Harga Emas Hari Ini Anjlok Efek Inflasi AS, Konflik Iran Picu Kejutan Baru 2026

Harga Emas Hari Ini Anjlok Efek Inflasi AS, Konflik Iran Picu Kejutan Baru 2026
Foto: Harga Emas Hari Ini Anjlok Efek Inflasi AS, Konflik Iran Picu Kejutan Baru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Harga emas dunia mengalami koreksi cukup tajam hingga lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026) waktu setempat.

Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Tekanan Geopolitik dan Kenaikan Harga Minyak

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak setelah militer AS melancarkan serangan terbaru ke wilayah tersebut.

Aksi militer ini seketika memudarkan harapan damai atas konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Dampak langsung dari ketegangan tersebut adalah lonjakan harga minyak Brent yang naik signifikan hingga lebih dari 4 persen.

Ketidakpastian pengiriman energi melalui Selat Hormuz menjadi alasan utama di balik meroketnya harga minyak mentah dunia.

Para produsen diperkirakan bakal membebankan kenaikan biaya energi ini kepada konsumen, yang pada akhirnya memicu laju inflasi global.

Data Harga Emas Terbaru

Berikut adalah rincian pergerakan harga emas dunia yang tercatat pada perdagangan terbaru di pasar spot dan berjangka:

Jenis Kontrak Emas Harga Penutupan Persentase Perubahan
Emas Spot 4.511,23 dollar AS per ons Turun 1,3%
Emas Berjangka (Kontrak Juni) 4.513,90 dollar AS per ons Turun 0,2%

Data di atas menunjukkan pelemahan yang konsisten baik di pasar fisik maupun pasar kontrak berjangka Amerika Serikat.

Perubahan Arah Kebijakan The Fed

Pasar obligasi Amerika Serikat kini mulai mengantisipasi langkah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang diprediksi akan menaikkan suku bunga.

Ekspektasi ini bergeser dari rencana awal yang sebelumnya memperkirakan adanya pelonggaran atau penurunan suku bunga acuan.

Poin penting terkait sentimen pasar emas saat ini:

  • Pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter.
  • Pasar memprediksi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin akan dilakukan pada Desember mendatang.
  • Secara teknikal, indikator pergerakan harga emas jangka pendek masih menunjukkan tren penurunan atau bearish.
  • Emas tidak memberikan imbal hasil langsung, sehingga daya tariknya berkurang saat suku bunga sedang tinggi.

Kombinasi antara kebijakan moneter yang ketat dan tekanan jual teknikal menjadi faktor utama yang membebani harga logam mulia.

Dampak Terhadap Investasi Logam Mulia

Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebutkan bahwa situasi ini menjadi sinyal negatif bagi para investor emas.

Meskipun emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga yang agresif tetap menjadi hambatan besar.

Kenaikan biaya pinjaman cenderung mendorong pelaku pasar beralih ke instrumen investasi lain yang menawarkan keuntungan bunga tetap.

Dengan kondisi geopolitik yang masih tidak menentu, fluktuasi harga diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi