IHSG Terkerek 0,55% ke 6.353, Saham BBCA dan MORA Melonjak Tajam!

IHSG Terkerek 0,55% ke 6.353, Saham BBCA dan MORA Melonjak Tajam!
Foto: IHSG Terkerek 0,55% ke 6.353, Saham BBCA dan MORA Melonjak Tajam!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Kamis pagi (21/5/2026) dengan performa yang positif di zona hijau. Indeks komposit terpantau mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen yang membuatnya berada pada level 6.353,09 saat pasar baru saja dibuka.

Kenaikan ini didorong oleh penguatan sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar atau big caps, di antaranya adalah BBCA dan MORA. Berdasarkan data dari IDX Mobile pada pukul 09.03 WIB, indeks sudah berhasil menambah 34,59 poin dari posisi penutupan sebelumnya.

Pergerakan pasar pada awal sesi ini mencatat sebanyak 363 saham bergerak menguat, sementara 142 saham lainnya mengalami pelemahan harga. Selain itu, terdapat 454 saham yang posisinya tidak berubah atau stagnan dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Aktivitas transaksi di bursa terpantau cukup dinamis dengan volume perdagangan mencapai 1,39 miliar saham pada menit-menit awal. Total nilai transaksi yang tercatat oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah menyentuh angka sekitar Rp896 miliar.

Daftar Saham Pemicu Penguatan Indeks

Beberapa saham perbankan dan emiten besar lainnya menjadi mesin penggerak utama yang membuat IHSG melaju kencang di pagi hari. Kenaikan harga pada saham-saham ini memberikan optimisme bagi para pelaku pasar yang memantau pergerakan harga sejak pembukaan.

Rincian kenaikan harga saham-saham unggulan pada pembukaan perdagangan pagi ini adalah sebagai berikut:

  • BBCA (Bank Central Asia): Dibuka menguat 1,26 persen dan mencapai level harga Rp6.050 per lembar saham.
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Mengalami kenaikan tipis sebesar 0,33 persen menuju posisi harga Rp3.050.
  • BMRI (Bank Mandiri): Turut menguat sebesar 0,71 persen sehingga kini diperdagangkan di harga Rp4.260.
  • MORA (Mora Telematika Indonesia): Menjadi sorotan setelah melesat signifikan hingga 10,88 persen ke level Rp7.900.
  • ASII (Astra International): Mencatatkan kenaikan sebesar 0,42 persen yang membawanya ke harga Rp6.000.
  • AMMN (Amman Mineral Internasional): Tampil perkasa dengan penguatan 2,36 persen pada posisi harga Rp3.040.
  • BBNI (Bank Negara Indonesia): Bergerak naik 1,05 persen dan berada di level harga Rp3.840.
  • PANI (Pantai Indah Kapuk Dua): Mengawali hari dengan kenaikan 1,32 persen sehingga berada di harga Rp7.650.

Meskipun mayoritas saham big caps menguat, terdapat beberapa emiten besar yang justru mengalami tekanan jual dan terkoreksi. Saham-saham yang melemah ini antara lain BREN yang turun 5,02 persen ke Rp2.650, TLKM terkikis 0,32 persen ke Rp3.090, serta TPIA yang anjlok dalam hingga 12,03 persen ke Rp2.340.

Sentimen Utama dari Pidato Kepresidenan dan Bank Indonesia

Arah pergerakan pasar hari ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah kabar fundamental yang datang dari dalam negeri. Pidato Presiden Prabowo di hadapan DPR pada Rabu (20/5) menjadi salah satu katalis utama yang dicermati oleh para investor.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden memaparkan sejumlah asumsi dasar makroekonomi untuk RAPBN 2027 yang akan datang. Fokus pasar tertuju pada target pertumbuhan ekonomi yang dipasang pada rentang yang cukup optimistis serta kebijakan fiskal lainnya.

Beberapa poin krusial dalam asumsi makroekonomi 2027 yang disampaikan oleh Presiden Prabowo meliputi:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Dipatok pada target ambisius di kisaran angka 5,8 persen hingga 6,5 persen.
  • Defisit Anggaran: Pemerintah menargetkan defisit berada di level 1,8 persen sampai 2,4 persen dari PDB.
  • Inflasi dan Nilai Tukar: Inflasi dijaga pada 1,5-3,5 persen dengan kurs Rupiah di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
  • Suku Bunga: Target imbal hasil atau suku bunga SBN tenor 10 tahun diperkirakan berada di angka 6,5 persen sampai 7,3 persen.

Selain asumsi anggaran, kebijakan pemerintah mengenai pengelolaan ekspor komoditas sumber daya alam juga menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha. Presiden mengumumkan rencana kewajiban ekspor melalui satu pintu yakni BUMN yang ditunjuk khusus oleh pemerintah.

Kebijakan pengekspor tunggal ini rencananya akan menyasar komoditas strategis seperti batu bara, CPO (kelapa sawit), serta produk paduan besi. Langkah ini memicu spekulasi di pasar saham terkait dampaknya terhadap kinerja emiten komoditas ke depannya.

Analisis Teknis dan Proyeksi Pergerakan IHSG

Tim analis dari Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa IHSG akan bergerak pada rentang support 6.200 dan resistance di level 6.450 hari ini. Prediksi ini muncul setelah pada perdagangan kemarin, indeks ditutup melemah tipis sebesar 0,82 persen ke posisi 6.318.

Secara teknikal, indikator Stochastic RSI saat ini menunjukkan bahwa pasar sudah memasuki area jenuh jual atau oversold. Kondisi ini memberikan peluang bagi indeks untuk membentuk pola Golden Cross yang biasanya menjadi sinyal pembalikan arah menuju penguatan.

Namun, analis juga mengingatkan bahwa pelebaran histogram negatif pada indikator MACD masih terus berlanjut hingga saat ini. Oleh sebab itu, IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam rentang support 6.200-6.250 dan mencoba menembus resistance 6.400-6.450.

Berikut adalah ringkasan proyeksi level krusial IHSG untuk perdagangan hari ini berdasarkan analisis teknikal:

Kategori Level Rentang Nilai Keterangan Analisis
Level Support 6.200 - 6.250 Titik pertahanan bawah jika terjadi tekanan jual susulan.
Level Resistance 6.400 - 6.635 Target penguatan jika sentimen positif terus berlanjut.
BI Rate Terbaru 5,25% Kenaikan 50 bps untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase transisi dalam merespons kebijakan ekonomi yang baru diumumkan. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap dinamika pasar yang bisa berubah sewaktu-waktu akibat sentimen global maupun domestik.

Respons Pasar Terhadap Kenaikan BI Rate

Selain faktor pidato presiden, keputusan moneter dari Bank Indonesia juga menjadi kejutan bagi para pelaku pasar modal. Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, bank sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.

Kenaikan BI Rate tercatat sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen, sebuah angka yang melampaui ekspektasi mayoritas analis di level 5 persen. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menilai langkah agresif ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

Selain untuk memperkuat mata uang garuda, kenaikan suku bunga ini diharapkan dapat membendung potensi keluarnya modal asing (capital outflow) dalam jangka pendek. Pasar kini menantikan katalis lanjutan seperti data M2 Money Supply serta rilis risalah rapat FOMC dari The Fed.

Investor saat ini cenderung mengambil posisi "wait and see" sembari mencermati lebih dalam detail kebijakan ekspor satu pintu yang baru dicanangkan. Fokus perhatian ke depan juga akan tertuju pada data Current Account domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Disclaimer: Artikel ini disusun hanya sebagai informasi dan bukan merupakan perintah atau ajakan untuk melakukan transaksi jual beli saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca, dan segala risiko yang timbul bukan tanggung jawab redaksi.

Artikel terkait

Rekomendasi