PT Timah (Persero) Tbk atau TINS memberikan gambaran mengenai kondisi ketahanan sumber daya mineral mereka saat ini. Perusahaan mengungkapkan bahwa cadangan bijih timah yang dimiliki sekarang hanya tersisa sekitar 300.000 ton.
Jumlah cadangan tersebut diperkirakan hanya mampu menopang kegiatan produksi perusahaan untuk jangka waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Kondisi ini mendorong emiten berkode saham TINS tersebut untuk bergerak lebih cepat dalam mengamankan masa depan perusahaan.
Direktur Produksi & Komersial TINS, Ilhamsyah Mahendra, memaparkan rincian data cadangan dan sumber daya yang dikelola perseroan. Ia menyebutkan bahwa total sumber daya timah perusahaan saat ini tercatat berada di level 800.000 ton.
Sementara itu, cadangan timah yang siap diolah tercatat sebesar 300.000 ton, sebuah angka yang dinilai masih terbatas untuk visi jangka panjang. Hal tersebut disampaikan Ilhamsyah dalam agenda Indonesia Critical Mineral Conference yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026).
Ilhamsyah menekankan bahwa angka cadangan saat ini dirasa belum cukup untuk menjamin keberlanjutan bisnis dalam periode yang sangat lama. Menurutnya, perusahaan membutuhkan penemuan deposit baru dalam jumlah yang jauh lebih besar.
Target ambisius pun ditetapkan agar perusahaan memiliki cadangan yang memadai untuk beroperasi hingga satu abad mendatang. "Kami membutuhkan jauh lebih banyak deposit untuk 100 tahun ke depan," ungkap Ilhamsyah dalam paparannya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, PT Timah kini tengah menggencarkan kegiatan eksplorasi di berbagai wilayah operasional. Langkah strategis ini dilakukan guna memperpanjang umur tambang dan menemukan titik-titik cadangan baru yang potensial.
Upaya pencarian cadangan ini tidak lagi dilakukan dengan cara konvensional semata, melainkan sudah mulai beralih ke teknologi modern. Perseroan mengadopsi berbagai inovasi terkini untuk memastikan efektivitas di lapangan selama proses pencarian berlangsung.
Pemanfaatan teknologi mutakhir dalam eksplorasi timah:
- Implementasi Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk memetakan potensi wilayah secara akurat melalui pengolahan data spasial.
- Penggunaan metode grain counting guna meningkatkan presisi dalam menghitung butiran mineral pada sampel tanah atau batuan.
- Digitalisasi data eksplorasi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan oleh tim manajemen dan teknis di lapangan.
- Peningkatan intensitas kegiatan pengeboran di wilayah darat maupun laut untuk memverifikasi data sumber daya menjadi cadangan.
Penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis dan grain counting diharapkan mampu mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam fase eksplorasi. Selain itu, tingkat akurasi data yang dihasilkan juga menjadi lebih tinggi dibandingkan metode tradisional.
Selain fokus pada pencarian cadangan, industri pertambangan dalam negeri juga tengah dihadapkan pada dinamika kebijakan pemerintah yang berkembang pesat. Beberapa isu strategis seperti pembentukan badan ekspor baru hingga rencana perubahan tarif royalti turut mewarnai sektor ini.
Berdasarkan data operasional sektor minerba secara nasional, target produksi beberapa komoditas unggulan memang terus dipacu. Sebagai gambaran, berikut adalah rincian target serta capaian produksi beberapa mineral penting di Indonesia pada periode terbaru.
Data target produksi komoditas mineral dan energi nasional:
| Komoditas Tambang | Target Produksi (Ton) | Keterangan Operasional |
|---|---|---|
| Batu Bara | 817 Juta Ton | Fokus pemenuhan kebutuhan domestik dan ekspor. |
| Nikel | 320 Juta Ton | Peningkatan hilirisasi untuk bahan baku baterai. |
| Bijih Timah (TINS) | 300.000 Ton | Status cadangan saat ini untuk 10-15 tahun ke depan. |
Tabel di atas menunjukkan bahwa timah memiliki tantangan cadangan yang cukup krusial dibandingkan dengan komoditas batu bara atau nikel. Oleh karena itu, percepatan eksplorasi menjadi harga mati bagi PT Timah untuk menjaga keberlangsungan industri pertambangan timah nasional.
Di sisi lain, pergerakan saham perusahaan tambang termasuk TINS juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekspor sumber daya alam. Pengumuman badan ekspor baru oleh pemerintah beberapa waktu lalu menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan investor.
Isu mengenai kenaikan royalti juga sempat menjadi perhatian serius para pelaku pasar dan emiten tambang besar. Meski sempat muncul rencana kenaikan royalti yang besar, namun kebijakan tersebut kabarnya mengalami penundaan yang memberikan napas bagi arus kas perusahaan.
Secara keseluruhan, tantangan PT Timah dalam satu dekade ke depan tidak hanya terbatas pada masalah teknis penambangan. Efisiensi operasional dan kemampuan menemukan sumber daya baru melalui teknologi akan menjadi kunci utama eksistensi mereka.
Perusahaan berkomitmen untuk terus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia. Langkah eksplorasi masif ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan bagi industri hilir yang terus berkembang di tanah air.