Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi pertama hari Kamis, 21 Mei 2026. Meski sempat menunjukkan tren positif saat pembukaan, indeks justru berbalik arah dan jatuh cukup dalam.
Hingga pukul 10:03 WIB, IHSG tercatat merosot hingga 2,08 persen. Penurunan signifikan ini membawa posisi indeks terhempas ke level 6.187.
Rupiah Turut Tertekan di Hadapan Dolar AS
Kondisi pasar modal yang memerah juga diikuti oleh pelemahan nilai tukar mata uang Garuda. Rupiah terpantau mengalami depresiasi yang cukup terasa di pasar spot.
Nilai tukar Rupiah melemah sebesar 0,41 persen terhadap mata uang Amerika Serikat. Saat ini, posisi Rupiah berada di level Rp17.670 per Dolar AS.
Berikut adalah ringkasan data pergerakan pasar pada perdagangan sesi I :
| Indikator Pasar | Posisi/Nilai | Persentase Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 6.187 | Turun 2,08% |
| Kurs Rupiah | Rp17.670/USD | Melemah 0,41% |
Data di atas menunjukkan korelasi negatif antara pasar saham dan nilai tukar yang terjadi secara bersamaan. Penurunan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik dalam jangka pendek.
Isu Strategis BUMN dan Ekspor Komoditas
Selain fluktuasi pasar, perhatian publik juga tertuju pada kebijakan pemerintah terkait pengelolaan sumber daya alam. Muncul wacana mengenai pembentukan entitas BUMN baru yang fokus pada sektor tertentu.
Pemerintah dikabarkan tengah menyiapkan BUMN khusus untuk menangani ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kendali negara atas rantai pasok global.
Informasi selengkapnya mengenai dinamika pasar dan kebijakan strategis ini dibahas secara mendalam dalam program Profit di CNBC Indonesia. Laporan tersebut menyajikan analisis tajam mengenai penyebab utama anjloknya IHSG di tengah situasi ekonomi saat ini.