Bos Rosneft Bongkar Kejutan Kotak Pandora di Balik Blokade AS atas Iran 2026

Bos Rosneft Bongkar Kejutan Kotak Pandora di Balik Blokade AS atas Iran 2026
Foto: Bos Rosneft Bongkar Kejutan Kotak Pandora di Balik Blokade AS atas Iran 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kepala Eksekutif Rosneft, Igor Sechin, mengungkapkan pandangan tajam mengenai dinamika energi global dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg pada Sabtu lalu. Ia menyebut bahwa perusahaan-perusahaan energi asal Amerika Serikat merupakan pihak yang paling memetik keuntungan dari penutupan Selat Hormuz.

Meskipun begitu, Sechin juga memberikan peringatan keras bahwa ketegangan yang terus berlanjut di jalur krusial tersebut bisa membawa dampak buruk bagi pasar global. Ia menilai eskalasi di wilayah itu berisiko merusak permintaan minyak mentah dunia dalam jangka waktu yang panjang.

Krisis di Selat Hormuz ini bermula saat Iran memutuskan untuk memblokade jalur distribusi yang menampung sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Langkah ekstrem ini diambil setelah insiden serangan oleh Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari lalu.

Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute vital bagi distribusi berbagai komoditas penting lainnya, termasuk pupuk. Sebagai respons atas blokade tersebut, pihak Amerika Serikat juga melakukan tindakan serupa dengan memblokir pelabuhan-pelabuhan milik Iran.

Ambisi AS di Balik Krisis Energi

Igor Sechin, yang dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di industri energi Rusia sekaligus sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, memberikan analisis mendalam. Menurutnya, tindakan yang diambil Amerika Serikat merupakan upaya terencana untuk mengubah struktur dasar pasar energi global.

Ia menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan aturan pasar berjalan sesuai dengan kepentingan nasional Amerika. Sechin berpendapat bahwa risiko strategis dari manuver ini sebenarnya belum sepenuhnya diperhitungkan oleh pihak-pihak terkait.

Berikut adalah beberapa poin utama yang disampaikan oleh Sechin mengenai dampak blokade tersebut:

  • Langkah memblokade Selat Hormuz awalnya ditujukan untuk menekan Iran, namun efek negatifnya justru merambat ke seluruh dunia.
  • Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat mendapatkan keuntungan nonkompetitif karena mampu mengamankan pasokan meskipun dengan biaya yang tinggi.
  • Ketegangan yang berkepanjangan akan melemahkan permintaan minyak secara global dan mendorong percepatan penggunaan energi alternatif.
  • Situasi ini dianggap sebagai upaya pembentukan ulang aturan pasar energi dunia demi dominasi Amerika Serikat.

Sechin menggarisbawahi bahwa ketidakstabilan di jalur laut tersebut bisa menjadi pemicu bagi munculnya gelombang baru minat terhadap sumber daya energi baru dan terbarukan. Hal ini terjadi seiring dengan kekhawatiran global terhadap ketergantungan pada pasokan minyak mentah yang tidak stabil.

Dampak Ekonomi bagi Rusia dan Proyeksi Harga

Saat ini, Amerika Serikat memegang posisi sebagai produsen minyak terbesar di dunia, mengungguli Arab Saudi dan Rusia. Meskipun ada ketegangan, data dari Kementerian Keuangan Rusia menunjukkan peningkatan signifikan dalam pendapatan pajak sektor minyak dan gas mereka.

Pada Mei lalu, pendapatan tersebut meningkat sebesar 32,4% secara tahunan menjadi 678,9 miliar rubel atau setara dengan US$9,3 miliar. Kenaikan tajam ini dipicu oleh reli harga minyak global yang didorong oleh konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga memperpanjang kebijakan pengecualian sanksi untuk pembelian minyak Rusia melalui jalur laut. Kebijakan ini diambil demi membantu negara-negara yang rentan mengalami krisis energi akibat dampak perang dengan Iran.

Sechin juga mengamati kesiapan negara-negara besar dalam menghadapi krisis ini, di mana ia memuji China sebagai negara yang paling siap. Ia menilai kebijakan dalam negeri China yang matang membuat mereka lebih tangguh menghadapi fluktuasi pasar global.

Simak proyeksi harga minyak dunia berdasarkan analisis Sechin dalam tabel berikut:

Periode Waktu Estimasi Harga Minyak per Barel Kondisi Pasar
Akhir Tahun Ini US$95 – US$96 Jika Selat Hormuz dibuka dalam waktu dekat.
Satu Tahun Mendatang US$80 – US$85 Harga mulai mengalami penurunan bertahap.
Paruh Kedua 2027 Kembali ke Fundamental Pasar mulai stabil dan mengikuti hukum permintaan normal.

Prakiraan harga ini sangat bergantung pada kepastian akses di Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan energi dunia. Jika gangguan terus berlanjut, Sechin memperingatkan bahwa jalur strategis lainnya seperti Selat Malaka, Bab el-Mandeb, dan Gibraltar juga berisiko terganggu.

Membuka Kotak Pandora Masalah Global

Dalam pidatonya yang bertajuk "The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Is Left at the Bottom of Pandora’s Box?", Sechin memaparkan isu-isu global yang kian membesar. Ia menyoroti fenomena militerisasi negara-negara besar dan gelembung pasar keuangan yang disebutnya terbesar sejak abad ke-19.

Sechin menggambarkan bahwa krisis ini bukan sekadar soal minyak, melainkan ancaman kekurangan sumber daya dasar secara menyeluruh. Di dalam "kotak Pandora" tersebut, ia meramalkan dunia akan menghadapi krisis listrik, pangan, air, hingga kelangkaan logam strategis seperti tembaga.

Terkait kerja sama internasional, Sechin menyatakan keraguan terhadap masa depan aliansi OPEC+. Ia menilai kelompok tersebut telah kehilangan sebagian besar kekuatannya setelah keluarnya Uni Emirat Arab, menyusul Qatar dan beberapa negara lainnya.

Pelemahan aliansi OPEC+ ini dapat dilihat dari data produksi berikut:

  • Total produksi aliansi merosot dari 58 juta barel per hari menjadi hanya 37 juta barel per hari dalam satu dekade terakhir.
  • Sebagian besar anggota utama justru terus meningkatkan produksi mereka sejak kesepakatan tahun 2016 diteken.
  • Produksi minyak Rusia sendiri mengalami penurunan sekitar 1,5 juta barel per hari, atau setara dengan 15%.

Sechin menekankan bahwa penurunan produksi di Rusia memerlukan kompensasi investasi yang sangat besar, setidaknya mencapai 10 triliun rubel. Ia berharap kerja sama investasi antara negara-negara anggota aliansi dan Rusia dapat terus diperkuat guna menghadapi tantangan di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi