Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah berada dalam tekanan hebat hingga melampaui angka Rp18.000. Kondisi ini memicu reaksi keras dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mempertanyakan efektivitas langkah Bank Indonesia (BI).
DPR mendesak pemerintah bersama Bank Indonesia untuk segera memperkuat koordinasi kebijakan fiskal serta moneter. Langkah ini dinilai mendesak guna meredam gejolak pasar yang terus menggerus nilai mata uang garuda.
DPR Pertanyakan Strategi Operasi Moneter
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyoroti bahwa langkah intervensi dari Bank Indonesia saat ini belum terlihat memberikan dampak yang signifikan. Ia menilai pasar masih sangat fluktuatif meskipun BI seharusnya sudah memiliki pengalaman dalam menangani situasi serupa.
Cucun mempertanyakan sejauh mana operasi moneter telah dijalankan untuk menstabilkan rupiah. Menurutnya, pemahaman mengenai pola intervensi dari tahun ke tahun seharusnya bisa menjadi acuan dalam mengambil tindakan yang lebih nyata.
Politisi dari Fraksi PKB ini juga menekankan pentingnya konsolidasi segera antara otoritas moneter dan pemerintah. Hal ini bertujuan agar pergerakan rupiah tidak semakin liar dan menciptakan ketidakpastian ekonomi yang lebih luas.
Ia turut menyarankan agar Bank Indonesia tidak ragu menggunakan cadangan devisa negara jika jumlahnya masih dianggap mencukupi. Menurut Cucun, cadangan devisa yang kuat harus dimanfaatkan secara optimal untuk melakukan intervensi pasar.
Langkah Penguatan yang Diambil Bank Indonesia
Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan mengenai berbagai upaya yang telah dilakukan pihak bank sentral. Perry menyatakan bahwa pihaknya telah meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Beberapa kebijakan yang diterapkan Bank Indonesia meliputi:
- Meningkatkan imbal hasil pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik minat investor.
- Melakukan transaksi intervensi secara aktif di pasar spot guna menjaga ketersediaan likuiditas.
- Memaksimalkan transaksi Non-Delivery Forward (NDF) sebagai instrumen lindung nilai.
- Memperketat pengawasan terhadap transaksi valuta asing di pasar domestik.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa BI telah melakukan beragam manuver teknis di pasar keuangan. Langkah ini diambil untuk menahan laju pelemahan rupiah yang terjadi akibat tekanan eksternal maupun internal.
Pembatasan Transaksi Dolar Amerika
Selain instrumen pasar, Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan baru terkait pembatasan pembelian mata uang dolar AS. Kebijakan ini mulai diberlakukan secara efektif sejak Juni 2026 sebagai langkah preventif.
Detail pembatasan transaksi beli dolar AS tanpa underlying:
| Kategori Transaksi | Batas Maksimal Sebelumnya | Batas Maksimal Terbaru |
|---|---|---|
| Pembelian Dolar AS Tanpa Underlying | US$ 50.000 | US$ 25.000 |
Melalui aturan baru ini, BI memangkas kuota pembelian dolar tanpa dokumen pendukung (underlying) hingga separuh dari nilai sebelumnya. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir aksi spekulasi yang membebani nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, posisi rupiah sempat terpuruk ke level Rp17.057 per dolar AS pada sore hari ini. Secara akumulatif, mata uang kebanggaan Indonesia ini telah mencatatkan pelemahan lebih dari 8 persen sejak awal tahun.
Situasi ini terus dipantau secara ketat oleh berbagai pihak, mengingat dampaknya yang luas terhadap sektor industri dan harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Koordinasi antara BI dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini.