IHSG Anjlok 30 Persen YTD, Saham Murah Ini Mulai Banyak Dicari Investor 2026

IHSG Anjlok 30 Persen YTD, Saham Murah Ini Mulai Banyak Dicari Investor 2026
Foto: IHSG Anjlok 30 Persen YTD, Saham Murah Ini Mulai Banyak Dicari Investor 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot hingga hampir 30 persen sejak awal tahun mulai menarik perhatian pemodal lokal. Penurunan tajam ini terjadi setelah gelombang jual masif dan keluarnya dana asing dalam jumlah besar dari pasar modal tanah air.

Kondisi pasar saat ini dinilai telah menciptakan peluang bagi investor domestik untuk melakukan aksi beli selektif. Banyak saham unggulan kini diperdagangkan pada level harga yang jauh di bawah nilai wajarnya atau sangat murah.

Analisis Teknis dan Kondisi Jenuh Jual

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengamati bahwa posisi IHSG saat ini sudah masuk kategori jenuh jual ekstrem. Tekanan hebat yang dialami indeks dalam periode terakhir telah mendorong valuasi saham ke titik terendah.

Berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), mulai tampak adanya pola pembalikan arah positif. Hal ini terlihat setelah indeks berhasil menguji target teknikal tertentu yang menjadi batas bawah pergerakannya.

Nafan menjelaskan bahwa indikasi jenuh jual dan pola positif pada indikator RSI memberikan harapan baru bagi pelaku pasar. Menurutnya, fase pelemahan IHSG kemungkinan besar akan mulai terbatas dalam waktu dekat.

Munculnya sinyal teknikal tersebut membuka peluang terjadinya penguatan singkat atau technical rebound secara perlahan. Kondisi ini menjadi sinyal bagi investor untuk kembali mencermati pergerakan pasar saham domestik.

Potensi Akumulasi Saham oleh Investor Institusi

Anjloknya indeks saham pada perdagangan sebelumnya telah membuat harga berbagai emiten berada di level yang sangat terdiskon. Situasi ini diperkirakan akan memicu minat beli dari para pengelola dana besar di dalam negeri.

Investor institusi seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi diprediksi mulai melakukan akumulasi saham secara bertahap. Strategi pemanfaatan harga rendah ini sering disebut dengan istilah bottom fishing atau membeli di titik terendah.

Berikut adalah faktor pendorong aksi beli di pasar saham saat ini:

  • Valuasi Saham Murah: Banyak saham fundamental bagus yang kini berada di bawah harga normal akibat aksi jual panik.
  • Minat Institusi Lokal: Dana pensiun dan asuransi cenderung memanfaatkan momentum diskon untuk investasi jangka panjang.
  • Sinyal Rebound: Indikator teknikal menunjukkan tekanan jual sudah mulai mencapai titik jenuh.

Aksi beli selektif ini diharapkan mampu menopang stabilitas IHSG agar tidak merosot lebih dalam lagi. Penurunan harga akibat kepanikan pasar justru menjadi celah bagi investor jangka panjang untuk masuk ke pasar modal.

Ringkasan kondisi pasar modal terkini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Kondisi Pasar Keterangan Analisis
Kinerja IHSG YTD Mengalami penurunan hampir mencapai 30 persen.
Status Indikator RSI Menunjukkan pola positive divergence dan jenuh jual ekstrem.
Strategi Investor Melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing.
Target Pembelian Saham-saham yang masuk kategori deeply undervalued.

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun pasar sedang tertekan, terdapat peluang bagi pemodal domestik untuk mengoleksi aset berkualitas. Analisis ini memberikan gambaran bahwa potensi pemulihan indeks mulai terbuka di tengah harga yang sudah terkoreksi dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi