PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) diharapkan dapat memainkan peran sebagai pengawas dalam transaksi ekspor sumber daya alam (SDA), bukan sebagai eksportir tunggal. Harapan ini dikemukakan oleh Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang menyambut baik niat pemerintah untuk mengatasi kebocoran devisa dari ekspor SDA. "Masalah utamanya bukan pada struktur perdagangan ekspor, tetapi lebih pada lemahnya pengawasan baik dari sisi sistem maupun integritas pelaksananya," ucap Wijayanto pada media, Senin (8/6).
Sebelumnya, pemerintah telah menyampaikan rencana pembentukan PT DSI untuk meningkatkan pengawasan terhadap ekspor komoditas strategis seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferroalloy. Langkah ini bertujuan untuk mengatasi praktik-praktik seperti underinvoicing, misinvoicing, dan transfer pricing yang diperkirakan menggerus penerimaan negara dan memerangkap devisa hasil ekspor di luar negeri. Wijayanto menegaskan bahwa memberi PT DSI wewenang sebagai satu-satunya eksportir untuk semua komoditas SDA bisa sangat berisiko. "Saya menilai kebijakan ini akan menantang untuk diimplementasikan dan berpotensi gagal, mengingat kompleksnya transaksi ekspor komoditas Indonesia," tambahnya.
Dia menambahkan, belum ada negara yang menerapkan model eksportir tunggal untuk berbagai komoditas SDA seperti yang direncanakan Indonesia. "Jika DSI berfungsi sebagai eksportir tunggal untuk SDA, maka ini pertama kalinya di dunia. Tidak ada negara lain yang melakukan model semacam itu," katanya. Wijayanto juga meluruskan perbandingan dengan bisnis di negara lain. Di Arab Saudi, Saudi Aramco bukanlah satu-satunya eksportir yang mengakuisisi produk dari berbagai perusahaan untuk diekspor, jelasnya.
Aramco sebenarnya menguasai hampir seluruh produksi minyak dan turunannya di Arab Saudi, sehingga mengekspor produk sendiri, bukan bertindak sebagai eksportir tunggal. Di China, sektor mineral strategis dan logam tanah jarang memang dikuasai oleh perusahaan milik negara, tetapi setiap perusahaan melakukan ekspor secara mandiri. "Di China, sejumlah BUMN menguasai sektor tambang dan mineral tertentu, namun ekspor dilakukan secara langsung oleh masing-masing perusahaan," tuturnya.