Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat baru-baru ini kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.600 pada Mei 2026. Angka ini mencatatkan rekor tertinggi baru dalam sejarah mata uang Garuda.
Kondisi ini membawa ingatan publik kembali ke masa krisis hebat tahun 1998, di mana nilai dolar AS sempat melonjak ke angka Rp16.800. Pergerakan kurs saat itu terjadi sangat cepat dan memicu krisis politik besar yang mengakhiri 32 tahun kekuasaan Presiden Soeharto.
Transisi kekuasaan yang mendadak kala itu sempat diragukan oleh pasar, terutama terhadap sosok B.J. Habibie yang menggantikan Soeharto. Habibie yang merupakan seorang teknokrat diragukan mampu memulihkan ekonomi, bahkan sempat dipandang sebelah mata oleh tokoh internasional seperti Lee Kuan Yew.
Meski mengawali masa jabatan di tengah pesimisme global, Habibie justru berhasil membalikkan keadaan dan memperkuat rupiah secara signifikan. Berikut adalah tiga strategi utama yang dilakukan Habibie untuk menundukkan dolar AS hingga kembali ke level Rp6.550.
1. Melakukan Restrukturisasi Besar-besaran di Sektor Perbankan
Langkah awal yang diambil Habibie adalah membenahi sektor perbankan yang rapuh akibat kebijakan masa lalu yang terlalu longgar dalam pendirian bank. Rapuhnya sistem ini membuat banyak bank tumbang dan memicu penarikan dana besar-besaran oleh nasabah saat krisis melanda.
Habibie kemudian mengambil kebijakan tegas untuk memperkuat fondasi keuangan nasional dengan melakukan penggabungan atau merger bank pemerintah. Hasil dari langkah strategis ini adalah berdirinya Bank Mandiri sebagai institusi perbankan yang lebih solid.
Upaya penguatan kemandirian lembaga keuangan nasional juga menjadi fokus utama :
- Independensi Bank Indonesia: Penerbitan UU No. 23 Tahun 1999 untuk memisahkan BI dari pengaruh pemerintah.
- Penghapusan Intervensi: Menjamin BI dapat bekerja secara objektif tanpa tekanan kepentingan politik praktis.
- Penataan Ulang Regulasi: Mencabut aturan lama yang mempermudah pendirian bank tanpa pengawasan ketat.
Kebijakan ini diakui Habibie dalam biografinya sebagai langkah kunci untuk mengembalikan kewibawaan rupiah. Dengan Bank Indonesia yang independen, kebijakan moneter menjadi lebih stabil dan terpercaya di mata investor.
2. Menerapkan Kebijakan Moneter yang Ketat
Untuk menekan inflasi dan jumlah uang yang beredar, pemerintah saat itu menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga yang cukup tinggi. Strategi ini bertujuan agar masyarakat kembali menaruh kepercayaan pada sistem perbankan nasional.
Logikanya, bunga yang tinggi akan menarik minat masyarakat untuk kembali menabung dan menyimpan uang mereka di bank. Dampaknya, jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat menurun dan stabilitas nilai tukar mulai terjaga.
Habibie mengklaim strategi moneter ini berjalan sangat efektif dalam mengendalikan gejolak pasar. Hasilnya terlihat dari suku bunga yang awalnya melonjak hingga 60 persen, perlahan turun drastis hingga menyentuh angka belasan persen saja.
3. Menjaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok
Selain fokus pada sektor keuangan, Habibie juga memprioritaskan ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan bagi masyarakat luas. Ia memahami bahwa stabilitas sosial sangat bergantung pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya.
Demi menjaga daya beli, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga listrik dan mempertahankan subsidi BBM. Langkah ini diambil agar biaya produksi dan distribusi bahan pokok tetap rendah meskipun ekonomi sedang dalam tekanan krisis.
Tabel Ringkasan Dampak Kebijakan Ekonomi Era Habibie :
| Indikator Ekonomi | Kondisi Awal Krisis | Hasil Setelah Kebijakan |
|---|---|---|
| Nilai Tukar Dolar AS | Rp16.800 | Rp6.550 |
| Suku Bunga | Sekitar 60% | Belasan persen |
| Status Bank Indonesia | Di bawah pemerintah | Independen (UU No. 23/1999) |
| Harga Energi | Gejolak tinggi | Stabil (Subsidi dipertahankan) |
Data di atas menunjukkan betapa drastisnya perubahan yang terjadi berkat intervensi kebijakan yang terukur. Keberhasilan menurunkan nilai dolar lebih dari separuh harganya merupakan prestasi yang sangat krusial saat itu.
Meskipun penuh tantangan, rangkaian kebijakan ini terbukti ampuh mengembalikan kepercayaan investor asing untuk kembali masuk ke Indonesia. Aliran modal tersebut akhirnya menjadi tenaga tambahan bagi rupiah hingga mencapai titik kendali di level Rp6.550 per dolar AS.