Kabar duka menyelimuti Kota Surakarta atas berpulangnya tokoh pendidik perempuan yang sangat dihormati, Nyai Hj. Hindun Susilowati. Istri dari pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 4 Maret 2026.
Pihak keluarga besar pesantren telah mengonfirmasi berita duka ini secara resmi kepada publik. Kepergian beliau meninggalkan kesedihan mendalam bagi ribuan santri, alumni, serta masyarakat luas, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Tengah.
Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk organisasi Nahdlatul Ulama yang merasa kehilangan sosok pilar pendidikan tersebut. Manajemen Masjid Raya Sheikh Zayed Solo juga merilis pernyataan resmi untuk menghormati dedikasi almarhumah semasa hidupnya.
Hal ini dikarenakan suami almarhumah, KH. Abdul Rozaq Shofawi, merupakan Imam Besar di masjid ikonik kebanggaan warga Solo tersebut. Dalam pernyataannya, pihak masjid mendoakan agar amal ibadah almarhumah diterima dan keluarga diberikan ketabahan.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Segenap keluarga besar pengurus Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menyampaikan belasungkawa yang tulus atas wafatnya Ibu Nyai Hj. Hindun Susilowati."
Mantan Presiden Joko Widodo juga terlihat hadir secara langsung untuk bertakziah ke rumah duka di Pondok Pesantren Al-Muayyad. Kehadiran tokoh nasional ini menunjukkan betapa besar rasa hormat masyarakat terhadap peran keluarga pesantren tersebut.
Profil dan Peran Nyai Hj. Hindun Susilowati
Nyai Hj. Hindun Susilowati dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja dan menjadi ibu bagi seluruh santri. Sejak tahun 1980, beliau setia mendampingi sang suami dalam memimpin dan memajukan institusi pendidikan Islam tersebut.
Estafet kepemimpinan pesantren mulai dijalankan pasangan ini setelah pengasuh sebelumnya, KH. Ahmad Umar, wafat. Berkat bimbingan mereka, Al-Muayyad bertransformasi menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani dengan tetap memegang teguh tradisi luhur.
Berikut adalah jejak dedikasi dan profil singkat almarhumah Nyai Hj. Hindun Susilowati:
- Pendamping Ulama: Setia membersamai KH. Abdul Rozaq Shofawi dalam memimpin pesantren selama lebih dari empat dekade.
- Tokoh Pendidikan: Berperan aktif mendidik ribuan santri dan menjadi sosok panutan bagi santriwati di lingkungan Al-Muayyad.
- Pilar Keluarga: Membesarkan lima orang anak yang juga berkontribusi bagi pengembangan dakwah dan pendidikan.
- Penjaga Tradisi: Konsisten mempertahankan nilai-nilai luhur pesantren di tengah modernisasi zaman.
Dedikasi beliau selama puluhan tahun telah memperkuat posisi Pondok Pesantren Al-Muayyad sebagai salah satu kiblat pendidikan pesantren di Jawa Tengah. Warisan ilmu dan keteladanan yang beliau tinggalkan kini menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Akar Sejarah dan Pengaruh Keluarga Al-Muayyad
Keluarga besar Al-Muayyad memiliki sejarah yang sangat kuat dan berpengaruh dalam dinamika sosial di Solo. Suami almarhumah, KH. Abdul Rozaq Shofawi, merupakan keturunan langsung dari perintis pesantren tersebut.
Silsilah keluarga ini tersambung kepada KH. Abdul Mannan yang mendirikan pesantren bersama sang istri, seorang pengusaha batik legendaris. Perpaduan antara nilai-nilai keagamaan dan etos kerja yang kuat menjadi ciri khas keluarga besar ini.
Ringkasan silsilah dan peran strategis keluarga besar Al-Muayyad dapat dilihat dalam tabel berikut:
| Tokoh Kunci | Peran dan Kontribusi |
|---|---|
| KH. Abdul Mannan | Pendiri awal Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan. |
| Ahmad Safawi | Saudagar batik legendaris yang menyokong dakwah dan pesantren. |
| KH. Abdul Rozaq Shofawi | Imam Besar Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dan Pengasuh Al-Muayyad. |
| Nyai Hj. Hindun Susilowati | Tokoh pendidik perempuan dan pendamping utama kepemimpinan pesantren sejak 1980. |
Kombinasi latar belakang sebagai ulama dan pengusaha menjadikan keluarga ini memiliki peran strategis dalam masyarakat. Hal tersebut terbukti dari besarnya pengaruh dan rasa hormat yang diberikan oleh berbagai lapisan masyarakat hingga saat ini.
Kepergian Nyai Hj. Hindun Susilowati merupakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia. Semoga semangat perjuangan dan ketulusan beliau dalam mendidik tetap hidup di hati para santri dan keluarganya.