Mengenal Sosok di Balik 'Saham Gorengan' yang Bikin Investor Boncos 2026

Mengenal Sosok di Balik 'Saham Gorengan' yang Bikin Investor Boncos 2026
Foto: Mengenal Sosok di Balik 'Saham Gorengan' yang Bikin Investor Boncos 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Istilah saham gorengan yang sering memicu kerugian besar bagi para investor ritel ternyata memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Praktik manipulasi pasar ini sudah eksis sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum era pasar modal modern seperti sekarang.

Pelopor dari fenomena ini adalah sebuah perusahaan asal Inggris bernama South Sea Company. Perusahaan tersebut menjadi aktor utama di balik salah satu gelembung ekonomi paling dramatis dalam catatan sejarah dunia.

Awal Mula Skema South Sea Company

Kisah ini bermula lebih dari tiga abad silam, tepatnya pada tahun 1720, ketika kondisi finansial Inggris sedang berada di titik nadir. Negara tersebut terjerat utang yang luar biasa besar akibat rangkaian peperangan panjang melawan kekuatan-kekuatan di Eropa.

Untuk mengatasi beban utang tersebut, pemerintah Inggris kemudian mendirikan South Sea Company. Perusahaan ini dirancang sebagai solusi untuk mengelola dan mengambil alih kewajiban utang negara yang kian membengkak.

Sebagai imbalan atas jasanya, pemerintah memberikan hak istimewa berupa monopoli perdagangan di wilayah Amerika Selatan. Kawasan tersebut saat itu dikenal sangat kaya akan sumber daya alam, mulai dari emas, perak, hingga rempah-rempah.

Banyak pihak meyakini bahwa perusahaan ini akan menjadi mesin uang raksasa melalui aktivitas perdagangan tersebut. Harapan besar masyarakat pun membumbung tinggi, seolah kesuksesan finansial sudah berada di depan mata.

Spekulasi Tanpa Fondasi yang Jelas

Sayangnya, realita yang terjadi di lapangan sangat bertolak belakang dengan harapan para investor. Meskipun menyandang status monopoli, aktivitas perdagangan South Sea Company sebenarnya tidak berjalan efektif dan jauh dari kata sukses.

Hambatan politik dan konflik bersenjata antara Inggris dan Spanyol menjadi penghalang utama bagi operasional perusahaan. Ironisnya, meski bisnis intinya tidak menunjukkan kemajuan berarti, harga saham perusahaan justru melonjak drastis di pasar modal.

Lonjakan harga tersebut didorong oleh spekulasi liar yang tidak didasari oleh kinerja fundamental perusahaan. Fenomena ini diperparah oleh dukungan pemerintah yang memberikan legitimasi kuat, sehingga menarik minat banyak kalangan untuk ikut berinvestasi.

Mulai dari rakyat jelata, anggota parlemen, kaum bangsawan, hingga Raja George I sendiri tercatat sebagai pemegang saham. Namun, ada satu informasi krusial yang sengaja disembunyikan oleh pengurus perusahaan dari publik.

Para petinggi tidak pernah menyampaikan bahwa wilayah perdagangan di Amerika Selatan sebenarnya masih dikuasai oleh Spanyol, bukan Inggris. Hal ini membuat peluang perusahaan untuk meraup keuntungan secara teori menjadi hampir mustahil untuk diwujudkan.

Manipulasi dan Teknik Pom-Pom Awal

Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan harga saham South Sea Company melambung tanpa kendali :

  • Ketakutan masyarakat akan kehilangan peluang emas atau sering disebut dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out).
  • Adanya keyakinan bahwa harga akan terus naik karena selalu ada pembeli berikutnya yang bersedia membayar lebih mahal.
  • Kurangnya transparansi mengenai kondisi geografis dan politik di wilayah operasional perusahaan.
  • Manipulasi informasi oleh para petinggi untuk mempertahankan antusiasme pasar yang semu.

Keadaan tersebut merupakan bentuk awal dari aksi "pom-pom" saham yang kita kenal saat ini. Namun, saat euforia melanda masyarakat, para petinggi perusahaan justru mulai melakukan langkah yang mencurigakan.

Secara diam-diam, mereka mulai melepas kepemilikan saham mereka dalam jumlah besar. Tindakan ini dilakukan karena mereka sadar betul bahwa fondasi bisnis perusahaan sangat rapuh dan janji keuntungan hanyalah isapan jempol semata.

Runtuhnya Kepercayaan dan Kerugian Massal

Kehancuran dimulai ketika sejumlah investor mulai mempertanyakan kejelasan sumber pendapatan asli perusahaan. Keraguan tersebut dengan cepat berubah menjadi kepanikan massal yang menjalar ke seluruh lapisan pemegang saham.

Akibatnya, harga saham terjun bebas dalam waktu singkat dan membuat pasar modal Inggris mengalami kolaps. Ribuan orang harus merelakan seluruh tabungan hidup mereka lenyap begitu saja akibat ambruknya harga saham tersebut.

Dampak sosial dan ekonomi dari tragedi keuangan ini sangat luas, antara lain :

Kategori Korban Dampak yang Dialami
Investor Ritel Kehilangan seluruh aset dan tabungan masa depan mereka.
Bangsawan & Pengusaha Mengalami kebangkrutan mendadak dan jatuh miskin dalam semalam.
Tokoh Terkenal Isaac Newton merugi besar meski sempat mencicipi keuntungan awal.
Pemerintah Inggris Kepercayaan publik terhadap otoritas negara dan pasar modal runtuh total.

Bagi Isaac Newton, kegagalan investasinya di South Sea Company memberikan pelajaran yang sangat membekas. Sang fisikawan jenius itu pun melontarkan kalimat terkenal bahwa ia mampu menghitung gerakan benda langit, namun tidak bisa menghitung kegilaan manusia.

Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh pemerintah kemudian mengungkap fakta yang sangat mengejutkan. Ditemukan adanya praktik suap, manipulasi pasar yang terstruktur, serta konflik kepentingan yang melibatkan banyak elite politik pada masa itu.

Sejumlah pejabat akhirnya dijatuhi hukuman atas keterlibatan mereka dalam skandal besar tersebut. Peristiwa pilu ini pun tercatat secara resmi sebagai praktik penggorengan saham pertama yang terdokumentasi dalam sejarah ekonomi dunia.

Meski sejarah kelam ini sudah terjadi berabad-abad yang lalu, pola serupa nyatanya masih sering berulang. Hingga saat ini, taktik memanipulasi harga saham demi keuntungan sepihak masih menjadi ancaman nyata bagi para investor yang kurang waspada.

Artikel terkait

Rekomendasi