Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan hari Rabu (13/5/2026). Indeks kebanggaan bursa domestik ini merosot tajam hingga lebih dari 2 persen dalam satu hari saja.
Sentimen negatif menyelimuti pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil tinjauan indeks terbarunya. Keputusan MSCI untuk mengeluarkan sejumlah emiten besar asal Indonesia dari indeks global memicu aksi jual masif oleh investor.
Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang penutupan sesi kedua, IHSG terpantau anjlok 140 poin. Hal ini membuat indeks mendarat di level 6.718,99 atau terkoreksi sekitar 2,04 persen.
Rincian Pergerakan Saham dan Sektoral
Kondisi pasar terlihat cukup mengkhawatirkan dengan mayoritas saham yang diperdagangkan berakhir di zona merah. Tercatat sebanyak 437 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 252 saham yang mampu menguat.
Sebanyak 126 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak bergerak dari posisi sebelumnya. Aktivitas perdagangan berlangsung sangat padat dengan nilai transaksi menembus angka Rp16,22 triliun.
Volume saham yang berpindah tangan mencapai 34,25 miliar lembar saham melalui total 1,96 juta kali frekuensi transaksi. Dari sisi sektoral, hampir seluruh kategori mengalami pelemahan yang cukup signifikan.
Sektor infrastruktur, barang baku, teknologi, dan energi menjadi kontributor utama penurunan indeks hari ini. Di sisi lain, hanya sektor industri yang menunjukkan ketahanan dan berhasil menguat tipis di tengah badai koreksi.
Emiten Penekan Utama IHSG
Penurunan drastis IHSG tidak lepas dari jatuhnya harga saham-saham yang dicoret dari MSCI Global Standard Index serta MSCI Global Small Cap Index. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi beban terberat dengan menyumbang minus 14,89 poin terhadap indeks.
Posisi kedua ditempati oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang memberikan tekanan sebesar 13,98 poin. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga turut menyeret indeks dengan kontribusi negatif sebesar 11,07 poin.
Emiten lainnya seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) masing-masing menekan indeks sebesar 10,59 poin dan 4,2 poin. Berikut adalah ringkasan penurunan harga saham-saham unggulan tersebut:
Daftar emiten dengan penurunan harga paling tajam dalam perdagangan hari ini:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang ambles hingga 14,26 persen.
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan koreksi mencapai 11,30 persen.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang anjlok sebesar 11,11 persen.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melemah 10,30 persen.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan penurunan sebesar 8,31 persen.
Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh indeks MSCI terhadap kepercayaan investor institusi global di pasar modal Indonesia. Penjualan saham dalam jumlah besar tidak terhindarkan saat emiten keluar dari daftar referensi investasi tersebut.
Efek Domino pada Saham Small Cap
Tekanan jual ternyata tidak hanya menyasar saham-saham berkapitalisasi besar, namun juga merembet ke saham skala menengah. Sejumlah emiten yang terdepak dari indeks MSCI Global Small Cap juga ikut mengalami koreksi harga yang cukup dalam.
Saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) tercatat melemah hingga 7,14 persen, diikuti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang turun 5,26 persen. PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) juga terpangkas 4,71 persen, sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) terkoreksi 3,29 persen.
Daftar lengkap emiten yang resmi dikeluarkan oleh MSCI dari indeks global mereka:
| Kategori Indeks | Nama Emiten yang Dihapus |
|---|---|
| MSCI Global Standard Index | AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT |
| MSCI Global Small Cap Index | Terdapat 13 emiten asal Indonesia yang dicoret |
Data tersebut menunjukkan perubahan portofolio besar-besaran yang dilakukan oleh pengelola indeks Morgan Stanley. Langkah ini tentu berdampak langsung pada aliran modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia.
Potensi Outflow dan Kabar Emerging Market
CGS International Sekuritas Indonesia telah memberikan proyeksi terkait perombakan indeks MSCI kali ini. Mereka memperkirakan akan terjadi aliran modal keluar atau outflow pasif yang nilainya sangat fantastis.
Total dana asing yang berpotensi keluar diperkirakan mencapai US$ 1,8 miliar atau setara dengan Rp 31,49 triliun. Seluruh penyesuaian ini dijadwalkan akan berlaku efektif pada saat penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang.
Meski banyak saham yang keluar, terdapat setitik kabar baik bagi stabilitas pasar modal nasional. MSCI memutuskan untuk tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok negara emerging markets.
Sebelumnya sempat muncul kekhawatiran bahwa status Indonesia akan turun kelas menjadi frontier markets. Namun, pengumuman terbaru menempatkan Indonesia tetap sejajar dengan negara kuat lainnya seperti China, India, Korea, hingga Thailand.
Kondisi Regional dan Geopolitik Global
Pergerakan bursa di kawasan Asia secara umum menunjukkan tren yang bervariasi atau mixed. Indeks Taiwan menjadi yang terlemah dengan penurunan 1,02 persen, diikuti bursa China yang juga memerah.
Sebaliknya, beberapa bursa utama seperti Kospi Korea Selatan justru terbang tinggi dengan kenaikan 1,2 persen. Begitu pula dengan indeks Nikkei Jepang dan STI Singapura yang masih mampu menutup hari di zona hijau.
Di sisi lain, tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi psikologi pasar global. Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas terkait konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah tersebut.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak membutuhkan bantuan China untuk menyelesaikan ketegangan dengan Iran. Ia menyatakan komitmennya untuk mengakhiri konflik, baik melalui jalan perdamaian maupun cara-cara lainnya jika diperlukan.
Konflik ini menjadi krusial bagi ekonomi dunia karena melibatkan gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Wilayah perairan tersebut merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia setiap harinya.
Saat ini, Iran dikabarkan tengah memperkuat cengkeramannya di Selat Hormuz dengan menjalin aliansi strategis bersama Irak dan Pakistan. Mereka berupaya membangun jalur distribusi alternatif untuk menyalurkan minyak mentah dan gas alam cair (LNG).
Situasi semakin pelik karena Amerika Serikat menuntut Iran untuk segera menghentikan program nuklirnya tanpa syarat. Sementara itu, Teheran menuntut penghapusan sanksi ekonomi dan kompensasi perang sebagai syarat penghentian konflik di kawasan tersebut.