Krisis Timur Tengah Memanas, Dunia Kembali Buru Batu Bara di 2026

Krisis Timur Tengah Memanas, Dunia Kembali Buru Batu Bara di 2026
Foto: Krisis Timur Tengah Memanas, Dunia Kembali Buru Batu Bara di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
```html

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat dunia tengah gencar melakukan transisi menuju energi bersih, ironisnya, investasi batu bara justru mengalami kenaikan. Konflik di Timur Tengah yang memicu krisis energi global membuat banyak negara kembali mengandalkan sumber energi fosil yang tersedia dan mudah diakses dalam waktu singkat. Laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA) berjudul World Energy Investment 2026, yang dirilis Kamis (28/5/2026), menunjukkan bahwa investasi pasokan batu bara global diperkirakan mencapai 180 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.212 triliun pada tahun 2026.

Total investasi ini menjadi yang tertinggi sejak 2012. Kenaikan tersebut terjadi saat banyak negara menghadapi ketidakpastian pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, terutama gangguan distribusi di Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak dan gas utama dunia. Menurut IEA, krisis ini memperkuat fokus negara-negara terhadap keamanan energi.

“Perubahan persepsi tentang risiko dan keandalan diperkirakan akan memicu minat baru pada berbagai sumber energi yang tersedia di dalam negeri; bagi importir bahan bakar utama, ini menciptakan peluang bagi energi terbarukan, nuklir, dan berpotensi juga untuk batu bara,” tulis IEA dalam laporannya. Dengan meningkatnya persepsi risiko terkait impor energi, banyak negara mulai memprioritaskan sumber energi domestik seperti batu bara.

China dan India sebagai Motor Utama:

Kenaikan investasi batu bara ini didorong terutama oleh China dan India. IEA melaporkan bahwa China diproyeksikan menyumbang hampir 70 persen dari total investasi batu bara dunia pada 2026. Negara ini juga aktif dalam menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Secara finansial, lebih dari 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.784 triliun dari investasi batu bara global berasal dari pengembangan produksi batu bara termal di China. Nilai ini meningkat 7 persen dibandingkan tahun 2025 dan hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.

India menjadi investor terbesar kedua dalam sektor ini. Menurut IEA, investasi batu bara India melonjak hingga tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. IEA juga menambahkan bahwa krisis energi saat ini mungkin akan memperkuat penggunaan batu bara di pasar utama Asia, paling tidak untuk jangka pendek.

“Krisis ini mungkin akan mendorong pengeluaran untuk batu bara di pasar-pasar utama Asia, setidaknya dalam jangka pendek, karena negara-negara berupaya mempertahankan aset pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada dalam sistem untuk jangka waktu yang lebih lama,” kata IEA dalam laporannya.

```

Artikel terkait

Rekomendasi