Amerika Serikat (AS) dan Iran diberitakan telah mencapai sebuah kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Langkah ini juga menandai dimulainya negosiasi mengenai masa depan program nuklir Iran.
Mengutip laporan BBC pada Jumat (29/5/2026), pejabat AS menyatakan bahwa kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan dari Presiden Donald Trump dan pemimpin Iran. Namun, laporan dari Teheran menunjukkan sinyal yang belum sepenuhnya sejalan.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa kesepakatan ini belum final maupun dikonfirmasi. Sementara itu, kedua negara saling menuding telah melanggar gencatan senjata yang rentan dalam beberapa hari terakhir.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Ini terjadi setelah serangan terbaru oleh AS ke wilayah selatan Iran pada malam sebelumnya.
Media pemerintah Iran sebelumnya telah mengungkapkan sejumlah poin dari dokumen tidak resmi memorandum of understanding (MoU) yang berisi 14 poin antara kedua negara ini. Dokumen ini mencakup pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran dan pengaturan lalu lintas nonmiliter di Selat Hormuz.
Gedung Putih membantah keabsahan dokumen tersebut, menyebut draf MoU yang beredar sepenuhnya sebagai rekayasa. Selat Hormuz menjadi jalur perdagangan energi global yang sangat strategis.
Gencatan senjata pertama antara AS dan Iran dimulai pada 8 April 2026. Trump telah berulang kali menyatakan bahwa kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan, meski belum ada hasil substantif dari perundingan yang ada.
Perundingan di Islamabad usai diberlakukan gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan. Trump dan para pejabat AS lainnya tetap menegaskan bahwa opsi operasi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal.
Dalam rapat kabinet pada Rabu, Trump mengungkapkan negosiasi terus berjalan, tetapi proposal Iran "belum mencapai tahap yang diharapkan" dan memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Belum diketahui perkembangan terakhir dalam 24 jam ini atau kapan Trump akan memberikan keputusan final tentang perpanjangan gencatan senjata tersebut. Jika disetujui, kesepakatan ini akan membuka ruang lebih lanjut bagi diskusi isu kompleks, terutama program nuklir Iran.
Trump sebelumnya mengusulkan opsi agar stok uranium Iran diambil alih oleh AS atau diencerkan, baik di dalam negeri maupun di negara ketiga. Axios, media yang pertama kali melaporkan kesepakatan tentatif ini, menyebut bahwa Trump telah mendapat pengarahan terkait proposal tersebut, meski belum memberikan persetujuan.
Pejabat AS menilai bahwa Iran dan AS mendekati kesepakatan dibandingkan periode mana pun selama lebih dari enam pekan gencatan senjata berlangsung. Ada laporan bahwa kesepakatan ini dapat membuka akses "tanpa hambatan" di Selat Hormuz.
Iran juga diberi waktu 30 hari untuk membersihkan ranjau di jalur pelayaran sempit tersebut. Kesepakatan ini diharapkan akan mencabut blokade AS dan memberikan pengecualian sanksi agar Iran dapat menjual minyaknya kembali.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran tampaknya menginginkan kesepakatan, namun masih terlalu dini untuk memastikan kapan atau apakah kesepakatan itu bakal tercapai. Isu pengayaan uranium tetap menjadi titik perundingan yang krusial.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, memimpin konferensi pers di Gedung Putih, menolak untuk memberikan konfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai. Dia mengatakan semua keputusan terakhir ada di tangan presiden.