Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Puncak 2026, Ini Kabar Mengejutkan Terkini

Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Puncak 2026, Ini Kabar Mengejutkan Terkini
Foto: Harga Minyak Dunia Anjlok 20% dari Puncak 2026, Ini Kabar Mengejutkan Terkini. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga minyak dunia turun signifikan sekitar 20% tahun ini, sejalan dengan meningkatnya optimisme terhadap gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Berdasarkan laporan dari CNBC International pada Sabtu (30/5/2026), harga minyak mentah Brent mengalami penurunan 1,2%, menjadi US$92,56 per barel pada hari Jumat di akhir Mei 2026.

Minyak Brent, sebagai acuan internasional, turun hampir 19% selama Mei, menjadikannya penurunan bulanan terdalam sejak pandemi Covid-19. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dari AS turun 16,5% bulan ini, diperdagangkan lebih lemah 1,9%, mencapai US$87,18 per barel.

Peristiwa kenaikan harga terjadi karena konflik yang dimulai pada 28 Februari, menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur kunci yang menghubungkan Iran dan Oman, mempengaruhi 20% distribusi energi dunia. AS dan Iran telah menyepakati sebagian besar poin dalam nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata, namun masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.

Meski potensi perdamaian meningkat, serangan militer tetap berlanjut pada hari Kamis. Pasukan Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik menuju Kuwait dan mengirim drone menyerang ke arah Selat Hormuz. UBS mencatat tak banyak bukti perbaikan jangka pendek di lalu lintas kapal dan arus energi di Teluk.

Analis UBS, dipimpin oleh Henri Patricot, menyebutkan bahwa level pemuatan minyak mentah masih rendah, dengan Iran memuat kurang dari 300.000 barel per hari pada Mei, turun drastis dari rata-rata 1,5 juta barel per hari pada April dan 1,7 juta barel per hari pada Maret.

Meskipun terdapat skeptisisme investor, Bob Parker dari International Capital Markets Association memprediksi harga minyak akan bertahan di kisaran US$90 hingga US$100 per barel. Ia menjelaskan bahwa walau Selat Hormuz dibuka kembali, kemungkinan pembukaan hanya sementara.

Perang sudah menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur energi di Teluk, seperti kilang dan pipa. Selain itu, keamanan lalu lintas tanker dan menurunnya pasokan minyak menjadi hal yang masih menghambat pemulihan energi global.

Artikel terkait

Rekomendasi