Rupiah Melemah Drastis, Dolar AS Terbaru Tembus Rp18.180 di Awal 2026

Rupiah Melemah Drastis, Dolar AS Terbaru Tembus Rp18.180 di Awal 2026
Foto: Rupiah Melemah Drastis, Dolar AS Terbaru Tembus Rp18.180 di Awal 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda tercatat merosot hingga mendekati level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah signifikan sebesar 0,89 persen. Saat ini, nilai tukar satu dolar AS setara dengan Rp18.180, yang sekaligus mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah.

Tekanan Global dan Kekuatan Dolar AS

Kondisi indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sempat terlihat melandai tipis ke posisi 99,998 pada Senin pagi. Meski demikian, posisi tersebut dinilai masih sangat kuat setelah melonjak tajam pada akhir pekan lalu hingga menembus angka 100.

Kekuatan dolar ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat periode Mei yang jauh melampaui ekspektasi pasar. Hal ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik global turut mendorong investor untuk memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Hubungan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemui titik temu menjadi salah satu pemicu utama.

Situasi makin kompleks akibat konflik berkepanjangan antara Israel dan milisi Hizbullah di wilayah Lebanon. Iran dilaporkan tetap menuntut gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Kondisi Cadangan Devisa Nasional

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan pada bulan Mei 2026. Penurunan sebesar US$1,3 miliar ini membawa posisi cadangan devisa berada di angka US$144,9 miliar.

Penyusutan ini terjadi karena adanya kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo. Selain itu, BI juga aktif melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah di tengah tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Rincian ketahanan cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2026:

  • Mampu membiayai kebutuhan impor nasional selama 5,6 bulan.
  • Setara dengan 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah secara bersamaan.
  • Berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang minimal hanya 3 bulan impor.

Meskipun mengalami penurunan secara nominal, otoritas moneter menegaskan bahwa posisi cadangan devisa tersebut masih dalam kategori sangat kuat untuk mendukung ketahanan sektor eksternal.

Upaya Sinergi Otoritas Moneter dan Fiskal

Merespons pelemahan ini, pimpinan DPR bersama pemerintah dan Bank Indonesia menggelar pertemuan khusus di Kompleks Parlemen, Senayan. Konsolidasi ini bertujuan untuk menunjukkan kekompakan antara kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah evaluasi mendalam terhadap perkembangan ekonomi terkini. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan kepercayaan diri kepada para pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.

Analisis dampak pertemuan otoritas terhadap pergerakan rupiah:

Aspek Analisis Dampak yang Diharapkan
Sentimen Pasar Memberikan sinyal positif bagi investor jangka pendek.
Tekanan Rupiah Menahan laju pelemahan agar tidak terjun lebih dalam.
Likuiditas Memastikan ketersediaan pasokan dolar di pasar domestik tetap terjaga.

Tabel di atas merangkum bagaimana koordinasi antarlembaga diharapkan bisa meredam kepanikan pasar terkait anjloknya nilai tukar rupiah. Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada implementasi kebijakan nyata di lapangan.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, berpendapat bahwa pertemuan tersebut memang memberikan dampak positif bagi psikologis pasar. Namun, ia menekankan bahwa efeknya cenderung lebih kepada menahan tekanan daripada membalikkan tren secara instan.

Josua menegaskan bahwa penguatan rupiah yang berkelanjutan akan sangat bergantung pada langkah konkret setelah pernyataan bersama tersebut dibuat. Daya tarik aset investasi dalam denominasi rupiah harus terus dijaga untuk menarik kembali arus modal asing.

Artikel terkait

Rekomendasi