Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan tertekan pada perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah mengalami penurunan 3,54% menjadi 6.094,91 pada penutupan Kamis (21/5/2026). Tim riset dari Phintraco Sekuritas menilai bahwa kurangnya katalis positif, serta derasnya sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, dapat membuat IHSG mengalami volatilitas kembali pada perdagangan esok hari.
Menurut tim riset, IHSG kemungkinan dapat menguji level psikologis 6.000 jika tekanan jual oleh investor asing dan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar terus berlanjut. "Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpeluang menguji level psikologis di 6.000. Support kuat berikutnya di level 5.882," demikian tulis tim riset pada Kamis (21/5/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, semua sektor ditutup di zona merah dengan tekanan terbesar dari sektor energi yang turun 6,91%. Ini dipicu oleh penurunan harga minyak mentah global dan kebijakan Menteri ESDM yang meminta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas untuk menyerahkan 10% hak partisipasi kepada pemerintah daerah.
Selain itu, pasar juga merespons negatif kebijakan pemerintah terkait ekspor CPO dan batu bara melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan mekanisme ekspor komoditas strategis.
Tekanan pada IHSG semakin berat setelah kenaikan BI Rate turut membebani saham-saham perbankan dan memperkuat sentimen risk off di pasar domestik. Isu margin call terkait saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) juga memburuk psikologis investor.
Di pasar mata uang, rupiah ditutup melemah 0,07% ke level Rp17.667 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap aset-aset domestik. Secara teknikal, analis menilai bahwa IHSG telah menutup gap di area 6.092. Namun, posisi ini dianggap masih rawan jika tekanan jual belum mereda.
Oleh karena itu, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan jika support di 6.000 ditembus, dengan area support berikutnya berada di sekitar 5.882. Investor disarankan mencermati pergerakan rupiah, arus dana asing, perkembangan kebijakan pemerintah terkait sektor komoditas, serta sentimen global yang terus menjadi penentu utama pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.