Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi memperdengarkan sejumlah rekaman suara atau voice note milik almarhumah dr. Myta Aprilia Azmi (MAA) dalam agenda konferensi pers terkait hasil investigasi kematian dokter internship tersebut. Plt Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, memutar rekaman tersebut di hadapan media untuk memberikan gambaran kronologis medis saat dr. Myta berjuang melawan infeksi paru berat yang dialaminya di Jambi.
Berdasarkan laporan hasil investigasi, Rudi menjelaskan bahwa gejala sakit yang diderita dr. Myta pertama kali muncul saat ia sedang bertugas di stase IGD RSUD KH Daud Arief, Kuala Tungkal, Jambi pada 26 Maret 2026. Meskipun saat itu tubuhnya sudah mulai terserang gejala demam disertai batuk dan pilek, dr. Myta tetap memaksakan diri menjalankan kewajiban jaganya di unit gawat darurat sambil berupaya melakukan pengobatan secara mandiri.
Kondisi kesehatan dokter muda tersebut dilaporkan terus menurun hingga memasuki penghujung Maret 2026, di mana ia bahkan harus meminta bantuan untuk dipasang infus sesaat setelah menyelesaikan jadwal jaga malamnya. Rudi mengungkapkan fakta penting bahwa selama masa-masa kritis tersebut, dr. Myta ternyata sama sekali tidak memberikan laporan resmi mengenai penurunan kondisi fisiknya kepada dokter pendamping yang bertugas.
Dalam pertemuan di Kantor Kemenkes Jakarta Selatan tersebut, pihak kementerian juga membuka rekaman pesan suara yang dikirimkan dr. Myta kepada sesama rekan sejawat di program internship tersebut. Rekaman itu memperlihatkan betapa berat beban fisik yang dirasakan dr. Myta, yang saat itu mengeluhkan tingginya suhu tubuh serta gangguan pernapasan yang semakin mengkhawatirkan setiap harinya.
Momen Haru dalam Rekaman Suara
Fokus utama dalam pemaparan tersebut tertuju pada pesan suara yang dikirimkan pada tanggal 15 April pagi, di mana dr. Myta dengan suara lirih menyatakan ketidaksanggupannya untuk melanjutkan tugas. Rudi meminta izin untuk memperdengarkan audio tersebut karena di dalamnya terdengar jelas suara napas dr. Myta yang sudah sangat sesak saat ia mencoba berbicara dengan rekannya.
Dalam kutipan rekaman suara tersebut, dr. Myta terdengar memanggil rekannya bernama Astri untuk memohon bantuan agar jadwal dinas paginya bisa digantikan karena ia sudah merasa sangat lemah. "Aku mau minta tolong gantiin jadwal aku yang pagi ini, kalau misal kamu bisa hari ini saja, nanti yang malam biarlah Rena yang gantiin, kalau aku kayaknya enggak kuat, Astri," ucap dr. Myta dengan napas yang terputus-putus.
Permohonan tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah rekan sejawatnya yang berinisial dr. A menyetujui untuk mengambil alih tugas jaga di IGD menggantikan posisi dr. Myta yang kondisinya semakin kritis. Penjelasan ini menjadi penutup kronologi yang disampaikan oleh Rudi Supriatna untuk mengklarifikasi situasi kerja serta kondisi kesehatan almarhumah sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat komplikasi infeksi paru.