Dilema ESG Batu Bara 2026: Ketahanan Energi dan Beban Biaya Jadi Sorotan Utama

Dilema ESG Batu Bara 2026: Ketahanan Energi dan Beban Biaya Jadi Sorotan Utama
Foto: Dilema ESG Batu Bara 2026: Ketahanan Energi dan Beban Biaya Jadi Sorotan Utama. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
```html

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta transisi energi dalam sektor batu bara dinilai lebih rumit dibandingkan sektor industri lainnya. Selain harus memenuhi tuntutan untuk mengurangi emisi dan melindungi lingkungan, sektor ini juga dibebani tanggung jawab menjaga ketahanan energi nasional dan menghadapi peningkatan biaya operasional.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Bidang ESG & Good Mining Practice, Ignatius Wurwanto, menggambarkan situasi ini sebagai "trilema" dalam penerapan ESG di sektor batu bara. Menurutnya, situasi ini tidak hanya sekadar dilema tetapi trilema. Ada kebutuhan untuk menjaga ketahanan energi, tuntutan lingkungan, serta biaya yang harus dipenuhi.

Pernyataan tersebut disampaikan Wurwanto dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Implementasi ESG dan Transisi Energi di Sektor Batu Bara Indonesia, dikutip pada Selasa (26/5/2026). Dia menyatakan ada tiga tantangan yang harus dihadapi industri batu bara secara bersamaan.

Pertama, menjaga ketahanan energi agar pasokan energi untuk masa kini dan masa depan tetap terpenuhi. Kedua, melaksanakan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan guna mencegah dampak perubahan iklim.

Ketiga, memastikan bahwa perekonomian tetap berjalan seimbang yang memungkinkan penyediaan energi berbasis sumber daya alam dilakukan dengan biaya yang terjangkau. Menurut Wurwanto, penerapan ESG di sektor tambang tidak dapat disamakan dengan industri lain karena kompleksitas operasional dan regulasi yang lebih tinggi.

Perusahaan tambang harus mematuhi berbagai aturan teknis, lingkungan, keselamatan kerja, serta pengembangan masyarakat yang semuanya memerlukan biaya besar. "Masih banyak yang melihat ESG sebagai program atau kewajiban belaka, padahal sebenarnya harus berbasis pada risiko dan kesempatan," tambahnya.

APBI mencatat bahwa saat ini terdapat 93 anggota perusahaan tambang batu bara aktif yang menyuplai sekitar 66 persen produksi batu bara nasional. Namun, dari hampir 960 perusahaan tambang batu bara di Indonesia, tingkat pemahaman terhadap ESG dinilai masih sangat beraneka ragam.

Untuk mendorong implementasi ESG, APBI mengadopsi pendekatan Good Mining Practice (GMP) dengan memperkuat praktik operasional seperti konservasi, perlindungan lingkungan, keselamatan pertambangan, dan standarisasi teknis. Di sisi lain, ketidakpastian peraturan juga disebut sebagai tantangan yang serius bagi implementasi ESG di industri batu bara.

```

Artikel terkait

Rekomendasi