10 Saham Penghambat IHSG 2026, Ternyata Memotong 1.437 Poin!

10 Saham Penghambat IHSG 2026, Ternyata Memotong 1.437 Poin!
Foto: 10 Saham Penghambat IHSG 2026, Ternyata Memotong 1.437 Poin!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan yang cukup signifikan sepanjang tahun 2026 berjalan. Berdasarkan data hingga penutupan perdagangan 26 Mei 2026, indeks komposit tercatat melorot sedalam 29,11 persen.

Koreksi tajam ini membuat IHSG kehilangan 2.516,75 poin dan kini harus parkir di level 6.130,19. Penurunan drastis ini rupanya tidak terlepas dari peran beberapa saham raksasa yang menjadi beban utama indeks.

Daftar Emiten Penekan Utama Indeks

Dalam gelombang koreksi tersebut, tercatat ada 10 saham utama yang memberikan kontribusi poin penurunan paling besar. Secara akumulatif, sepuluh emiten ini menyumbang pengurangan sebanyak 1.437,62 poin pada bobot IHSG.

Angka tersebut setara dengan 57,1 persen dari total kejatuhan indeks sejak awal tahun hingga Mei 2026. Di posisi puncak sebagai pemberat utama, terdapat saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).

Saham DSSA tercatat mengalami koreksi harga yang sangat dalam mencapai 89,31 persen sejak awal tahun. Kondisi ini membuat DSSA berkontribusi mengurangi poin IHSG sebesar 318,58 poin.

Menyusul di urutan kedua adalah saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik konglomerat Prajogo Pangestu. Harga saham BREN merosot 72,78 persen dan memberi andil koreksi indeks sebesar 261 poin.

Selanjutnya, posisi ketiga ditempati oleh bank swasta terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Meskipun penurunan harga sahamnya hanya sebesar 26,01 persen, dampaknya terhadap indeks sangat terasa.

Hal ini disebabkan oleh kapitalisasi pasar BBCA yang sangat jumbo, yakni mencapai Rp729 triliun. Angka market cap tersebut mewakili sekitar 6,87 persen dari total kapitalisasi pasar di bursa saham nasional.

Akibatnya, BBCA menjadi kontributor pelemahan IHSG sebesar 198,47 poin sepanjang periode berjalan. Di urutan keempat, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turut memberikan tekanan negatif.

Harga saham TPIA terpangkas hingga 72,86 persen sejak awal Januari hingga 26 Mei 2026. Penurunan ini menyumbang sekitar 105,59 poin terhadap pelemahan indeks komposit secara keseluruhan.

Emiten tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) berada di posisi kelima sebagai laggard utama. Saham AMMN terkoreksi 51,60 persen dan menyumbang 100,65 poin terhadap penurunan IHSG.

Sebagai informasi, AMMN memegang peran penting di bursa karena merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kesembilan. Nilai pasarnya mencapai Rp226 triliun atau sekitar 2,12 persen dari total market cap bursa.

Pelemahan indeks juga dipicu oleh pergerakan negatif saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang turun 52,45 persen. Emiten ini tercatat memberikan andil koreksi pada indeks sebesar 98,75 poin.

Di peringkat ketujuh, ada emiten dari industri hiburan, PT MD Pictures Tbk. (FILM). Harga saham FILM anjlok 82,62 persen dan berkontribusi pada pelemahan IHSG sebanyak 94,42 poin.

Saham perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), berada di urutan kedelapan. BBRI mengalami koreksi harga saham sebesar 16,12 persen sejak awal tahun ini.

Meski penurunannya terlihat kecil, kontribusi poinnya mencapai 92,65 karena bobot BBRI yang sangat besar. BBRI sendiri merupakan emiten dengan market cap terbesar kedua di bursa dengan nilai Rp461 triliun.

Posisi sembilan dihuni oleh saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang harganya terpangkas 36,78 persen. Emiten batu bara ini menyumbang pelemahan pada indeks komposit sebesar 92,02 poin.

Terakhir, di urutan kesepuluh, terdapat saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Bank berlogo pita emas ini terkoreksi 19,02 persen dan menyumbang 75,67 poin penurunan sejak awal tahun.

Ringkasan Data Penurunan Saham Top Laggards

Berikut adalah rangkuman performa sepuluh saham yang paling banyak memangkas poin IHSG sejak awal tahun 2026:

No. Kode Saham Koreksi YtD (%) Poin Penekan
1 DSSA -89,31% -318,58
2 BREN -72,78% -261,00
3 BBCA -26,01% -198,47
4 TPIA -72,86% -105,59
5 AMMN -51,60% -100,65
6 BRPT -52,45% -98,57
7 FILM -82,62% -94,42
8 BBRI -16,12% -92,65
9 BYAN -36,78% -92,02
10 BMRI -19,02% -75,67

Tabel di atas menyajikan rincian mengenai seberapa besar pengaruh emiten-emiten besar terhadap indeks nasional. Data ini merujuk pada performa harga saham year-to-date (YtD) hingga penutupan 26 Mei 2026.

Kondisi pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan aksi ambil untung atau profit taking. Selain itu, adanya kebijakan rebalancing pada indeks global seperti MSCI turut memberikan tekanan volatilitas.

Banyak analis memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak di rentang 6.000 hingga 6.200 dalam waktu dekat. Pergerakan ini merupakan dampak lanjutan dari penyesuaian bobot saham-saham besar di pasar modal.

Meskipun demikian, harapan tetap ada pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat. Reformasi pasar modal di semester kedua 2026 diharapkan dapat membawa angin segar bagi kepercayaan para investor.

Di sisi lain, investor tetap diminta waspada terhadap fluktuasi harga pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar. Sebab, pergerakan kecil pada emiten seperti BBCA dan BBRI akan berdampak langsung pada wajah indeks secara umum.

Artikel terkait

Rekomendasi