Bank Dunia Prediksi Harga Minyak Tetap Panas hingga 2026, Ini Kabar Terbarunya

Bank Dunia Prediksi Harga Minyak Tetap Panas hingga 2026, Ini Kabar Terbarunya
Foto: Bank Dunia Prediksi Harga Minyak Tetap Panas hingga 2026, Ini Kabar Terbarunya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bank Dunia atau World Bank baru saja merilis proyeksi terbaru mengenai pergerakan harga komoditas energi dunia untuk beberapa tahun ke depan. Dalam laporan bertajuk Commodity Markets Outlook edisi April 2026, lembaga keuangan internasional tersebut memperkirakan harga minyak mentah masih akan berada di level yang cukup tinggi dalam jangka pendek.

Kondisi pasar minyak diperkirakan tetap panas sepanjang tahun 2026 meskipun gangguan pasokan yang sempat terjadi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Para ahli memprediksi harga rata-rata minyak dunia akan menyentuh angka US$86 per barel pada 2026 sebelum akhirnya mengalami penurunan signifikan ke level US$70 per barel pada 2027 mendatang.

Proyeksi Pemulihan Pasokan dan Pengaruh Geopolitik

Analisis Bank Dunia menunjukkan bahwa tingginya harga saat ini sangat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Asia Barat. Berdasarkan asumsi dasar yang digunakan, fase gangguan pasokan yang paling parah akibat konflik tersebut diharapkan bisa berakhir sepenuhnya pada Mei 2026.

Laporan tersebut mencatatkan data historis singkat di mana harga minyak Brent sempat berada di rata-rata US$69 per barel pada awal 2026. Namun, angka tersebut melonjak tajam hingga menembus level US$100 per barel pada periode Maret dan April akibat eskalasi konflik yang memicu kekhawatiran pasar global.

Bank Dunia menjelaskan bahwa proyeksi penurunan harga ini sangat bergantung pada pemulihan jalur ekspor minyak dari wilayah Asia Barat. Diharapkan aliran komoditas tersebut akan kembali stabil dan mendekati level normal sebelum perang mulai terjadi pada kuartal IV/2026.

Pihak Bank Dunia optimis bahwa lonjakan harga yang terjadi belakangan ini akan mereda secara bertahap seiring dengan kembali berjalannya produksi yang sempat terhenti. Jika aktivitas perdagangan global kembali normal pada semester kedua tahun ini, tekanan harga diharapkan bisa mulai melunak bagi konsumen dunia.

Meski demikian, pasar minyak diprediksi tidak akan langsung kembali ke kondisi semula secara instan pada akhir tahun 2026. Premi risiko geopolitik diperkirakan masih akan bertahan cukup lama karena dampak psikologis pasar dan ketidakpastian yang masih tinggi di kawasan konflik.

Tren Permintaan dan Penurunan Produksi Global

Dari sisi konsumsi, laporan tersebut memperkirakan adanya sedikit penurunan permintaan minyak global sebesar 0,1 juta barel per hari atau setara 0,1% pada 2026. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari kebijakan pembatasan konsumsi yang diterapkan sejumlah negara akibat terganggunya rantai pasok dari Timur Tengah.

Di saat beberapa negara membatasi penggunaan energi, terdapat pula negara lain yang tetap berusaha meningkatkan konsumsi minyak mereka. Namun, pertumbuhan konsumsi di wilayah tersebut tercatat masih berada di bawah perkiraan awal akibat tingginya harga jual di pasar internasional.

Situasi pasokan dunia juga sempat berada dalam posisi yang mengkhawatirkan pada kuartal kedua tahun 2026. Tercatat pasokan minyak dunia merosot hampir 7 juta barel per hari menjadi hanya sekitar 98,4 juta barel per hari, yang merupakan penurunan kuartalan terbesar sejak era pandemi Covid-19.

Apabila kondisi di Timur Tengah benar-benar mereda pada pertengahan tahun sesuai asumsi Bank Dunia, produksi global diproyeksikan akan bangkit kembali. Rata-rata produksi minyak dunia diharapkan bisa mencapai angka 108,3 juta barel per hari pada paruh kedua tahun 2026.

Berikut adalah ringkasan estimasi harga dan volume produksi minyak dunia menurut data Bank Dunia:

Indikator Pasar Tahun 2026 Tahun 2027
Rata-rata Harga Minyak (per Barel) US$86 US$70
Prediksi Produksi Global (Semester II) 108,3 juta barel/hari Stabilisasi Lanjutan
Perubahan Konsumsi Global Turun 0,1% Pemulihan Bertahap

Tabel di atas menggambarkan bagaimana transisi pasar energi dari kondisi penuh tekanan di tahun 2026 menuju fase stabilisasi pada tahun 2027. Meskipun harga menurun, faktor eksternal tetap menjadi penentu utama dalam realisasi angka-angka tersebut di masa depan.

Risiko Kenaikan Harga dan Dampak ke Sektor Gas

Bank Dunia memberikan peringatan bahwa risiko terhadap proyeksi harga minyak saat ini masih cenderung mengarah pada potensi kenaikan lebih lanjut. Harga bisa melambung melampaui prediksi jika gangguan perdagangan akibat perang berlangsung lebih lama atau mencakup wilayah yang lebih luas dari perkiraan.

Sebaliknya, terdapat beberapa faktor yang bisa mempercepat penurunan harga minyak di masa depan, salah satunya adalah adopsi kendaraan listrik yang masif. Selain itu, perlambatan ekonomi global yang lebih dalam serta peningkatan produksi tak terduga pada 2027 juga menjadi faktor penekan harga.

Tidak hanya minyak mentah, sektor gas alam cair atau LNG juga mengalami tekanan serupa akibat konflik di Asia Barat. Bank Dunia memperkirakan gangguan pada produksi dan perdagangan LNG akan mereda pada Mei 2026, asalkan infrastruktur energi tidak mengalami kerusakan tambahan yang parah.

Dampak khusus pada pasar gas alam di wilayah Eropa diprediksi akan mengikuti pola berikut:

  • Lonjakan Harga di 2026: Harga gas di Benua Biru diperkirakan melonjak hingga 25% secara tahunan akibat persaingan ketat mendapatkan stok LNG.
  • Krisis Cadangan: Gangguan pasokan dari Qatar dan Asia Barat memaksa negara-negara Eropa berebut pasokan untuk mengisi cadangan energi mereka yang kian menipis.
  • Penurunan di 2027: Seiring stabilnya jalur distribusi global, harga gas Eropa diproyeksikan turun sekitar 20% pada tahun berikutnya.
  • Pemulihan Infrastruktur: Ekspor LNG dari wilayah konflik diharapkan kembali berjalan normal dalam beberapa bulan setelah puncak gangguan berakhir.

Daftar di atas menunjukkan betapa tingginya ketergantungan pasar energi Eropa terhadap kestabilan wilayah Asia Barat dalam menjaga ketahanan stok gas mereka. Dinamika ini memperlihatkan bahwa krisis di satu wilayah dapat memicu efek domino yang dirasakan oleh konsumen di seluruh penjuru dunia.

Secara keseluruhan, laporan Commodity Markets Outlook ini menjadi sinyal bagi para pelaku industri dan pengambil kebijakan untuk tetap waspada. Meski ada harapan akan pemulihan, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi secara akurat dalam jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi