Pasar keuangan dunia dikejutkan dengan pergerakan harga minyak mentah yang mengalami penurunan cukup dalam pada pembukaan perdagangan pekan ini. Komoditas energi tersebut dilaporkan merosot hingga ke titik terendah dalam dua pekan terakhir.
Harga minyak dunia saat ini telah menembus ke bawah level psikologis USD100 per barel. Kondisi ini dipicu oleh munculnya harapan baru mengenai potensi kesepakatan damai yang berkaitan dengan pembukaan kembali akses di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan energi paling vital di dunia yang sempat terganggu akibat konflik. Kabar mengenai peluang dibukanya kembali jalur ini memberikan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi global.
Dampak pergerakan harga minyak terhadap pasar keuangan global :
- Melemahnya nilai tukar Dolar AS yang sebelumnya menguat tajam selama berbulan-bulan akibat ketegangan perang.
- Meningkatnya optimisme pelaku pasar di kawasan Asia terkait prospek pemulihan ekonomi.
- Munculnya harapan baru bahwa tekanan inflasi global yang dipicu harga energi akan segera mereda dalam waktu dekat.
Para investor dan pelaku ekonomi kini mulai merasa lebih tenang seiring dengan meredanya ketegangan di sektor energi. Penurunan harga ini diharapkan dapat menekan biaya produksi dan distribusi di berbagai negara.
Rincian Penurunan Harga Minyak Brent dan WTI
Berdasarkan data perdagangan komoditas pada Senin, 25 Mei 2026, dua acuan utama minyak dunia mencatatkan koreksi tajam. Penurunan harga secara serentak ini menyentuh angka hampir 5% dalam satu sesi perdagangan saja.
Minyak mentah jenis Brent yang menjadi standar harga internasional mengalami kemerosotan sebesar USD4,71. Penurunan sekitar 4,55% tersebut membawa Brent kini bertengger di level USD98,83 per barel.
Berikut adalah rincian angka perdagangan minyak mentah terbaru :
| Jenis Minyak Mentah | Nilai Penurunan | Persentase Koreksi | Harga Terkini (per Barel) |
|---|---|---|---|
| Minyak Brent (Global) | USD4,71 | 4,55% | USD98,83 |
| Minyak WTI (Amerika Serikat) | USD4,57 | 4,73% | USD92,03 |
Data di atas menunjukkan bahwa tekanan jual di pasar minyak cukup masif setelah isu perdamaian mulai berhembus. Penurunan pada minyak WTI bahkan lebih dalam secara persentase dibandingkan dengan Brent.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat terpantau anjlok sebesar USD4,57 atau setara dengan 4,73%. Saat ini, harga WTI berada di posisi USD92,03 per barel, menjauhi level tertinggi sebelumnya.
Kondisi pasar yang bergerak liar ini menjadi sinyal penting bagi kebijakan moneter di berbagai negara. Jika tren penurunan berlanjut, beban subsidi energi dan biaya logistik global diprediksi akan jauh lebih ringan.