Kurs Dollar AS Nyaris Rp 18.000, Warga Mulai Cairkan USD di Money Changer 2026

Kurs Dollar AS Nyaris Rp 18.000, Warga Mulai Cairkan USD di Money Changer 2026
Foto: Kurs Dollar AS Nyaris Rp 18.000, Warga Mulai Cairkan USD di Money Changer 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Fenomena menarik terjadi di sejumlah tempat penukaran mata uang atau money changer di Jakarta sepanjang pekan ini. Masyarakat terpantau berbondong-bondong menjual simpanan dollar Amerika Serikat (AS) mereka.

Kondisi ini dipicu oleh tren penguatan nilai tukar dollar AS yang cukup signifikan terhadap rupiah. Pelemahan mata uang Garuda ini dimanfaatkan warga untuk mendulang keuntungan dari selisih kurs.

Rupiah Terkoreksi Tajam dalam Sepekan

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup pada level Rp 17.744 per dollar AS pada Senin (25/5/2026). Angka tersebut terus merosot hingga menyentuh posisi Rp 17.880 per dollar AS pada penutupan Jumat (29/5/2026).

Secara akumulatif, rupiah telah melemah sebanyak 136 poin dalam kurun waktu satu minggu terakhir. Hal inilah yang memicu lonjakan aktivitas di berbagai penyedia jasa penukaran valuta asing.

Aris, salah satu staf di PT Daffa Indo Valuta, membenarkan adanya peningkatan trafik transaksi valas di tempatnya bekerja. Kenaikan nilai kurs dollar AS menjadi magnet utama bagi nasabah untuk segera mencairkan simpanan mereka.

Pada Jumat pekan ini, money changer Daffa Indo Valuta menetapkan kurs beli di level Rp 17.820 dan kurs jual di angka Rp 17.950 per dollar AS. Aris menyebutkan bahwa jumlah orang yang menjual dollar meningkat drastis seiring kenaikan tren harga tersebut.

Daftar penyebab utama masyarakat mendatangi money changer belakangan ini:

  • Mengambil keuntungan (profit taking) dari selisih harga beli yang sedang tinggi.
  • Memenuhi kebutuhan biaya hidup sehari-hari dengan mencairkan simpanan valas.
  • Melakukan spekulasi investasi jangka pendek dengan memanfaatkan tren kenaikan dollar.
  • Menukar sisa uang perjalanan luar negeri karena nilai tukar yang menguntungkan.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa motivasi ekonomi menjadi penggerak utama tingginya transaksi valuta asing di masyarakat saat ini.

Motivasi Spekulasi dan Investasi Jangka Pendek

Meski banyak yang menjual, Aris juga mencatat adanya peningkatan nasabah yang justru membeli dollar AS. Pembelian ini mayoritas didorong oleh keinginan untuk berspekulasi dan mencari keuntungan dari potensi pelemahan rupiah lebih lanjut.

Menurut Aris, banyak investor jangka pendek yang memanfaatkan tren ini dengan menempatkan dana mereka dalam bentuk valas. Kenaikan sekitar 100 poin saja dalam satu bulan sudah dianggap memberikan keuntungan yang menggiurkan bagi para pelaku spekulasi.

Menariknya, sebagian masyarakat memilih untuk tetap menahan simpanan dollar AS mereka meskipun harga sudah tinggi. Mereka memprediksi nilai tukar rupiah masih memiliki ruang untuk melemah hingga menembus level Rp 18.000 per dollar AS.

Aris mengungkapkan ada beberapa nasabah yang sengaja menunggu momentum kenaikan lebih lanjut sebelum memutuskan untuk menjual. Target angka Rp 18.000 menjadi patokan psikologis bagi sebagian investor dalam mengambil keputusan transaksi.

Ringkasan perbandingan kurs rupiah terhadap dollar AS selama pekan terakhir:

Waktu Perdagangan Nilai Kurs Rupiah Keterangan
Senin, 25 Mei 2026 Rp 17.744 Penutupan Awal Pekan
Jumat, 29 Mei 2026 Rp 17.880 Penutupan Akhir Pekan
Selisih / Pelemahan 136 Poin Total Penurunan Sepekan

Data pada tabel menunjukkan pelemahan rupiah yang konsisten, yang kemudian memicu tingginya aktivitas transaksi di pasar valuta asing fisik.

Tren Penjualan di Cabang Lain

Senada dengan yang terjadi di Daffa Indo Valuta, lonjakan transaksi juga dirasakan oleh money changer lainnya. Lucky, Kepala Cabang Dolarindo Samanhudi, menyampaikan bahwa tren penukaran mata uang sedang berada di titik tertinggi.

Ia menegaskan bahwa aktivitas penjualan dollar AS oleh nasabah mendominasi transaksi dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini mempertegas bahwa masyarakat sangat responsif terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang yang terjadi di pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi