Bahaya Minum Susu Mentah yang Lagi Viral, Profesor IPB Ungkap Risiko Mengejutkan 2026

Bahaya Minum Susu Mentah yang Lagi Viral, Profesor IPB Ungkap Risiko Mengejutkan 2026
Foto: Bahaya Minum Susu Mentah yang Lagi Viral, Profesor IPB Ungkap Risiko Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tren mengonsumsi susu mentah atau raw milk belakangan ini sempat menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Banyak masyarakat yang mulai melirik jenis susu ini karena adanya anggapan bahwa nutrisinya jauh lebih utuh dan alami dibandingkan susu olahan.

Namun, anggapan tersebut mendapatkan peringatan serius dari Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si. Beliau menekankan adanya risiko keamanan pangan yang sangat besar dan tidak boleh dianggap remeh oleh masyarakat.

Risiko Keamanan Pangan pada Susu Mentah

Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Frisian Flag pada Minggu (31/5/2026), Prof. Epi secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap konsumsi susu mentah. Beliau menyoroti bahwa di Indonesia, risiko kontaminasi bakteri pada susu yang belum diolah masih tergolong sangat tinggi.

Susu mentah sangat rentan terpapar mikroorganisme berbahaya yang dapat mengancam kesehatan tubuh manusia. Bahkan di negara-negara maju sekalipun, peredaran dan pengawasan terhadap susu mentah dilakukan dengan standar keamanan yang luar biasa ketat.

Berikut adalah perbandingan standar keamanan susu mentah di negara maju sebagai referensi:

  • Di Jerman, hanya terdapat dua peternakan khusus yang diberikan izin resmi untuk menjual susu mentah kepada konsumen.
  • Konsumen diwajibkan meminum susu tersebut langsung di lokasi peternakan dan dilarang keras untuk membawanya pulang ke rumah.
  • Pengawasan ketat dilakukan secara berkala guna memastikan kualitas produk tetap terjaga dari kontaminasi bakteri jahat.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa bahkan dengan teknologi canggih, risiko susu mentah tetap dipantau ketat agar tidak menimbulkan wabah penyakit. Hal ini dilakukan demi menjamin keselamatan konsumen dari potensi bahaya bakteri patogen yang tidak terlihat mata.

Kondisi di Indonesia sendiri dinilai masih cukup rawan karena mayoritas produksi susu masih dikelola dengan cara-cara tradisional. Proses pemerahan sapi yang dilakukan secara manual menggunakan tangan meningkatkan kemungkinan masuknya kuman ke dalam wadah penampung.

Prof. Epi merinci bahwa dalam susu mentah terdapat dua jenis kelompok bakteri yang sangat diwaspadai kehadirannya. Kelompok pertama adalah bakteri patogen yang memicu penyakit, dan kelompok kedua adalah bakteri pembusuk yang merusak kualitas produk.

Perbandingan Gizi Antara Susu Mentah dan Susu Olahan

Banyak orang memilih susu mentah karena mengincar kandungan gizinya, namun Prof. Epi meluruskan persepsi tersebut. Menurutnya, komposisi gizi makro antara susu mentah, susu pasteurisasi, maupun susu UHT sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang mencolok.

Berikut adalah ringkasan perbandingan kualitas antara jenis susu tersebut:

Aspek Perbandingan Susu Mentah (Raw) Susu Pasteurisasi / UHT
Gizi Makro (Protein, Lemak) Cenderung stabil dan asli Hampir sama, tidak ada perbedaan nyata
Keamanan Bakteri Sangat berisiko kontaminasi Sangat aman karena bakteri mati
Kandungan Vitamin Utuh namun rentan rusak Sedikit berkurang tapi sering difortifikasi
Daya Simpan Sangat singkat dan cepat busuk Lebih lama dan stabil secara kualitas

Tabel di atas memperlihatkan bahwa dari sisi manfaat kesehatan secara menyeluruh, susu olahan justru memiliki keunggulan yang lebih pasti. Keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan sebelum mempertimbangkan aspek nutrisi lainnya.

Prof. Epi tidak menampik bahwa proses pemanasan memang dapat mengurangi kadar beberapa jenis vitamin sensitif dalam susu. Akan tetapi, penurunan ini tidak secara otomatis membuat kualitas gizi susu tersebut menjadi buruk bagi tubuh manusia.

Menariknya, dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa proses pemanasan tertentu justru bisa meningkatkan senyawa bermanfaat seperti antioksidan. Selain itu, industri pengolahan susu biasanya melakukan proses fortifikasi untuk menambah vitamin dan mineral yang dibutuhkan publik.

Proses teknologi seperti UHT (Ultra-high temperature) menggunakan suhu yang sangat tinggi namun dalam durasi yang sangat singkat, yakni sekitar 2 hingga 4 detik saja. Metode kilat ini dirancang khusus agar bakteri mati sempurna tanpa merusak struktur zat gizi di dalamnya.

Sebagai penutup, Prof. Epi menegaskan kembali rekomendasinya agar masyarakat tetap memilih susu yang sudah melalui proses pengolahan resmi. Keamanan yang terjamin dari susu pasteurisasi atau UHT jauh lebih berharga daripada risiko kesehatan yang mengintai dari segelas susu mentah.

Artikel terkait

Rekomendasi