Amerika Serikat dan China kini mengambil langkah strategis bersama untuk menekan potensi lonjakan harga minyak mentah di pasar global. Kerja sama ini muncul sebagai respons atas terganggunya rantai pasok energi dari kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Kedua negara raksasa ekonomi tersebut berkomitmen mencegah harga minyak melambung tak terkendali. Fokus utamanya adalah meredam dampak dari konflik yang melibatkan Iran serta ancaman penutupan Selat Hormuz.
Pasar minyak internasional saat ini terancam kehilangan pasokan sekitar 10 juta barel per hari (bpd) dari wilayah Teluk Persia. Penutupan akses di Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu utama hilangnya stok minyak dalam jumlah besar tersebut.
Angka kehilangan ini mencakup sekitar 10 persen dari total konsumsi minyak di seluruh dunia. Fenomena ini pun tercatat sebagai gangguan pasokan energi paling signifikan dalam sejarah peradaban modern.
Dalam situasi krisis ini, China dan Amerika Serikat memegang kendali yang sangat krusial terhadap pasar minyak global. Keduanya memanfaatkan pengaruh besar mereka untuk menutup lubang kekurangan pasokan yang terjadi.
Status China sebagai importir minyak terbesar dunia memberikan kekuatan tawar tersendiri dalam mengatur permintaan pasar. Sementara itu, posisi Amerika Serikat sebagai produsen utama sekaligus eksportir penting menjadi kunci penyediaan stok.
Upaya Amerika Serikat dalam Meningkatkan Ekspor Minyak
Sebagai negara produsen minyak nomor satu di dunia, Amerika Serikat secara aktif menggenjot angka pengiriman luar negeri. Selama konflik Iran berlangsung, AS tercatat telah menambah volume ekspornya hingga 3,5 juta barel setiap harinya.
Langkah kontradiktif namun saling melengkapi diambil oleh China dengan membatasi jumlah pembelian energinya. Pemerintah China diketahui telah memangkas angka impor minyak mereka sebanyak 3,6 juta barel per hari.
Dampak gabungan dari kebijakan kedua negara ini menghasilkan angka yang signifikan:
- Langkah kolektif ini berhasil menutupi sekitar 70 persen defisit ekspor minyak yang berasal dari negara-negara di Teluk Persia.
- Kontribusi tambahan datang dari Jepang, Korea Selatan, dan India yang secara serentak menurunkan volume impor minyak mereka.
- Total pengurangan permintaan dari ketiga negara Asia tersebut mencapai angka 3,6 juta barel per hari.
Penurunan permintaan dan peningkatan produksi ini dianggap sebagai penyelamat kestabilan harga energi di pasar internasional. Upaya ini memastikan pasokan tetap tersedia bagi negara-negara yang sangat membutuhkan.
Analis dari Deutsche Bank, Michael Hsueh, menyebut bahwa intervensi AS dan China merupakan bentuk penyesuaian yang sangat vital. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan pasar yang terdampak gangguan besar di Teluk Persia.
Ia menambahkan bahwa berkat kolaborasi inilah, harga minyak mentah jenis Brent belum menembus angka psikologis US$ 120 per barel. Padahal, tanpa intervensi tersebut, harga diperkirakan bisa melesat jauh lebih tinggi dari posisi saat ini.
Senada dengan hal itu, Martijn Rats selaku ahli strategi komoditas dari Morgan Stanley memberikan sorotan khusus pada langkah Beijing. Menurutnya, keputusan China untuk mengurangi impor adalah elemen paling penting dalam menahan laju harga.
Rats menegaskan bahwa penurunan impor oleh China adalah pencapaian luar biasa yang menjaga stabilitas ekonomi global. Namun, muncul kekhawatiran mengenai seberapa lama strategi ekspor tinggi dan impor rendah ini bisa dipertahankan.
Data cadangan minyak strategis saat ini menunjukkan kondisi yang berbeda di tiap negara:
| Negara | Status Cadangan Strategis | Kapasitas/Tindakan |
|---|---|---|
| China | Terbesar di Dunia | 1,4 miliar barel (per Desember 2025) |
| Amerika Serikat | Berada di Bawah Tekanan | Pelepasan 172 juta barel dari cadangan |
Berdasarkan laporan Badan Informasi Energi AS, cadangan melimpah yang dimiliki China diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama berbulan-bulan. Bahkan, stok tersebut diprediksi aman hingga pengujung tahun ini.
Sebaliknya, persediaan minyak milik Amerika Serikat mulai mengalami tekanan akibat lonjakan ekspor yang sangat masif. Pada Maret lalu, pemerintah AS telah sepakat melepas 172 juta barel dari cadangan nasionalnya untuk meredam gejolak harga.
Tantangan bagi Amerika Serikat adalah sebagian besar ekspor tersebut diambil dari stok yang sudah ada, bukan dari peningkatan produksi baru. Saat ini, total persediaan minyak nasional AS diperkirakan berada di angka 413 juta barel.
Martijn Rats menekankan bahwa sulit untuk memprediksi sejauh mana AS mampu mempertahankan ritme ekspor yang sangat tinggi ini. Tekanan terhadap cadangan domestik diperkirakan akan semakin berat seiring berlanjutnya ketegangan di Selat Hormuz.