IHSG Anjlok 3,76% di Sesi I, Kapitalisasi Pasar Rp 482 Triliun Lenyap Seketika

IHSG Anjlok 3,76% di Sesi I, Kapitalisasi Pasar Rp 482 Triliun Lenyap Seketika
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3,76% di Sesi I, Kapitalisasi Pasar Rp 482 Triliun Lenyap Seketika.
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan sesi pertama hari Senin, 18 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi secara drastis sejak pembukaan pasar hingga jeda siang.

Berdasarkan data perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah di angka 6.398,79. Pada penutupan sesi 1, IHSG akhirnya terparkir di posisi 6.470,35 atau merosot sebesar 3,76 persen.

Kondisi pasar yang memburuk terlihat dari dominasi emiten yang terkoreksi hari ini. Sebanyak 715 saham tercatat melemah, sementara hanya 90 saham yang berhasil bertahan di zona hijau.

Aktivitas perdagangan melibatkan transaksi senilai Rp 11,94 triliun dengan volume 20,07 miliar saham. Penurunan tajam ini membuat nilai kapitalisasi pasar menyusut hingga Rp 482 triliun menjadi Rp 11.343 triliun.

Sektor Bahan Baku Pimpin Penurunan

Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa seluruh sektor sektoral terjerembab ke zona merah. Sektor bahan baku menjadi yang paling parah terdampak dengan penurunan mencapai 9,09 persen.

Sektor kesehatan dan konsumer nonprimer juga mengalami tekanan signifikan di bawahnya. Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi faktor utama yang menarik indeks ke bawah.

Daftar saham yang menjadi pemberat utama IHSG pada sesi pertama :
  • Amman Mineral (AMMN) menyumbang penurunan sebesar -16,71 poin.
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berkontribusi negatif sebanyak -14,11 poin.
  • Bank Central Asia (BBCA) turut membebani dengan penurunan -14,05 poin.

Kombinasi pelemahan saham-saham perbankan dan tambang ini membuat indeks sulit untuk bangkit. Investor tampak melakukan aksi jual masif di hampir seluruh lini sektor unggulan.

Penyebab Utama Pelemahan Indeks

Analis MNC Sekuritas, Herditya, menjelaskan bahwa konflik geopolitik global masih menjadi bayang-bayang hitam bagi pergerakan IHSG. Ketegangan dunia yang belum mereda memicu kenaikan harga minyak mentah.

Saat ini, harga minyak dunia telah melampaui US$ 100 per barel yang memicu kekhawatiran inflasi. Hal ini membuat investor cenderung beralih dari aset berisiko ke instrumen yang lebih aman.

Selain faktor global, nilai tukar Rupiah yang kian tertekan juga memperburuk sentimen pasar. Rupiah saat ini berada di level Rp 17.676 per dolar AS, sebuah posisi yang cukup memberatkan ekonomi domestik.

Tekanan semakin berat akibat keputusan MSCI yang merombak daftar indeks mereka. Setidaknya terdapat enam saham besar yang resmi didepak dari kategori MSCI Global Standard Index.

Daftar saham Indonesia yang keluar dari MSCI Global Standard Index :
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Tidak hanya itu, sebanyak 13 saham lainnya juga dicoret dari MSCI Global Small Cap Index. Kebijakan ini memicu kekhawatiran terjadinya aliran modal keluar (outflow) dalam skala besar.

Sentimen Negatif dari FTSE Russell

Sentimen negatif tidak hanya datang dari MSCI, tetapi juga dari penyedia indeks global lainnya, FTSE Russell. Mereka memberikan peringatan keras mengenai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

FTSE menegaskan akan mengeluarkan saham dari indeks jika otoritas bursa memberikan peringatan terkait konsentrasi kepemilikan. Saham yang hanya dikuasai segelintir pihak dinilai berisiko karena kurangnya likuiditas.

Pihak FTSE bahkan tidak segan untuk menghapus saham-saham yang terdampak pada nilai harga nol. Kebijakan ini diambil demi menjaga integritas indeks agar tetap mencerminkan kondisi pasar yang sehat.

Langkah ekstrem ini rencananya akan mulai efektif pada tinjauan periode Juni 2026 mendatang. Hal ini dilakukan karena investor institusi dikhawatirkan sulit menjual saham tersebut jika likuiditasnya macet.

Kekhawatiran ini membuat pelaku pasar lebih waspada terhadap saham-saham yang masuk dalam daftar pantauan khusus. Secara keseluruhan, kombinasi tekanan global dan kebijakan indeks luar negeri membuat bursa domestik mengalami hari yang berat.

Artikel terkait

Rekomendasi