Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Indeks domestik ini tersungkur hingga lebih dari 1% setelah pasar merespons negatif hasil tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menutup sesi pertama dengan penurunan drastis sebesar 124,36 poin atau menyusut 1,81%. Kondisi ini memaksa indeks parkir di level 6.734,54 setelah sebelumnya sempat bergerak lebih stabil.
Laju penurunan ini didominasi oleh 398 saham yang bergerak di zona merah, sementara 262 saham terpantau menguat dan 150 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Aktivitas perdagangan tergolong ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp10,28 triliun dari 26,13 miliar saham yang berpindah tangan.
Hampir seluruh sektor industri mengalami pelemahan, terutama sektor infrastruktur, barang baku, teknologi, dan energi yang terkoreksi paling dalam. Di tengah tren negatif ini, hanya sektor industri yang berhasil bertahan dan mencatatkan penguatan tipis.
Dampak Penghapusan Saham dari Indeks MSCI
Sentimen negatif utama dipicu oleh keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah emiten besar Indonesia dari daftar indeks global mereka. Saham-saham yang terdepak dari MSCI Global Standard Index menjadi beban terberat bagi pergerakan IHSG hari ini.
Daftar emiten yang memberikan tekanan terbesar terhadap indeks adalah sebagai berikut:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menyumbang penurunan sebesar 14,89 poin indeks.
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan kontribusi negatif sebesar 13,98 poin.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang membebani indeks hingga 11,07 poin.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan sumbangan pelemahan 10,59 poin.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang ikut menekan sebesar 4,2 poin.
Data di atas memperlihatkan bagaimana keluarnya emiten-emiten raksasa tersebut langsung memukul kepercayaan investor di pasar modal. Secara persentase, harga saham TPIA ambruk 14,26%, disusul AMMN yang anjlok 11,30%, serta CUAN yang merosot 11,11%.
Kondisi serupa dialami oleh saham-saham yang keluar dari kategori MSCI Global Small Cap Index. Beberapa di antaranya adalah PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) yang turun 7,14% dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang terkoreksi 5,26%.
Berikut adalah ringkasan emiten yang dihapus dari indeks bergengsi tersebut:
| Kategori Indeks | Daftar Emiten yang Dihapus |
|---|---|
| MSCI Global Standard Index | AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT |
| MSCI Global Small Cap Index | BANK, MIDI, BSDE, AALI, dan 9 emiten lainnya |
Tabel ini merangkum perombakan besar-besaran yang dilakukan MSCI terhadap saham-saham asal Indonesia. Perubahan komposisi ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang.
Proyeksi Aliran Modal Keluar dan Status Pasar
CGS International Sekuritas Indonesia memprediksi bahwa langkah penyeimbangan ulang atau rebalancing ini bisa memicu aliran modal keluar (outflow). Estimasi dana asing yang akan meninggalkan pasar mencapai US$1,8 miliar atau setara dengan Rp31,49 triliun.
Meski banyak saham yang keluar, MSCI memberikan kabar baik dengan tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging markets. Sebelumnya, sempat beredar kekhawatiran bahwa status Indonesia akan diturunkan menjadi frontier markets.
Keputusan resmi yang dirilis Selasa waktu Amerika Serikat memastikan Indonesia tetap sejajar dengan negara berkembang lainnya. Indonesia masih berada di kelompok yang sama dengan China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.
Kondisi Bursa Regional dan Situasi Global
Pasar saham di kawasan Asia terpantau bergerak variatif atau mixed di tengah sentimen global yang tidak menentu. Indeks Taiwan memimpin pelemahan dengan turun 1,02%, sementara bursa Korea Selatan (Kospi) justru menguat signifikan 1,2%.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik global turut memberikan bayang-bayang ketidakpastian pada pelaku pasar. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk menyelesaikan konflik dengan Iran tanpa memerlukan bantuan dari China.
Konflik yang memanas ini berisiko mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi 20% minyak dunia. Hingga saat ini, Washington tetap menuntut Iran menghentikan program nuklirnya serta membuka kembali akses di jalur perairan strategis tersebut.