Munculnya wabah virus Andes yang merupakan jenis hantavirus langka di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran global karena kemampuannya menular antarmanusia melalui kontak fisik yang sangat dekat. Sejumlah negara kini tengah bekerja keras melacak para penumpang yang sempat berada di dalam kapal tersebut guna mencegah penyebaran virus yang telah merenggut tiga nyawa tersebut.
Upaya pelacakan ini difokuskan kepada para penumpang yang telah turun dari kapal sebelum keberadaan virus terdeteksi, termasuk individu yang sempat berinteraksi langsung dengan pasien terinfeksi. Hingga tanggal 7 Mei 2026, tercatat tiga orang meninggal dunia yang terdiri dari sepasang suami istri asal Belanda serta satu warga negara Jerman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa lima dari delapan orang yang diduga terjangkit hantavirus dari kapal tersebut kini telah dinyatakan positif berdasarkan hasil uji laboratorium. Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan pihaknya terus menerima laporan kasus suspek baru dan memperingatkan bahwa jumlah pasien kemungkinan besar akan bertambah akibat masa inkubasi virus yang cukup lama.
Operator kapal telah menghubungi seluruh penumpang yang turun di St Helena pada 24 April lalu guna memastikan kondisi kesehatan mereka secara menyeluruh. Para penumpang tersebut tersebar di setidaknya 12 negara yang berbeda, termasuk di antaranya tujuh warga negara Inggris dan enam warga negara Amerika Serikat.
Kewaspadaan Global dan Pelacakan Penumpang
Meskipun para ahli kesehatan berpendapat bahwa penularan hantavirus antarmanusia merupakan kejadian yang sangat langka, otoritas kesehatan di berbagai negara tetap meningkatkan status kewaspadaan sejak kasus pertama terdeteksi awal Mei. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) menilai risiko penularan bagi masyarakat umum di Amerika Serikat masih rendah, namun mereka tetap melakukan pemantauan situasi secara intensif.
Di wilayah Georgia, pihak berwenang tengah mengawasi dua warga tanpa gejala yang baru saja kembali ke rumah setelah melakukan perjalanan dengan kapal pesiar tersebut. Sementara itu di Arizona dan California, sejumlah warga yang teridentifikasi sebagai mantan penumpang MV Hondius juga masuk dalam daftar pengawasan ketat otoritas medis setempat.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, mengonfirmasi adanya satu warga negaranya yang sempat melakukan kontak dengan pasien positif meskipun saat ini belum menunjukkan gejala klinis. Di Argentina, Kementerian Kesehatan setempat berencana melakukan langkah preventif berupa penangkapan dan pemeriksaan populasi tikus di wilayah Ushuaia yang menjadi titik keberangkatan awal kapal.
Pada tanggal 6 Mei, sebanyak tiga pasien telah dievakuasi dari kapal pesiar tersebut untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut di daratan Eropa. Dua di antaranya kini sedang dirawat di Belanda, sedangkan satu orang lainnya dibawa ke Jerman untuk menjalani pemeriksaan kesehatan yang mendalam.
Seorang pemandu ekspedisi asal Inggris bernama Martin Anstee yang merupakan salah satu pasien menyatakan bahwa kondisi fisiknya saat ini masih cukup stabil dan baik-baik saja. Meski demikian, ia diwajibkan untuk mengikuti serangkaian tes medis lanjutan guna memastikan status kesehatannya benar-benar bersih dari paparan virus mematikan tersebut.
Kasus suspek lainnya muncul di Swiss di mana seorang pasien dilaporkan harus menjalani perawatan rumah sakit karena mengalami gejala demam ringan, nyeri otot, dan batuk yang mirip dengan infeksi hantavirus. Di Denmark, seorang warga yang sebelumnya berada di kapal telah diminta untuk melakukan isolasi mandiri meskipun yang bersangkutan dinilai hanya memiliki risiko penularan yang rendah.
Data dan Statistik Kasus Hantavirus MV Hondius
| Kategori Data | Detail Informasi |
|---|---|
| Jumlah Korban Meninggal | 3 Orang (2 Belanda, 1 Jerman) |
| Kasus Terkonfirmasi WHO | 5 Pasien Positif (dari 8 Suspek) |
| Jumlah Negara Terdampak | Minimal 12 Negara |
| Estimasi Kedatangan di Tenerife | 10 Mei 2026 |
Investigasi Riwayat Penularan dan Kondisi Terkini
Oceanwide Expeditions selaku operator kapal tengah berupaya keras menyisir seluruh data penumpang dan kru yang pernah naik maupun turun dari kapal sejak periode 20 Maret. Pasangan suami istri asal Belanda yang menjadi korban meninggal diketahui mulai menaiki kapal pada 1 April dan diduga kuat sebagai kasus pertama dalam rangkaian wabah ini.
Maskapai KLM Royal Dutch Airlines mengungkapkan bahwa wanita asal Belanda yang terinfeksi sempat terpaksa diturunkan dari pesawat di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 25 April karena kondisi fisiknya yang anjlok drastis. Nahas, ia menghembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan medis sebelum sempat mencapai tanah airnya di Belanda.
Media lokal RTL melaporkan bahwa seorang pramugari maskapai KLM yang sempat berinteraksi dengan pasien tersebut kini harus dirawat di sebuah rumah sakit di Amsterdam akibat munculnya gejala mencurigakan. Pihak berwenang Belanda juga mewajibkan pemeriksaan kesehatan harian bagi seluruh kru dan penumpang yang sempat memberikan bantuan medis kepada pasien selama di perjalanan.
Hingga saat ini, kapal MV Hondius dilaporkan masih melanjutkan pelayarannya menuju Tenerife dengan perkiraan waktu sandar pada tanggal 10 Mei mendatang. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) mengabarkan bahwa sejauh ini belum ditemukan adanya penumpang lain di atas kapal yang menunjukkan gejala klinis hantavirus yang baru.
Rencananya, sesampainya di Tenerife, seluruh penumpang sehat yang bukan merupakan warga negara Spanyol akan segera dipulangkan melalui jalur udara ke negara asal masing-masing. Adapun 14 orang warga negara Spanyol yang berada di kapal dijadwalkan akan menjalani prosedur karantina khusus di sebuah rumah sakit militer yang berlokasi di Madrid.
Virus Andes yang sedang mewabah ini kembali menjadi perhatian publik dunia karena statusnya sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang terbukti memiliki kemampuan transmisi antarmanusia. Wabah ini mengingatkan kembali pada risiko kesehatan di ruang tertutup seperti kapal pesiar yang sebelumnya pernah mencatatkan sejarah kematian 11 orang di wilayah Argentina.