual. Engel menyoroti bahwa sekitar 26 persen Bitcoin yang terjual dalam sebulan terakhir berasal dari mereka yang membeli di atas harga 90.000 dollar AS (sekitar Rp1,62 miliar).

Rincian mengenai data penjualan dan pergerakan harga Bitcoin saat ini:

  • Aksi jual dari pemegang jangka panjang mencapai nilai Rp43,31 triliun dalam kurun waktu 48 jam.
  • Sebanyak 26 persen volume penjualan berasal dari investor yang membeli aset di harga puncak (di atas Rp1,62 miliar).
  • Harga tertinggi yang pernah dicapai Bitcoin pada Oktober lalu berada di level 126.000 dollar AS atau setara Rp2,27 miliar.
  • Situasi geopolitik akibat konflik Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga aset kripto belakangan ini.

Fenomena ini disebut sebagai fase "menyerahnya" para pembeli utama yang biasanya sangat tangguh menghadapi tren penurunan. Kondisi tersebut sering kali menjadi tema umum yang muncul saat pasar bearish mendekati akhir siklusnya.

Hingga saat ini, Bitcoin masih berjuang keras untuk bisa kembali mendekati level tertingginya yang dicapai pada Oktober lalu. Ketidakpastian global membuat harga kripto ini tetap tertekan, meskipun di sisi lain pasar saham justru berhasil mencetak rekor-rekor baru.

Dilema Narasi Bitcoin di Tengah Ketidakpastian

Ketimpangan antara pergerakan pasar saham dan kripto memicu perdebatan mengenai peran Bitcoin di mata investor. Ada dua pandangan utama yang kini mulai dipertanyakan validitasnya oleh para pelaku pasar global.

Pertama, narasi bahwa Bitcoin adalah "emas digital" yang seharusnya menjadi pelindung nilai saat terjadi konflik geopolitik. Kedua, perilaku harga Bitcoin yang sering kali bergerak sejalan dengan saham teknologi dengan profil risiko tinggi.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara performa Bitcoin dan kondisi pasar saat ini:

Indikator Pasar Kondisi Saat Ini
Status Siklus Diduga berada di tahap akhir pasar bearish (penurunan).
Pemicu Eksternal Ketidakpastian akibat perang Iran dan geopolitik global.
Perilaku Investor Pemegang jangka panjang dan pembeli harga tinggi mulai menjual aset.
Performa Saham Mengalami kenaikan hingga mencapai rekor tertinggi baru.

Tabel di atas menunjukkan kontras yang jelas antara optimisme di pasar modal konvensional dengan tekanan yang dialami pasar kripto. Meski demikian, penyerahan diri para investor besar sering kali menjadi fondasi bagi pemulihan harga di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi