Jurus MDIY dan ACES Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Strategi Ini Banyak Dicari Pelaku Pasar

Jurus MDIY dan ACES Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Strategi Ini Banyak Dicari Pelaku Pasar
Foto: Jurus MDIY dan ACES Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Strategi Ini Banyak Dicari Pelaku Pasar. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Dua pemain besar di sektor ritel perlengkapan rumah tangga, PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), kini tengah menerapkan strategi yang kontras dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Kedua emiten ini harus memutar otak guna mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta lonjakan biaya impor yang kian membebani operasional bisnis mereka.

MDIY dan ACES saat ini dihadapkan pada tantangan serupa, mulai dari kenaikan biaya bahan baku, pembengkakan ongkos logistik, hingga fluktuasi nilai tukar yang tidak menentu.

Meski tantangannya sama, kedua perusahaan ini mengambil langkah berbeda dalam merespons pasar guna mempertahankan keberlangsungan bisnis dan minat konsumen.

Strategi Kenaikan Harga vs Harga Tetap Rendah

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) melalui jaringan gerai AZKO memutuskan untuk melakukan penyesuaian harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) kepada pelanggan.

Berdasarkan laporan riset dari BRI Danareksa Sekuritas, manajemen ACES telah mulai mengerek harga sekitar 10% untuk sekitar 5.000 SKU (produk) sejak bulan April 2026.

Langkah ini tidak berhenti di situ, karena perusahaan menjadwalkan penyesuaian harga untuk 5.000 produk tambahan lainnya pada Mei 2026 demi menjaga stabilitas margin mereka.

Kebijakan ini diambil setelah margin kotor ACES pada kuartal I/2026 tercatat mengalami tekanan sebesar 170 bps jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Tekanan tersebut dipicu oleh melambungnya biaya pengiriman barang dari China, kenaikan harga bahan baku di kisaran 5 hingga 10 persen, serta melemahnya rupiah terhadap yuan.

Di sisi lain, PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) justru memilih jalur berbeda dengan tetap memegang teguh prinsip strategi harga yang terjangkau bagi masyarakat luas.

Emiten pengelola gerai MR DIY ini mengandalkan kekuatan skala bisnis yang masif serta efisiensi rantai pasok untuk meredam tekanan biaya yang muncul ke permukaan.

MDIY juga memaksimalkan jaringan toko yang luas serta daya tawar yang tinggi terhadap para pemasok agar bisa terus menjalankan strategi everyday value mereka.

Catherine Florencia, analis dari MNC Sekuritas, menilai perbedaan pendekatan ini sangat menarik untuk dicermati karena keduanya menyasar konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.

Ia memperingatkan bahwa kenaikan harga memang bisa mengamankan margin dalam jangka pendek, namun ada risiko besar terhadap penurunan volume penjualan produk di lapangan.

Risiko Daya Beli dan Respon Konsumen

Dalam kondisi ekonomi di mana daya beli masyarakat masih cenderung selektif, kebijakan menaikkan harga berisiko membuat volume penjualan tergerus, terutama pada segmen mass market.

Konsumen memiliki kecenderungan untuk menunda belanja, mengurangi nilai transaksi, atau bahkan berpindah ke ritel lain yang mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif.

Catherine berpendapat bahwa langkah ACES sebenarnya cukup rasional untuk melindungi profitabilitas perusahaan agar tidak merosot lebih dalam akibat beban biaya operasional.

Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana memastikan bahwa kenaikan harga tersebut tidak mengurangi frekuensi kunjungan pelanggan maupun ukuran keranjang belanja atau basket size.

Sebaliknya, strategi yang dijalankan oleh MDIY dengan menahan harga dinilai bakal lebih tangguh atau defensif dalam menjaga volume penjualan barang di tengah situasi sulit.

Dengan konsisten menjaga persepsi sebagai ritel yang murah, MDIY memiliki peluang besar untuk mempertahankan trafik pengunjung dan mendorong kenaikan volume penjualan.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait keunggulan strategi harga yang kompetitif di mata konsumen saat ini:

Dampak strategi harga terhadap loyalitas dan perilaku pasar:
  • Mampu menjaga volume penjualan tetap stabil bahkan saat daya beli masyarakat mengalami tekanan.
  • Berpotensi menarik pelanggan baru dari kompetitor yang sudah menaikkan harga jual produk mereka.
  • Memperkuat citra merek sebagai penyedia kebutuhan rumah tangga harian yang relevan dengan kantong masyarakat.
  • Memberikan kepastian harga bagi konsumen yang saat ini sangat berhati-hati dalam mengalokasikan pengeluaran.
  • Meningkatkan daya saing jangka panjang melalui efisiensi operasional dan skala ekonomi yang lebih besar.

Menurut Catherine, peritel yang sanggup menahan harga biasanya memiliki peluang lebih baik untuk menjaga dominasi pasar karena produk mereka dibutuhkan secara reguler oleh publik.

Strategi MDIY ini juga diprediksi akan memperkuat posisi perusahaan sebagai destinasi belanja harian yang memberikan nilai lebih bagi uang yang dikeluarkan oleh pelanggan.

Perbandingan Kinerja Keuangan Kuartal I/2026

Sejauh ini, MDIY menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat pada kuartal pertama tahun 2026 dengan perolehan pendapatan yang mencapai angka Rp2,4 triliun.

Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 31,0% secara tahunan, sementara laba bersih perusahaan melonjak hingga 35,5% menjadi Rp306,5 miliar pada periode tersebut.

Kesuksesan ini didorong oleh ekspansi toko yang sangat agresif serta penguatan konsep harga terjangkau yang terus mereka promosikan kepada masyarakat di berbagai wilayah.

Hingga akhir kuartal I/2026, MDIY tercatat telah membuka 56 gerai baru, sehingga total jaringan toko mereka telah mencapai 1.278 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, ACES melaporkan penjualan bersih senilai Rp2,35 triliun pada kuartal yang sama, yang menunjukkan adanya peningkatan sebesar 10,14% dibandingkan tahun lalu.

Laba bersih yang berhasil dibukukan oleh ACES adalah sebesar Rp163,52 miliar, atau mengalami kenaikan tipis sebesar 15,48% jika dibandingkan secara year-on-year.

Data kinerja keuangan kedua emiten ritel tersebut dapat dilihat secara ringkas pada tabel perbandingan di bawah ini.

Ringkasan kinerja keuangan kuartal I/2026 antara MDIY dan ACES:
Indikator Keuangan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES)
Pendapatan Bersih Rp2,4 Triliun Rp2,35 Triliun
Pertumbuhan Pendapatan (yoy) 31,0% 10,14%
Laba Bersih Rp306,5 Miliar Rp163,52 Miliar
Pertumbuhan Laba (yoy) 35,5% 15,48%
Jumlah Gerai 1.278 Toko Menunggu Data Terbaru

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun keduanya tumbuh, MDIY memiliki akselerasi pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih signifikan dibandingkan dengan kompetitornya, ACES.

Ke depannya, para investor akan terus memantau efektivitas dari kedua strategi yang saling bertolak belakang ini dalam beberapa kuartal mendatang di tahun 2026.

ACES memikul beban untuk membuktikan bahwa kebijakan menaikkan harga tidak akan memicu penurunan permintaan yang drastis dari basis pelanggan setia mereka.

Di sisi lain, MDIY harus membuktikan bahwa meskipun mereka tidak menaikkan harga, perusahaan tetap mampu menjaga keuntungan atau bottom line melalui efisiensi biaya.

Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, strategi harga murah bisa menjadi senjata ampuh jika didukung oleh manajemen yang solid dan skala bisnis yang mumpuni.

Disclaimer: Artikel ini disusun hanya untuk tujuan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Segala keputusan investasi berada di tangan pembaca masing-masing.

Artikel terkait

Rekomendasi