Laba Maybank Indonesia BNII Tembus Rp397 Miliar, Ini Kinerja Keuangan Terbaru 2026

Laba Maybank Indonesia BNII Tembus Rp397 Miliar, Ini Kinerja Keuangan Terbaru 2026
Foto: Laba Maybank Indonesia BNII Tembus Rp397 Miliar, Ini Kinerja Keuangan Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatatkan performa bisnis yang tetap terjaga di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Pada kuartal pertama tahun 2026, perseroan berhasil mengantongi laba sebelum pajak (PBT) senilai Rp397 miliar.

Selain pencapaian laba sebelum pajak tersebut, Maybank Indonesia juga membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATAMI). Nilainya tercatat mencapai Rp299 miliar pada periode yang sama.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menjelaskan bahwa pihak bank telah melakukan penyesuaian ekspektasi untuk menghadapi kondisi pasar saat ini. Fokus utama perusahaan dialihkan pada pemanfaatan peluang pertumbuhan di berbagai segmen strategis.

Peluang tersebut mencakup segmen ritel, non-ritel, hingga korporasi atau Global Banking (GB), termasuk di dalamnya sektor Perbankan Syariah. Langkah ini dilakukan di tengah situasi ketidakpastian yang terus membayangi sepanjang kuartal tersebut.

Ke depannya, Steffano menegaskan bahwa bank akan terus berupaya menangkap potensi pertumbuhan melalui ekosistem Whole of Maybank. Strategi ini dijalankan beriringan dengan penguatan bisnis inti yang sesuai dengan peta jalan ROAR30 milik Maybank Group.

Sepanjang tiga bulan pertama di tahun 2026, BNII juga mencatatkan kenaikan pada Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar 2,1% menjadi Rp1,81 triliun. Kenaikan ini dipicu oleh efisiensi pada beban bunga serta perbaikan pada struktur pendanaan bank.

Di sisi profitabilitas, rasio Net Interest Margin (NIM) perseroan dilaporkan tetap stabil di angka 4,3% secara tahunan (Y-o-Y). Stabilitas ini terjaga meski kondisi pasar keuangan sedang mengalami volatilitas yang cukup tinggi.

Ketegangan geopolitik dunia memang membawa dampak langsung terhadap aktivitas perdagangan surat berharga dan transaksi valuta asing di Global Markets (GM). Hal ini menyebabkan pendapatan fee dari lini GM menyusut menjadi Rp20 miliar.

Pendapatan fee di luar sektor GM juga mengalami tren penurunan, walaupun ada titik terang pada layanan Premier Wealth yang tumbuh 20,0% secara tahunan. Selain itu, pendapatan fee dari layanan ritel juga menunjukkan grafik perbaikan.

Secara kumulatif, Pendapatan Non-Bunga (NOII) perseroan mengalami koreksi sebesar 29,6% menjadi Rp402 miliar. Kondisi ini membuat Pendapatan Operasional Bruto tercatat di angka Rp2,22 triliun, sedikit turun dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode tahun lalu.

Beban operasional bank sendiri mengalami kenaikan tipis sebesar 4,5% Y-o-Y yang dipicu oleh peningkatan aktivitas bisnis. Akibatnya, Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) berada di level Rp523 miliar.

Kabar positif datang dari beban pencadangan yang berhasil ditekan hingga 47,9% Y-o-Y menjadi Rp123 miliar. Penurunan ini menjadi cerminan bahwa kualitas aset bank semakin membaik didukung oleh manajemen risiko yang sangat hati-hati.

Secara fundamental, bisnis inti Maybank Indonesia per Maret 2026 dinilai tetap kokoh berkat pertumbuhan kredit di beberapa lini utama. Profil pendanaan perusahaan juga menunjukkan tren yang jauh lebih sehat dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, akibat penurunan pada Pendapatan Non-Bunga, nilai PBT dan PATAMI mengalami koreksi masing-masing sebesar 21,5% dan 20,5% secara tahunan. Meskipun laba menurun, kualitas aset bank justru menunjukkan performa yang lebih kompetitif.

Berikut adalah rincian perbandingan kualitas aset (NPL) Maybank Indonesia antara tahun 2025 dan 2026:

Kategori Rasio Maret 2025 Maret 2026
Non-Performing Loan (NPL) Gross 2,4% 2,3%
Non-Performing Loan (NPL) Net 1,5% 1,4%

Data di atas memperlihatkan keberhasilan manajemen dalam menekan angka kredit bermasalah sepanjang satu tahun terakhir. Penurunan rasio NPL ini membuktikan komitmen bank dalam menjaga kesehatan portofolio kreditnya.

Pertumbuhan Kredit dan Simpanan Nasabah

Penyaluran kredit pada segmen CFS ritel dan non-ritel tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,4% menjadi Rp88,33 triliun. Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada kredit non-ritel yang melonjak hingga 7,1% secara tahunan.

Segmen Business Banking menyumbang kenaikan tertinggi sebesar 15,6%, disusul oleh segmen SME+ yang tumbuh 12,3%. Hal ini menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi pada sektor komersial dan menengah.

Kredit ritel CFS juga ikut terkerek naik sebesar 4,1% Y-o-Y yang didukung oleh performa anak usaha di bidang pembiayaan otomotif. Selain itu, pinjaman konsumer seperti kartu kredit dan KTA juga tumbuh positif sebesar 6,7%.

Meskipun portofolio korporasi Global Banking (GB) mengalami penurunan sebesar 12,4%, segmen Large Local Corporate (LLC) mulai menunjukkan geliat. Peningkatan pada transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) diprediksi baru akan terlihat pada kuartal mendatang.

Hingga akhir Maret 2026, total kredit yang disalurkan berada di posisi stabil pada angka Rp121,99 triliun. Sementara itu, total aset perusahaan mengalami kenaikan tipis 1,2% menjadi Rp192,17 triliun.

Rincian mengenai pertumbuhan simpanan dan rasio likuiditas bank dapat dilihat pada poin-poin di bawah ini:

  • Total simpanan nasabah tumbuh 6,1% menjadi Rp118,35 triliun berkat lonjakan dana Giro sebesar 37,5%.
  • Dana Tabungan mengalami penurunan sebesar 1,9%, sementara deposito berjangka juga turun sebesar 12,3%.
  • Rasio dana murah atau CASA meningkat signifikan dari 53,0% pada tahun lalu menjadi 61,2% di Maret 2026.
  • Tingkat kecukupan modal (CAR) berada di level yang sangat kuat yaitu 26,3% dengan rasio CET1 sebesar 25,2%.
  • Likuiditas tetap terjaga dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only di angka 85,5%.

Langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan pada deposito berjangka bertujuan untuk mengoptimalkan biaya dana. Dengan porsi CASA yang lebih besar, struktur pendanaan bank menjadi jauh lebih efisien dan stabil.

Kinerja Gemilang Perbankan Syariah

Unit Usaha Syariah (UUS) Maybank Indonesia mencatatkan performa yang sangat impresif dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 10,4% Y-o-Y. Total pembiayaan syariah kini telah mencapai angka Rp32,23 triliun.

Pertumbuhan ini didorong oleh sektor CFS Syariah yang naik 10,4% serta Global Banking Syariah yang juga meningkat 10,3%. Segmen SME+ Syariah bahkan mencatatkan pertumbuhan luar biasa hingga 39,1%.

Pembiayaan properti menjadi motor penggerak utama pada ritel syariah dengan pertumbuhan sebesar 14,7%. Selain itu, pembiayaan korporasi di segmen GB-LLC Syariah melesat hingga 30,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, lini syariah memberikan kontribusi sebesar 30,2% terhadap total portofolio pembiayaan bank secara keseluruhan. Sedangkan dari sisi aset, sektor syariah menyumbang sekitar 24,5% bagi total aset Bank-only.

Maybank Indonesia juga mengukir sejarah sebagai pelopor layanan Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama di tanah air. Layanan ini memungkinkan investor tertentu berpartisipasi langsung dalam pembiayaan badan usaha.

Dalam skema SRIA ini, bank berperan sebagai pengatur atau arranger bagi para investor dan nasabah. Hingga saat ini, nilai transaksi yang tercatat dalam instrumen SRIA sudah mencapai Rp500 miliar.

Dana pihak ketiga di Perbankan Syariah juga tumbuh solid sebesar 7,5% menjadi Rp35,50 triliun. Peningkatan ini didominasi oleh pertumbuhan dana murah (CASA) yang melonjak hingga 28,8% secara tahunan.

Rasio CASA syariah bahkan menyentuh angka 69,1% pada Maret 2026, jauh meningkat dari 57,6% di tahun sebelumnya. Hal ini dibarengi dengan kualitas pembiayaan (NPF) yang membaik ke level 2,2% untuk posisi gross.

Laba sebelum pajak (PBT) Perbankan Syariah melonjak tajam 52,1% menjadi Rp226 miliar pada kuartal pertama ini. Keberhasilan ini didukung oleh efisiensi biaya dana dan peningkatan pendapatan fee dari transaksi reksa dana.

Dato' Sri Khairussaleh Ramli, selaku Presiden Komisaris Maybank Indonesia, mengakui tantangan berat dari volatilitas pasar global. Namun, beliau tetap optimis bahwa penguatan fondasi pada sektor UKM akan menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang.

Langkah-langkah strategis ini telah ditetapkan sebagai fokus utama bagi seluruh jaringan Maybank Group. Dengan fundamental yang kuat, bank yakin dapat terus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

Artikel terkait

Rekomendasi