Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Pasar Pantau Hasil Negosiasi AS-Iran Terbaru 2026

Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Pasar Pantau Hasil Negosiasi AS-Iran Terbaru 2026
Foto: Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Pasar Pantau Hasil Negosiasi AS-Iran Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga minyak mentah di pasar global mengalami penyusutan tipis pada sesi perdagangan Selasa (2/6/2026). Penurunan ini terjadi setelah sempat muncul kenaikan harga yang cukup signifikan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh suasana ketidakpastian yang menyelimuti proses negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Para pelaku pasar masih menunggu kepastian hasil diskusi tersebut yang hingga kini belum menemui titik terang secara nyata.

Berdasarkan data dari CNBC International, harga minyak mentah jenis Brent tercatat merosot sebesar 53 sen atau setara dengan 0,56 persen. Dengan koreksi tersebut, harga Brent kini berada di posisi US$94,45 per barel.

Situasi serupa juga dialami oleh minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat yang turun sebesar 56 sen atau 0,61 persen. Penurunan ini membawa harga WTI parkir di level US$91,60 per barel pada perdagangan hari ini.

Padahal, kedua kontrak minyak acuan dunia ini sempat mengalami lonjakan harga hingga lebih dari 5 persen pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh harapan besar pasar terhadap stabilitas di kawasan Timur Tengah yang sangat krusial bagi pasokan energi global.

Sepanjang bulan Mei, harga minyak sebenarnya sudah mencatatkan penurunan bulanan yang cukup dalam, yakni lebih dari 16 persen. Hal ini didorong oleh sentimen positif pasar yang semula optimis bahwa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran bisa segera tercapai.

Dinamika harga saat ini terus berfluktuasi mengikuti kabar terbaru mengenai kemajuan negosiasi antara kedua negara tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat menyampaikan pernyataan pada Senin (1/6/2026) bahwa pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung.

Namun, di sisi lain, kantor berita Tasnim sempat melaporkan informasi yang kontradiktif mengenai situasi ini. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak Teheran telah memutuskan untuk menangguhkan perundingan tidak langsung mereka dengan pihak Washington.

Priyanka Sachdeva, yang menjabat sebagai Analis Pasar Senior di Phillip Nova, menjelaskan bahwa pasar sebelumnya sangat berharap ketidakpastian ini mereda. Harapan tersebut muncul seiring dengan adanya peluang untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.

Sayangnya, hingga pagi ini belum ditemukan adanya perkembangan signifikan yang mampu memberikan arah baru bagi pergerakan pasar minyak. Akibatnya, sentimen pasar cenderung masih tertahan dan bergerak sangat hati-hati merespons setiap kabar yang muncul.

Poin-poin penting terkait kondisi pasar minyak global saat ini :

  • Ketidakpastian hasil negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran menjadi motor utama penggerak harga di pasar global.
  • Adanya pernyataan kontradiktif antara Presiden Donald Trump dengan laporan media lokal di Teheran mengenai status perundingan.
  • Terjadinya lonjakan ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat guna menutupi kekurangan pasokan yang berasal dari wilayah Timur Tengah.
  • Pasar masih menaruh perhatian penuh terhadap keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker internasional.

Pernyataan ini menyoroti bagaimana persepsi risiko di pasar energi masih sangat bergantung pada stabilitas politik internasional. Jika negosiasi gagal, premi risiko kemungkinan besar akan tetap tinggi dan menjaga harga minyak di level yang panas.

Donald Trump sendiri sempat melontarkan pernyataan yang cukup berani dengan mengatakan ia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir tanpa hasil. Namun, tak lama berselang, melalui media sosial ia menegaskan bahwa proses negosiasi sebenarnya masih tetap berjalan.

Trump juga menyampaikan ekspektasinya kepada ABC News mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan baru dalam waktu dekat. Ia berharap kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz dapat terwujud dalam sepekan ke depan.

Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, berpendapat bahwa fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada kemajuan konkret di lapangan. Pasar ingin melihat apakah ada langkah nyata menuju perdamaian atau justru terjadi kemunduran yang berisiko memperburuk keadaan.

Selain itu, para pengamat pasar juga sangat waspada terhadap setiap pernyataan dari kedua belah pihak terkait ancaman penutupan Selat Hormuz. Jalur ini sangat vital karena merupakan akses utama bagi lalu lintas kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas dunia.

Arah kebijakan yang diambil Washington dan Teheran nantinya akan menjadi penentu apakah premi risiko akan menetap atau mulai melandai. Sentimen ini sangat menentukan stabilitas biaya energi bagi industri dan konsumen di seluruh belahan dunia.

Sementara itu, dari Lebanon muncul kabar mengenai pengumuman gencatan senjata parsial antara kelompok Hizbullah dan Israel pada Senin lalu. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi terbatas untuk meredam perluasan dampak konflik besar di kawasan tersebut.

Perlu diketahui bahwa sejak konflik pecah, Iran secara efektif telah menghentikan hampir seluruh aktivitas pelayaran non-Iran di Teluk Persia. Blokade ini menghambat sekitar seperlima dari total arus perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) di seluruh dunia.

Kondisi gangguan pasokan di Timur Tengah ini justru berdampak pada meningkatnya peran Amerika Serikat sebagai pemasok alternatif. Ekspor minyak mentah dari Negeri Paman Sam tersebut melonjak hingga mencapai rekor tertinggi sebesar 5,6 juta barel per hari pada Mei lalu.

Berikut adalah ringkasan data pergerakan harga dan estimasi pasokan minyak :

Indikator Pasar Keterangan / Nilai
Harga Minyak Brent US$94,45 per barel (Turun 0,56%)
Harga Minyak WTI US$91,60 per barel (Turun 0,61%)
Ekspor Minyak AS (Mei) Rekor 5,6 Juta Barel per Hari
Estimasi Stok AS Diprediksi Turun 3,6 Juta Barel

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun harga sedang terkoreksi tipis, fundamental pasar masih menunjukkan adanya tekanan pada sisi pasokan. Permintaan dari kilang-kilang di Asia dan Eropa terus meningkat tajam untuk menggantikan pasokan yang terhambat dari Timur Tengah.

Persediaan minyak mentah di Amerika Serikat sendiri diperkirakan akan menyusut sekitar 3,6 juta barel untuk periode pekan yang berakhir 29 Mei 2026. Tren penurunan stok ini diprediksi juga akan terjadi pada produk olahan lainnya seperti bensin dan bahan bakar sulingan.

Dalam sebuah pertemuan industri di Athena, para eksekutif perusahaan pelayaran menekankan pentingnya kepastian hukum dalam setiap kesepakatan damai. Mereka membutuhkan aturan yang jelas agar kapal-kapal tanker dapat kembali beroperasi secara normal tanpa gangguan di Selat Hormuz.

Dengan demikian, masa depan harga minyak global dalam beberapa waktu ke depan akan sangat ditentukan oleh meja diplomasi. Selama belum ada hitam di atas putih, volatilitas harga diperkirakan masih akan terus menghantui pasar energi internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi