Hantavirus bukanlah merupakan jenis virus baru yang muncul di wilayah Indonesia karena keberadaannya telah terdeteksi sejak era 1980-an. Penyakit ini dikategorikan sebagai zoonosis yang penularannya bersumber dari tikus serta celurut melalui genus Orthohantavirus sebagai penyebab utamanya.
Gejala awal yang dirasakan oleh penderita biasanya meliputi demam tinggi, nyeri pada otot, rasa mual, hingga rasa kelelahan yang luar biasa. Meskipun baru-baru ini menjadi perbincangan akibat kasus di kapal pesiar, investigasi mendalam terhadap virus ini sebenarnya telah dilakukan para ilmuwan sejak tahun 1950-an.
Sejarah Penemuan Hantavirus Sejak Perang Korea
Berdasarkan laporan ilmiah dalam Jurnal Clin Lab Med yang ditulis oleh Mohammed Mir, penelitian mengenai hantavirus mulai berkembang pasca berakhirnya Perang Korea pada periode 1951 hingga 1953. Namun, isolasi terhadap pasien yang terinfeksi baru berhasil dilakukan pada tahun 1978 melalui identifikasi hewan pengerat kecil jenis Apodemus agrarius.
Nama virus Hantaan sendiri diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan, yang menjadi lokasi penemuan awal virus pada tikus di sekitar area tersebut. Virus ini diyakini berkaitan erat dengan munculnya 3.000 kasus demam berdarah yang menyerang pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama masa peperangan berlangsung.
Pada tahun 1981, klasifikasi genus Hantavirus secara resmi diperkenalkan ke dalam famili Bunyaviridae sebagai penyebab penyakit demam berdarah dengan sindrom ginjal atau HFRS. Memasuki tahun 1993, ditemukan wabah baru di wilayah barat daya Amerika Serikat yang menyebabkan gangguan pernapasan berat yang kemudian dikenal sebagai hantavirus pulmonary syndrome atau HPS.
Sebaran Global Berdasarkan Tipe Virus
Pola persebaran hantavirus di berbagai penjuru dunia sangat bervariasi karena sangat bergantung pada tipe virus spesifik yang ada di wilayah tersebut. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa setiap jenis virus memiliki kecenderungan lokasi geografis yang berbeda-beda untuk berkembang biak.
| Tipe Virus | Wilayah Persebaran Utama |
|---|---|
| Virus Hantaan | Asia Timur (China, Korea) dan Rusia |
| Virus Puumala | Skandinavia, Eropa Barat, dan Rusia Bagian Barat |
| Virus Dobrava | Wilayah Balkan |
| Virus Saarema | Eropa Tengah dan Skandinavia |
| Virus Seoul | Tersebar di Seluruh Dunia |
| Virus Sin Nombre | Amerika Serikat dan Kanada |
| Virus Andes | Amerika Selatan (Khususnya Argentina dan Chili) |
Keberadaan Hantavirus di Indonesia Sejak 1980
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa hantavirus telah bersirkulasi di Indonesia selama puluhan tahun berdasarkan hasil studi komprehensif di berbagai kota besar. Penelitian tersebut menunjukkan angka seroprevalensi pada manusia mencapai 11,6 persen, yang berarti satu dari sepuluh orang di Indonesia berisiko pernah terpapar virus ini.
Pada populasi tikus yang bertindak sebagai reservoir utama, tingkat infeksi ditemukan berada pada kisaran antara 0 persen hingga mencapai angka 34 persen. Data statistik tersebut membuktikan bahwa virus ini aktif beredar di lingkungan masyarakat, terutama pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan hewan pengerat yang cukup tinggi.
Metode Penularan dan Kesulitan Deteksi Dini
Hantavirus dikenal cukup sulit dideteksi karena karakteristik gejalanya yang sangat menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah dengue, tifus, maupun leptospirosis. Proses penularannya terjadi melalui partikel debu yang telah terkontaminasi oleh kotoran, urine, feses, ataupun air liur dari tikus yang membawa virus tersebut.
Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan saat menghirup udara yang mengandung partikel tersebut, kontak dengan luka terbuka, atau menyentuh permukaan benda yang tercemar. Seseorang tidak harus digigit oleh tikus secara langsung untuk tertular, melainkan cukup dengan berada di lingkungan yang banyak terdapat sisa-sisa ekskresi hewan pengerat tersebut.
Statistik Kasus Hantavirus di Indonesia Hingga 2026
Kementerian Kesehatan mencatat telah ditemukan sebanyak 23 kasus hantavirus jenis Seoul dalam kurun waktu tiga tahun terakhir di wilayah Indonesia. Dari total kasus tersebut, terdapat laporan mengenai tiga orang pasien yang dinyatakan meninggal dunia akibat infeksi yang diderita oleh mereka.
Pada tahun 2026, tercatat adanya penambahan sebanyak lima kasus baru yang tersebar di beberapa provinsi mulai dari Pulau Sumatera hingga wilayah Nusa Tenggara. Sebaran kasus tersebut menunjukkan jangkauan geografis virus ini yang cukup luas dan memerlukan kewaspadaan lebih dari otoritas kesehatan masyarakat di daerah.
| Provinsi | Jumlah Kasus |
|---|---|
| Sumatera Barat | 1 Kasus |
| Banten | 1 Kasus |
| DKI Jakarta | 6 Kasus |
| Jawa Barat | 5 Kasus |
| Jawa Timur | 1 Kasus |
| DIY Yogyakarta | 6 Kasus |
| NTT | 1 Kasus |
| Kalimantan Barat | 1 Kasus |
| Sulawesi Utara | 1 Kasus |