AHY Tegaskan Siapnya Indonesia Jadi Jembatan ASEAN-Eurasia di SPIEF 2026

AHY Tegaskan Siapnya Indonesia Jadi Jembatan ASEAN-Eurasia di SPIEF 2026
Foto: AHY Tegaskan Siapnya Indonesia Jadi Jembatan ASEAN-Eurasia di SPIEF 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan kesiapan Indonesia menjadi jembatan strategis guna memperkuat hubungan antara kawasan ASEAN dan Eurasia. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. AHY menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam sesi EAEU-ASEAN di St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, yang berlangsung di St. Petersburg, Rusia, pada Kamis (4/6/2026).

Forum ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara guna membahas tantangan dan peluang ekonomi global. AHY menyoroti berbagai dinamika dunia yang semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi global, gangguan rantai pasok, tekanan terhadap ketahanan energi, pangan, dan air, serta meningkatnya fragmentasi geopolitik menjadi faktor yang memengaruhi stabilitas serta pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut AHY, tantangan tersebut tidak bisa dihadapi sendirian oleh satu negara. Diperlukan kemitraan yang lebih erat dan saling menghormati, serta solusi nyata yang berorientasi pada hasil. "Indonesia berupaya menjadi jembatan, penyeimbang, dan mitra yang konstruktif dalam memperkuat kerja sama internasional," jelas AHY dalam keterangan tertulis pada Jumat (5/6/2026).

AHY menegaskan komitmen Indonesia sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Politik luar negeri yang dijalankan bersifat bebas aktif, terbuka, inklusif, dan berorientasi pada kolaborasi. "Kami mencari persahabatan dengan semua bangsa. Kami percaya pada dialog daripada konfrontasi, dan kerja sama daripada persaingan," imbuhnya.

Dalam paparannya, AHY menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan, pelabuhan, dan bandara. Infrastruktur diposisikan sebagai landasan utama untuk memperkuat ketahanan pangan, energi, dan air, memperluas akses terhadap peluang ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki posisi strategis. Letaknya di jalur perdagangan internasional dan perannya sebagai penggerak utama ekonomi ASEAN menjadikan Indonesia berpotensi menjadi penghubung yang memperkuat kerja sama antara Asia Tenggara dan Eurasia.

Di forum tersebut, AHY mengajak penguatan kerja sama konkret antara negara-negara ASEAN dan Eurasian Economic Union (EAEU). Sektor-sektor yang menjadi fokus meliputi transportasi rendah karbon, pembangunan konektivitas strategis, infrastruktur tangguh terhadap perubahan iklim, energi bersih, sistem logistik berbasis teknologi, serta ekonomi maritim yang berkelanjutan.

AHY menilai bahwa negara-negara EAEU memiliki keunggulan di bidang energi, manufaktur, teknologi, logistik, dan rekayasa infrastruktur. Hal ini dapat menjadi dasar kolaborasi menguntungkan dengan Indonesia dan negara ASEAN lainnya.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur hijau menjadi prioritas utama Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan. Transformasi menuju transportasi yang lebih bersih, energi terbarukan, dan pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing sekaligus keberlanjutan pembangunan nasional.

Dalam kesempatan ini, AHY menyoroti tiga prioritas utama pembangunan infrastruktur Indonesia. Ini meliputi dekarbonisasi sektor transportasi menuju target Net Zero Emissions, penguatan konektivitas strategis melalui integrasi pelabuhan dan jaringan perkeretaapian, serta pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim, termasuk proyek Giant Sea Wall.

"Tiga prioritas tersebut membentuk satu visi terpadu, yaitu Indonesia yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih siap menghadapi masa depan," ujar AHY. Menutup paparan, AHY menekankan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak kerja sama dan kepercayaan. Hal ini diperlukan di tengah kompleksnya tantangan global saat ini.

Menurutnya, kemitraan kuat harus dibangun tidak hanya melalui dialog dan komitmen. Implementasi yang nyata dan berkelanjutan juga sangat penting. "Kita harus bergerak dari dialog menuju aksi, dari kerangka kerja menuju proyek nyata, dan dari niat baik menuju kemitraan yang tahan lama," tutup AHY.

SPIEF 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan Rusia dan negara-negara Eurasia. Forum ini juga membuka peluang kerja sama lebih luas di bidang infrastruktur, transportasi, energi, teknologi, ekonomi maritim, dan pembangunan berkelanjutan.

Artikel terkait

Rekomendasi