Jejak Gang of Four, Penguasa Ekonomi RI Sebelum Era Sembilan Naga yang Mengejutkan 2026

Jejak Gang of Four, Penguasa Ekonomi RI Sebelum Era Sembilan Naga yang Mengejutkan 2026
Foto: Jejak Gang of Four, Penguasa Ekonomi RI Sebelum Era Sembilan Naga yang Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Istilah Sembilan Naga sering kali menghiasi berbagai diskusi mengenai kelompok konglomerat yang memiliki pengaruh luar biasa terhadap roda perekonomian di Indonesia. Namun, sebelum kelompok tersebut mendominasi perbincangan publik, terdapat sebuah aliansi pengusaha legendaris yang dikenal dengan julukan Gang of Four.

Kelompok ini tercatat sebagai pilar utama dunia usaha nasional selama era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Gang of Four terdiri dari empat pengusaha besar keturunan Tionghoa yang menjalin hubungan sangat erat dengan sang penguasa sejak awal pemerintahan Orde Baru.

Awal Mula Terbentuknya Aliansi Empat Sekawan

Sejarah terbentuknya Gang of Four bermula pada tahun 1968 ketika empat individu bertemu tanpa direncanakan sebelumnya. Mereka adalah Sudono Salim, Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto yang saat itu belum saling mengenal satu sama lain.

Pada masa itu, Sudono Salim dan Djuhar Sutanto sudah aktif berkecimpung di dunia perdagangan yang cukup kompetitif. Di sisi lain, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad masih menjalani karier mereka sebagai karyawan di perusahaan biasa sebelum akhirnya garis nasib mempertemukan mereka.

Kisah ini diawali dengan pertemuan antara Sudono Salim dan Sudwikatmono yang dipicu oleh kedekatan Salim dengan Soeharto sejak tahun 1960-an. Salim yang dikenal sebagai eksportir dan importir ulung sering kali dipanggil ke kediaman sang Jenderal di kawasan Menteng.

Secara kebetulan, Sudwikatmono yang merupakan sepupu Soeharto sedang bertugas menjaga rumah tersebut saat Salim berkunjung. Berdasarkan catatan Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku Liem Sioe Liong's Salim Group, Salim menghabiskan waktu satu jam berdiskusi dengan Soeharto.

Sesaat sebelum meninggalkan rumah tersebut, Salim secara mengejutkan meminta Sudwikatmono untuk menemuinya di kantor yang berlokasi di Jalan Asemka. Sudwikatmono menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan tokoh yang akrab disapa Om Liem tersebut keesokan harinya.

"Besoknya saya menemui Om Liem, dan dia meminta saya bergabung di bisnisnya karena Pak Harto yang menyarankan nama saya. Saya dijanjikan gaji Rp1 juta per bulan serta kepemilikan saham di perusahaan tersebut," kenang Sudwikatmono.

Penawaran tersebut tentu saja mengejutkan Sudwikatmono yang sebelumnya hanya seorang pegawai dengan penghasilan Rp400. Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan lonjakan pendapatan yang sangat drastis dan peluang kepemilikan bisnis.

Presiden Soeharto memiliki alasan strategis di balik penunjukan saudara sepupunya tersebut untuk mendampingi bisnis Sudono Salim. Saat itu, Salim belum menyandang status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sehingga mengalami kesulitan dalam mengakses pinjaman bank.

Kehadiran Sudwikatmono berfungsi sebagai jaminan sekaligus jembatan administratif agar bisnis tersebut dapat berjalan dengan lancar. Akhirnya, ia pun resmi bergabung dan memegang 10 persen saham di PT Hanurata, sebuah perusahaan yang bernaung di bawah yayasan milik Soeharto.

Ekspansi Bisnis dan Peresmian Gang of Four

Langkah selanjutnya dalam pembentukan kelompok ini terjadi setelah pecahnya kongsi di perusahaan bernama Kongsi Bintang Lima pada tahun 1966. Perusahaan tersebut diketahui memiliki kaitan erat dengan kepentingan militer yang melibatkan peran Presiden Soeharto di dalamnya.

Djuhar Sutanto, seorang pengusaha yang memegang peran vital di Bintang Lima, kemudian diperkenalkan kepada Sudono Salim oleh Soeharto. Keduanya ternyata memiliki kesamaan visi dan kecocokan yang kuat dalam menjalankan strategi bisnis mereka ke depan.

Dua tahun berselang, Salim dan Sudwikatmono melakukan pertemuan lanjutan dengan Djuhar Sutanto untuk memperkuat kerja sama. Salim dan Djuhar memutuskan untuk mengambil alih CV Waringin dan mengubah status hukumnya menjadi Perseroan Terbatas (PT).

Karena Salim dan Djuhar belum menjadi WNI, mereka membutuhkan nama warga lokal untuk keperluan administratif legalitas perusahaan tersebut. Nama Sudwikatmono dan seorang pegawai setia CV Waringin, Ibrahim Risjad, akhirnya digunakan sebagai representasi resmi perusahaan.

Daftar tokoh kunci yang membentuk aliansi ekonomi Gang of Four:

  • Sudono Salim (Liem Sioe Liong): Sosok pengusaha manufaktur dan ekspor-impor yang menjadi otak utama kelompok.
  • Djuhar Sutanto (Liem Seng Wee): Mitra strategis Salim yang memiliki keahlian dalam operasional perdagangan besar.
  • Sudwikatmono: Sepupu Presiden Soeharto yang berperan sebagai penjamin sekaligus wajah administratif lokal.
  • Ibrahim Risjad: Pegawai kepercayaan yang kemudian berkembang menjadi salah satu pilar utama bisnis kelompok ini.

Keempat tokoh inilah yang secara resmi membentuk entitas yang dikenal masyarakat luas sebagai Gang of Four. Fokus utama bisnis awal mereka melalui CV Waringin meliputi perdagangan komoditas kopi, produk primer, serta pengolahan karet remah di wilayah Sumatera.

Dominasi Pasar melalui Salim Group

Kejayaan kelompok ini semakin tidak terbendung ketika Sudono Salim dan Djuhar Sutanto akhirnya resmi menyandang status sebagai Warga Negara Indonesia. Dukungan politik dari Soeharto yang telah menjadi Presiden membuat bisnis mereka melaju sangat pesat di berbagai sektor.

Langkah besar pertama mereka dimulai dengan menguasai pasar komoditas tepung terigu melalui pendirian PT Bogasari. Ekspansi berlanjut saat keempatnya menyatukan kekuatan di bawah payung Salim Group dan menempati posisi-posisi strategis dalam manajemen perusahaan.

Berbagai merek raksasa yang lahir dari kolaborasi keempat pengusaha ini antara lain:

  • Sektor Pangan: Bogasari, Indomilk, dan Indofood yang menguasai kebutuhan pokok masyarakat.
  • Sektor Infrastruktur: Indocement yang menjadi pemain utama dalam industri bahan bangunan nasional.
  • Sektor Otomotif dan Ritel: Indomobil sebagai pemegang merek kendaraan dan Indomaret yang merajai jaringan minimarket.

Keberhasilan mereka menguasai pasar Indonesia tidak lepas dari posisi istimewa yang didapatkan berkat dukungan penuh dari pemerintahan saat itu. Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan di bawah bendera Salim Group tumbuh menjadi raksasa industri yang sulit tertandingi.

Seiring berjalannya waktu, masing-masing anggota Gang of Four juga mulai membangun imperium bisnis pribadi mereka secara mandiri. Meski memiliki lini bisnis sendiri, mereka tetap menjaga komitmen dan peran penting mereka dalam operasional inti di Salim Group.

Artikel terkait

Rekomendasi