Prosedur kecantikan kini bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan atau dilakukan oleh masyarakat luas. Baik melalui tindakan bedah plastik maupun metode non-bedah, banyak orang rela melakukannya demi mendapatkan penampilan ideal secara instan.
Namun, di balik hasil yang cepat, terdapat risiko yang membayangi jika prosedur tersebut tidak tepat sasaran. Faktanya, beberapa tindakan medis kosmetik justru sering kali menyisakan penyesalan mendalam bagi para pasiennya di kemudian hari.
Tiga ahli bedah plastik ternama membagikan pandangan mereka mengenai daftar prosedur yang sebaiknya dipertimbangkan ulang. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari NY Post, terdapat beberapa jenis operasi atau perawatan yang kerap mendatangkan kekecewaan jangka panjang.
Daftar Prosedur Kosmetik yang Sering Disesali
Berikut adalah beberapa jenis tindakan kecantikan yang menurut para ahli sering memicu komplikasi atau hasil yang tidak sesuai harapan:
Daftar prosedur kecantikan populer yang berisiko memicu penyesalan pasien:
- Filler pada area bawah mata yang rentan bengkak.
- Tanam benang yang hasilnya tidak bertahan lama.
- Pengangkatan lemak pipi yang membuat wajah terlihat terlalu tirus saat menua.
- Prosedur Brazilian Butt Lift (BBL) dengan proporsi berlebihan.
- Tren mata rubah atau foxy eyes yang terlihat tidak alami.
- Penggunaan implan payudara berukuran besar.
- Operasi hidung atau rhinoplasty yang tampak terlalu kaku.
Tindakan-tindakan di atas sering kali dipilih karena pengaruh tren media sosial yang sangat kuat. Namun, para ahli mengingatkan bahwa apa yang terlihat menarik saat ini belum tentu cocok dengan proses penuaan alami tubuh manusia.
1. Filler di Area Bawah Mata
Dr. Ira Savetsky, seorang pakar bedah plastik dari Manhattan yang dikenal dengan julukan "Quiet Luxury King", memberikan peringatan keras. Ia sering menangani pasien yang merasa tidak puas dengan hasil filler pada cekungan mata mereka.
Menurutnya, area ini sangat sensitif karena filler cenderung menarik air dan mudah berpindah posisi. Dampaknya, pasien bisa mengalami pembengkakan kronis atau muncul warna kebiruan pada kulit di sekitar mata seiring berjalannya waktu.
Untuk memperbaiki kondisi ini, dokter biasanya harus melarutkan filler tersebut terlebih dahulu. Sebagai solusi yang lebih permanen, ia menyarankan kombinasi cangkok lemak mikro dan lemak nano guna meremajakan kualitas kulit secara alami.
Dr. Savetsky menekankan bahwa perawatan area bawah mata secara teknis sangat sulit dilakukan dengan benar. Banyak pasien yang awalnya menganggap ini prosedur mudah, justru berakhir dengan komplikasi jangka panjang yang rumit.
2. Prosedur Tanam Benang
Tanam benang merupakan teknik menanamkan jahitan sementara di bawah kulit untuk memberikan efek kencang dan memicu kolagen. Meski terdengar praktis, Dr. Savetsky menyebut banyak pasien akhirnya tetap membutuhkan operasi pengencangan wajah total.
Hal ini terjadi karena hasil dari tanam benang sering kali tidak memberikan perubahan yang signifikan atau bertahan lama. Dalam skenario terburuk, benang tersebut bisa menembus permukaan kulit atau meninggalkan jaringan parut yang terasa kasar.
Kehadiran jaringan parut akibat benang ini justru mempersulit dokter jika pasien ingin melakukan prosedur bedah plastik di masa depan. Oleh karena itu, efektivitas metode ini masih sering dipertanyakan oleh para spesialis.
3. Pengangkatan Lemak Pipi (Buccal Fat Removal)
Tren mengangkat lemak dari bagian bawah pipi sempat meledak pada awal tahun 2020-an, didorong oleh pengakuan selebritas seperti Chrissy Teigen. Prosedur ini menjanjikan tampilan wajah yang lebih tirus dan tulang pipi yang lebih menonjol.
Namun, para ahli menilai tindakan ini justru mempercepat hilangnya volume wajah alami akibat proses penuaan. Pasien sering kali mengeluhkan wajah yang terlihat terlalu kaku dan kering seiring bertambahnya usia mereka.
Dr. Krishna Vyas dari Blechman Plastic Surgery menjelaskan bahwa lemak pipi adalah struktur kunci untuk menjaga wajah tetap segar. Apa yang terlihat cantik di usia 25 tahun bisa membuat seseorang tampak jauh lebih tua saat memasuki usia 45 tahun.
Setelah bantalan lemak ini hilang, sangat sulit bagi dokter untuk mengembalikan volume wajah yang sama. Dr. Vyas juga mencatat bahwa banyak pasien yang menyesali keputusan mereka untuk mendistribusikan ulang lemak wajah secara permanen.
4. Brazilian Butt Lift (BBL)
Prosedur BBL yang bertujuan memperbesar bokong sempat menjadi primadona di klinik Dr. Radbeh Torabi dari Arizona. Namun, belakangan ini tren mulai bergeser seiring dengan banyaknya pasien yang merasa menyesal.
Masyarakat kini mulai meninggalkan standar kecantikan dengan proporsi tubuh yang terlihat sangat berlebihan. Banyak pasien yang dulunya melakukan BBL kini kembali untuk mencari bentuk tubuh yang lebih seimbang dan natural.
5. Tren Mata Rubah (Foxy Eyes)
Terinspirasi dari wajah Bella Hadid dan Kendall Jenner, prosedur canthoplasty atau mata rubah sempat sangat diminati. Teknik ini mengangkat sudut mata dan alis agar terlihat lebih tajam dan berbentuk almond.
Sayangnya, hasil dari teknik yang menggunakan benang atau pengangkatan alis agresif ini sering kali tidak permanen. Bahkan, tindakan tersebut berisiko mengubah anatomi alami mata pasien secara drastis.
Dr. Savetsky mengungkapkan bahwa banyak pasien merasa wajah mereka terlihat terlalu ditarik dan tidak alami. Memperbaiki hasil mata rubah yang gagal merupakan tantangan besar bagi para ahli bedah plastik.
6. Penggunaan Implan Payudara
Saat ini, tren implan payudara berukuran besar mulai ditinggalkan oleh banyak wanita. Dr. Torabi mengamati bahwa pasien kini lebih menyukai tampilan payudara yang elegan namun tetap terlihat halus.
Kesadaran mengenai risiko penyakit akibat implan payudara juga menjadi faktor meningkatnya permintaan untuk pengangkatan implan. Selain itu, perawatan implan membutuhkan komitmen jangka panjang yang tidak semua orang siap menjalaninya.
Tabel perbandingan risiko dan pertimbangan prosedur payudara:
| Aspek | Implan Besar | Tampilan Alami |
|---|---|---|
| Risiko Jangka Panjang | Kulit mengendur dan berat | Lebih ringan dan stabil |
| Perawatan | Butuh revisi berkala | Lebih minim perawatan |
| Estetika Usia Tua | Cenderung tidak proporsional | Menyatu dengan penuaan |
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pemilihan ukuran implan sangat krusial agar hasil operasi tetap terlihat bagus hingga usia senja. Melepas implan yang sudah lama terpasang juga bisa meninggalkan bekas luka karena kulit yang telah merenggang.
7. Operasi Hidung (Rhinoplasty)
Untuk operasi hidung, penyesalan biasanya muncul bukan karena kegagalan prosedur, melainkan keinginan untuk melakukan revisi. Pasien zaman sekarang cenderung ingin hasil yang tidak terlihat seperti habis dioperasi.
Menariknya, Dr. Torabi melihat tren di mana pasien muda ingin mempertahankan karakter asli hidung mereka, termasuk punuk kecil. Mereka ingin memperbaiki fungsi atau proporsi tanpa menghilangkan identitas wajah aslinya.
Dr. Savetsky menambahkan bahwa media sosial sering kali merusak ekspektasi nyata para pasien. Standar kecantikan digital terus berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan anatomi manusia untuk beradaptasi.
Ia menekankan bahwa prosedur yang dianggap menarik hari ini bisa saja terlihat ketinggalan zaman dalam sepuluh tahun ke depan. Mengingat wajah akan terus menua, penting untuk memilih tindakan yang dapat bertahan dan menyatu secara harmonis seiring waktu.