Arab Saudi diperkirakan bakal kembali mengambil langkah besar dengan menurunkan harga jual resmi atau Official Selling Price (OSP) untuk minyak mentah jenis Arab Light. Kebijakan penurunan harga ini ditargetkan khusus untuk pengiriman ke wilayah Asia pada periode Juli 2026 mendatang.
Berdasarkan proyeksi pasar, nilai penurunan harga minyak mentah andalan tersebut diperkirakan menyentuh angka antara USD3 hingga USD8 per barel. Angka ini merupakan perbandingan langsung dari harga jual yang ditetapkan pada bulan Juni sebelumnya.
Rincian estimasi harga minyak Arab Light berdasarkan survei pasar terbaru:
- Proyeksi penurunan harga berkisar antara USD3 sampai USD8 per barel.
- Premi harga berada di kisaran USD7,50 hingga USD12,50 di atas rata-rata acuan Oman/Dubai.
- Penurunan ini menandai koreksi harga signifikan kedua yang dilakukan secara berturut-turut.
Hasil survei yang dilakukan Reuters terhadap para pelaku industri menunjukkan bahwa premi Arab Light kini berada di posisi yang jauh lebih rendah. Kondisi ini menunjukkan penyesuaian strategi harga di tengah dinamika pasar energi global yang terus berubah.
Dinamika Harga dan Dampak Geopolitik
Langkah pemangkasan harga ini muncul setelah harga minyak Arab Saudi sempat melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Pada periode awal April lalu, Saudi Aramco sempat menetapkan premi Arab Light di angka rekor, yakni USD19,50 per barel di atas harga acuan regional.
Lonjakan drastis pada April tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik serta gangguan pasokan akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Namun, tren kenaikan tersebut mulai mereda memasuki bulan Juni seiring dengan dilakukannya pemangkasan premi sebesar USD4 menjadi USD15,50 per barel.
Kondisi pasar spot yang terus melemah sepanjang bulan Mei turut memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan harga Arab Saudi ini. Premi Dubai tercatat mengalami penurunan rata-rata ke angka USD8,90 per barel, merosot cukup tajam jika dibandingkan dengan angka USD13,92 pada bulan April.
Berikut adalah ringkasan pergerakan premi dan harga minyak dalam beberapa periode terakhir:
| Periode Pengiriman | Status Premi (di atas acuan) | Kondisi Pasar |
|---|---|---|
| Mei 2026 | USD19,50 per barel | Rekor tertinggi akibat konflik Timur Tengah |
| Juni 2026 | USD15,50 per barel | Mulai dilakukan pemangkasan harga |
| Juli 2026 (Prediksi) | USD7,50 - USD12,50 per barel | Penurunan permintaan dari kilang di Asia |
Data di atas memperlihatkan tren penurunan yang konsisten sejalan dengan berkurangnya permintaan minyak mentah dari berbagai perusahaan kilang di kawasan Asia. Selain itu, tekanan terhadap harga minyak global juga dipengaruhi oleh faktor stabilitas politik internasional.
Harga minyak mentah jenis Brent sendiri dilaporkan telah jatuh hampir 19 persen selama bulan Mei, yang menjadi penurunan bulanan paling dalam sejak era pandemi COVID-19. Situasi ini diperkuat oleh meningkatnya optimisme pasar mengenai potensi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Penyesuaian harga oleh Arab Saudi ini dianggap sebagai respons logis untuk menjaga daya saing di pasar Asia di tengah melimpahnya pasokan dan menurunnya minat beli. Hal ini sekaligus menjadi sinyal penting bagi para pelaku industri energi mengenai arah pergerakan harga minyak mentah di paruh kedua tahun 2026.