Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen, Imbas Negosiasi AS-Iran Berjalan Lambat Terbaru 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen, Imbas Negosiasi AS-Iran Berjalan Lambat Terbaru 2026
Foto: Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen, Imbas Negosiasi AS-Iran Berjalan Lambat Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tren kenaikan harga minyak mentah dunia masih berlanjut hingga Rabu (3/6/2026) sore. Lonjakan ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik dan ketidakpastian negosiasi internasional.

Minyak mentah jenis Brent berjangka tercatat mengalami kenaikan sebesar 2,3 dollar AS atau sekitar 2,4 persen. Saat ini, harga Brent berada di level 98,30 dollar AS per barel berdasarkan data pada pukul 15.41 WIB.

Kondisi serupa juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat. Harga WTI merangkak naik 2,34 dollar AS atau sekitar 2,5 persen hingga mencapai posisi 96,10 dollar AS per barel.

Dampak Ketegangan Militer AS dan Iran

Melambatnya proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang mengerek harga minyak. Situasi semakin keruh menyusul serangan militer AS ke Pulau Qeshm yang baru-baru ini terjadi.

Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal balistik yang menyasar kawasan Kuwait dan Bahrain. Aksi saling balas ini merusak momentum perdamaian yang sebelumnya sempat diantisipasi oleh pelaku pasar global.

Analis senior dari LSEG, Emril Jamil, menjelaskan bahwa macetnya perundingan ini memberikan risiko tambahan pada harga acuan minyak. Peringatan dari badan energi internasional terkait rendahnya stok global juga memperparah kondisi tersebut.

Berikut adalah ringkasan rincian harga minyak mentah terbaru di pasar global:

Jenis Minyak Mentah Harga (USD) Kenaikan (%) Estimasi Harga (Rupiah)
Brent Berjangka 98,30 USD 2,4% Rp 1,76 Juta
WTI (Amerika Serikat) 96,10 USD 2,5% Rp 1,72 Juta

Tabel di atas menunjukkan lonjakan harga signifikan pada dua jenis minyak acuan dunia di tengah meningkatnya tensi konflik. Data ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi di masa mendatang.

Ancaman Krisis Stok dan Kekhawatiran Investor

Badan Energi Internasional (IEA) telah mengeluarkan peringatan keras mengenai ketersediaan cadangan minyak bumi. Mereka memprediksi stok global terancam masuk ke fase kritis saat musim panas mencapai puncaknya nanti.

Kelangkaan pasokan ini dikhawatirkan akan menghambat stabilitas ekonomi dunia secara menyeluruh. Jika stok tidak segera mencukupi, dampak negatifnya akan dirasakan langsung oleh berbagai sektor industri global.

Para investor kini mulai merasa cemas jika konflik fisik terus berlanjut tanpa ada kepastian solusi. Kekhawatiran utama terletak pada potensi gangguan jalur pelayaran penting yang bisa menghambat distribusi bahan bakar minyak.

Berdasarkan laporan The Sunday Guardian, banyak pedagang kini menjadikan minyak mentah sebagai instrumen lindung nilai. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan yang lebih parah di kemudian hari.

Pudarnya Harapan Diplomasi

Ketegangan yang terjadi di wilayah Teluk Arab memaksa investor untuk lebih cermat dalam memantau aset mereka. Pergerakan mata uang dan ekuitas global saat ini dinilai sangat rentan terhadap isu keamanan energi.

Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, menyampaikan pandangan pesimis terkait peluang keberhasilan negosiasi diplomatik. Menurutnya, rasa saling curiga yang tinggi di antara kedua belah pihak menghambat tercapainya kesepakatan.

Situasi saat ini dianggap jauh lebih genting dibandingkan masa-masa awal perundingan dimulai. Ruang untuk mencari titik temu semakin sempit, sehingga banyak pelaku pasar mulai menarik kembali taruhan mereka.

Dampak dari kebuntuan konflik AS-Iran ini diperkirakan tidak hanya terbatas pada sektor energi saja. Fluktuasi harga minyak ini juga diprediksi akan memengaruhi nilai tukar mata uang di berbagai negara dan menciptakan ketidakpastian global.

Artikel terkait

Rekomendasi