IHSG Hari Ini Melesat 1% Jelang Pidato Prabowo, Investor Borong Saham Terbaru!

IHSG Hari Ini Melesat 1% Jelang Pidato Prabowo, Investor Borong Saham Terbaru!
Foto: IHSG Hari Ini Melesat 1% Jelang Pidato Prabowo, Investor Borong Saham Terbaru!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pasar modal Indonesia menunjukkan pergerakan yang dinamis pada perdagangan Rabu pagi ini, tepatnya 20 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berhasil melakukan pembalikan arah yang cukup signifikan hingga melonjak ke zona hijau.

Kenaikan ini terjadi sesaat sebelum Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). IHSG terpantau melesat sebesar 1 persen dan menyentuh level 6.430,97.

Statistik Perdagangan Menjelang Pidato Presiden

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 382 saham tercatat mengalami penguatan harga. Sementara itu, 260 saham terpantau melemah dan 316 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan posisi.

Aktivitas perdagangan di bursa cukup bergairah dengan volume transaksi mencapai 7,92 miliar lembar saham. Nilai transaksi yang dibukukan hingga saat ini sudah menembus angka Rp4,83 triliun.

Frekuensi transaksi di pasar reguler tercatat sebanyak 615 ribu kali. Saham-saham perbankan besar dan sektor energi menjadi fokus utama investor pada sesi perdagangan pagi ini.

Daftar saham yang paling aktif diperdagangkan oleh investor pada hari ini meliputi:

  • BBCA (PT Bank Central Asia Tbk)
  • ASPR (PT Aman Sentosa Pratama Tbk)
  • BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk)
  • BUMI (PT Bumi Resources Tbk)
  • TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk)

Deretan saham tersebut mendominasi nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan saham-saham ini menjadi penggerak utama indeks setelah sempat terpuruk di pembukaan pasar.

Kilas Balik Pelemahan IHSG di Awal Sesi

Sebelum berhasil bangkit ke zona hijau, IHSG sebenarnya dibuka dengan performa yang kurang meyakinkan. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, indeks sempat melorot sebesar 0,29 persen atau turun 18,47 poin ke level 6.352,20.

Kondisi pasar saat itu didominasi oleh koreksi sebanyak 156 saham, sedangkan 146 saham menguat. Tercatat 314 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi awal hanya sebesar Rp158 miliar.

Tekanan jual di awal sesi membuat kapitalisasi pasar bursa sempat menyusut menjadi Rp11.079 triliun. Bahkan, sesaat setelah bel pembukaan berbunyi, pelemahan indeks sempat semakin dalam hingga merosot 1,35 persen.

Pelemahan tajam tersebut dipicu oleh sikap hati-hati para pelaku pasar yang menanti pengumuman penting dari bank sentral. Ketidakpastian mengenai kebijakan moneter domestik sempat membayangi sentimen beli investor.

Menanti Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia

Fokus utama pasar hari ini tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Keputusan tersebut dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu siang ini, 20 Mei 2026.

Agenda ini dianggap sangat krusial karena berkaitan erat dengan stabilitas nilai tukar rupiah. Saat ini, pasar keuangan domestik sedang berada di bawah tekanan berat akibat faktor eksternal.

Berdasarkan hasil survei yang melibatkan 15 lembaga keuangan, proyeksi terhadap BI Rate terbagi menjadi dua pandangan:

Jumlah Lembaga Proyeksi Kebijakan BI Rate Target Suku Bunga
9 Lembaga Memperkirakan Kenaikan (Hike) 5,00%
6 Lembaga Memperkirakan Tetap (Hold) 4,75%

Tabel di atas merangkum konsensus pasar terkait arah kebijakan moneter yang akan diambil BI siang ini. Mayoritas analis kini mulai memperhitungkan skenario kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Analisis Tekanan Nilai Tukar dan Faktor Global

Mayoritas pelaku pasar berpendapat bahwa ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga sudah semakin terbatas. Hal ini disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang terus menyentuh level terendah barunya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Ketegangan geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk ketidakpastian. Situasi ini berdampak langsung pada harga energi dunia yang tetap bertahan di level yang tinggi.

Kondisi minyak dunia yang mahal serta rupiah yang lemah meningkatkan risiko inflasi dari barang impor atau imported inflation. Jika terus berlanjut, hal ini akan mengganggu pemulihan ekonomi domestik dalam jangka panjang.

Selain pergerakan IHSG, tekanan pada pasar keuangan juga terlihat dari fluktuasi imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Investor cenderung mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti.

Sebagai informasi tambahan, pada RDG April 2026 lalu, BI memutuskan untuk menahan suku bunga di level 4,75 persen. Keputusan tersebut menandai ketujuh kalinya bank sentral mempertahankan tingkat bunga acuan secara berturut-turut.

Jika kenaikan terjadi siang ini, maka itu akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam periode dua tahun terakhir. Terakhir kali Bank Indonesia mengerek BI Rate adalah pada April 2024 dari level 6,00 persen menjadi 6,25 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi