Penyebab Raksasa Asing Rugi Besar, Nama Purbaya Disebut Jadi Biang Kerok Terkini 2026

Penyebab Raksasa Asing Rugi Besar, Nama Purbaya Disebut Jadi Biang Kerok Terkini 2026
Foto: Penyebab Raksasa Asing Rugi Besar, Nama Purbaya Disebut Jadi Biang Kerok Terkini 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya, ada sosok bangsawan dari Kesultanan Mataram yang menjadi ancaman besar bagi kepentingan asing. Sosok tersebut adalah Pangeran Purbaya, yang namanya dituding sebagai penyebab kerugian finansial masif bagi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Pangeran Purbaya merupakan putra dari Pakubuwana I sekaligus adik kandung Amangkurat IV. Berdasarkan catatan sejarawan M.C. Ricklefs, ia dikenal memiliki sikap yang sangat kontras dengan kakaknya dalam menghadapi pengaruh Belanda.

Jika Amangkurat IV memilih untuk menjalin kerja sama dengan VOC, Purbaya justru berdiri di barisan depan untuk menentang dominasi mereka. Penolakan ini bukan sekadar retorika, melainkan berkembang menjadi perlawanan fisik yang cukup merepotkan pihak asing.

Pada November 1719, Purbaya bersama Pangeran Blitar menggerakkan pemberontakan melawan kepemimpinan Amangkurat IV yang disokong penuh oleh VOC. Upaya perlawanan ini sempat memicu ketegangan hebat di lingkungan istana Mataram sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

VOC yang memiliki kekuatan militer lebih modern segera bertindak cepat untuk menghancurkan basis para pemberontak. Setelah bertahun-tahun berjuang, perlawanan tersebut akhirnya resmi berakhir pada pertengahan tahun 1723.

Pangeran Purbaya kemudian ditangkap dan sempat ditahan di Batavia oleh pihak VOC. Namun, penahanan tersebut ternyata tidak sedikit pun melunturkan rasa bencinya terhadap eksploitasi yang dilakukan perusahaan dagang tersebut.

Krisis Finansial VOC dan Beban Utang Mataram

Di balik ketegangan politik tersebut, kondisi internal VOC sebenarnya sedang berada di ujung tanduk karena mengalami kerugian besar. Biaya operasional yang membengkak akibat berbagai konflik di Nusantara membuat kas perusahaan tersebut terus terkuras habis.

Untuk menutupi kerugian, VOC membebankan biaya perang yang sangat tinggi kepada Kesultanan Mataram. Hal ini mengakibatkan utang kerajaan menumpuk drastis dan menekan stabilitas ekonomi di tanah Jawa.

Situasi menjadi semakin pelik ketika Pakubuwana II naik takhta pada usia 15 tahun setelah wafatnya Amangkurat IV pada 1726. Meskipun kas kerajaan sedang kosong, raja muda tersebut tetap berkomitmen untuk melunasi seluruh kewajiban kepada VOC.

Berikut adalah rincian kewajiban pembayaran tahunan yang harus ditanggung oleh Mataram kepada VOC:
Jenis Kewajiban Jumlah Satuan Lama Estimasi Nilai / Konversi
Bunga dan Utang 10.000 Real / Tahun Sekitar Rp180,95 Juta
Biaya Garnisun VOC 15.600 Real / Tahun Sekitar Rp282,28 Juta
Pasokan Beras 1.000 Koyan / Tahun 1.700 Metrik Ton (Selama 50 Tahun)

Data di atas menunjukkan betapa besarnya beban ekonomi yang harus dipikul oleh rakyat Mataram demi memenuhi ambisi finansial perusahaan asing. Nilai konversi tersebut merupakan estimasi jika dibandingkan dengan kurs mata uang modern saat ini.

Sabotase Ekonomi dan Tuduhan Terhadap Purbaya

Puncak perselisihan antara Purbaya dan VOC terjadi pada tahun 1735 akibat konflik kebijakan moneter. VOC secara sepihak menaikkan nilai mata uang mereka sebesar 25 persen untuk membalas kebijakan penurunan nilai uang yang dilakukan Mataram.

Namun, langkah provokatif VOC ini justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Masyarakat Jawa secara masif menolak untuk mengakui nilai baru mata uang asing tersebut dalam transaksi sehari-hari.

Akibat penolakan rakyat, daya beli para pegawai VOC merosot tajam dan memicu kekacauan ekonomi di wilayah Jawa. VOC pun mulai mencari "kambing hitam" untuk menyalahkan kegagalan kebijakan moneter yang mereka buat.

Berdasarkan laporan dari lawan-lawan politiknya, Pangeran Purbaya dituduh sebagai aktor intelektual di balik aksi boikot masyarakat. Ia dianggap telah menghasut rakyat agar tidak mematuhi aturan keuangan yang ditetapkan oleh VOC.

Anehnya, meski terus dituding sebagai biang kerok kerugian asing, pengaruh Purbaya di internal kerajaan justru semakin kuat. Pada tahun 1737, ia bahkan dipercaya untuk menduduki posisi strategis sebagai patih atau tangan kanan raja.

Sayangnya, kekuatan politik Purbaya mulai goyah setelah saudara perempuannya yang merupakan istri raja meninggal dunia. Kehilangan pelindung utama di istana membuat posisinya menjadi sangat rentan terhadap tekanan dari pihak luar.

VOC terus mendesak kerajaan agar menyerahkan Purbaya demi menghentikan pengaruhnya yang dianggap berbahaya bagi bisnis mereka. Akhirnya, di bawah tekanan politik yang luar biasa, Purbaya pun diserahkan kepada pihak Belanda.

Penangkapan ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi VOC karena berhasil menyingkirkan salah satu penghalang utama mereka. Untuk memastikan pengaruhnya benar-benar hilang, VOC memutuskan untuk membuang Pangeran Purbaya ke Sri Lanka.

Pengasingan ke luar negeri tersebut secara resmi mengakhiri perjalanan panjang sang pangeran dalam melawan dominasi ekonomi asing di tanah Jawa. Kisahnya tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah perlawanan bangsa terhadap eksploitasi perusahaan multinasional pertama di dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi