Pemerintah Amerika Serikat baru saja mengumumkan sebuah kesepakatan besar yang melibatkan sektor pertanian dengan China. Dalam kesepakatan ini, Beijing berkomitmen untuk memborong produk tani dari Negeri Paman Sam dengan nilai yang sangat fantastis.
China menyetujui pembelian produk pertanian senilai USD17 miliar atau sekitar Rp301 triliun setiap tahunnya. Komitmen perdagangan ini dijadwalkan akan terus berlangsung hingga tahun 2028 mendatang.
Hasil Konkret Kunjungan Kenegaraan di Beijing
Langkah ini menjadi pencapaian ekonomi paling nyata dari kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump selama dua hari di Beijing. Kesepakatan tersebut muncul di tengah kebuntuan berbagai isu geopolitik sensitif yang saat ini membayangi kedua negara.
Berdasarkan lembar fakta resmi dari Gedung Putih, perjanjian ini mencakup periode pembelian untuk tahun 2026, 2027, dan 2028. Dokumen tersebut juga menegaskan bahwa nilai ini tidak termasuk kesepakatan komoditas kedelai yang telah ditandatangani sebelumnya pada Oktober 2025.
Selain target nilai belanja yang besar, kedua negara juga menyepakati perbaikan regulasi operasional di lapangan. Berikut adalah poin-poin utama kerja sama sektor peternakan dan akses pasar yang telah disepakati:
Poin penting kesepakatan akses pasar produk hewani:
- Beijing akan bekerja sama dengan regulator Amerika Serikat untuk memulihkan akses penuh fasilitas pemrosesan daging sapi.
- Pembukaan kembali keran impor unggas dari wilayah-wilayah di AS yang sudah memiliki sertifikat bebas flu burung.
- Perpanjangan izin registrasi selama lima tahun bagi 425 fasilitas daging sapi Amerika Serikat yang sempat dibekukan tahun lalu.
- Pemberian izin operasional baru bagi 77 fasilitas tambahan untuk mendukung ekspor daging sapi ke pasar China.
Langkah-langkah di atas diharapkan dapat merelaksasi hambatan ekspor yang sempat terjadi akibat konflik tarif berkepanjangan. Dengan pemberian izin baru ini, akses produsen Amerika ke pasar konsumen di China akan kembali terbuka lebar.
Upaya Penyelesaian Hambatan Dagang Melalui Dewan Khusus
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengungkapkan bahwa kedua pihak telah sepakat untuk membentuk dua lembaga koordinasi baru. Lembaga tersebut adalah Dewan Perdagangan AS-China serta Dewan Investasi AS-China.
Pembentukan dewan ini bertujuan untuk mengatasi berbagai hambatan akses pasar yang masih tersisa di lapangan. Hal ini juga menjadi bagian dari kerangka kerja bersama dalam upaya penurunan tarif perdagangan antara kedua raksasa ekonomi tersebut.
Tantangan di Tengah Diplomasi yang Hangat
Meskipun disambut dengan upacara militer yang megah oleh Presiden Xi Jinping, KTT bilateral ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Masih terdapat beberapa isu krusial yang belum menemukan titik temu di meja perundingan.
Pertemuan ini dinilai belum menghasilkan terobosan besar terkait masalah kedaulatan Taiwan serta konflik yang melibatkan Iran. Selain itu, upaya pengurangan tarif perdagangan secara menyeluruh juga dilaporkan belum mencapai kesepakatan final.
Presiden Donald Trump menyelesaikan kunjungan ini tanpa dukungan signifikan dari China terkait penanganan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Isu konflik bersenjata yang melibatkan Iran tetap menjadi titik perbedaan pandangan yang tajam di antara kedua pemimpin negara tersebut.