Presiden China, Xi Jinping, dikabarkan bakal melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara dalam waktu dekat. Lawatan bersejarah ini diprediksi berlangsung paling cepat pada pekan depan atau antara akhir Mei hingga awal Juni 2026.
Kabar tersebut pertama kali mencuat melalui laporan Reuters pada Kamis (21/5/2026). Kehadiran Xi di Pyongyang bertujuan untuk mengambil peran sebagai mediator guna meredakan ketegangan antara Kim Jong Un dan Donald Trump.
Upaya Diplomasi China di Semenanjung Korea
Langkah serius China mulai terlihat dengan hadirnya tim keamanan serta pejabat protokol dari Beijing di Pyongyang baru-baru ini. Tim tersebut bertugas mempersiapkan segala kebutuhan teknis sebelum kedatangan Xi Jinping.
Pihak berwenang menyebutkan bahwa Xi ingin menjembatani komunikasi antara pihak Korea Utara dan Amerika Serikat. Hal ini menyusul pernyataan Donald Trump yang mengaku tetap membuka pintu dialog dengan Kim Jong Un.
Trump sebelumnya telah mengadakan pertemuan sebanyak tiga kali dengan Kim pada periode pertamanya menjabat. Pertemuan-pertemuan tersebut fokus membahas negosiasi terkait program senjata nuklir yang dimiliki Korea Utara.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyambut positif potensi pertemuan antara pemimpin China dan Korea Utara tersebut. Mereka berharap dialog kedua negara dapat menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan Semenanjung Korea.
Meski begitu, Seoul enggan berkomentar lebih jauh mengenai detail laporan kunjungan tersebut. Mereka hanya menekankan pentingnya peran konstruktif Beijing sebagai mitra utama Pyongyang.
Hubungan Strategis Beijing dan Pyongyang
China merupakan sekutu politik sekaligus penopang ekonomi terbesar bagi Korea Utara selama puluhan tahun. Kedua negara terus berupaya mempererat hubungan yang sempat renggang akibat kebijakan penutupan wilayah saat pandemi.
Tahun lalu, Kim Jong Un menunjukkan kedekatan diplomatiknya dengan mengunjungi Beijing secara langsung. Kim bahkan sempat terlihat berdampingan dengan Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah parade militer.
Berikut adalah poin-poin utama yang melatarbelakangi penguatan hubungan bilateral kedua negara:
- Dukungan Terhadap Isolasi: China berperan sebagai penyeimbang di tengah tekanan ekonomi dan sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat terhadap Korea Utara.
- Ketahanan Ekonomi: Di tengah konflik global yang melibatkan AS dan Iran, perdagangan antara China dan Korea Utara justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
- Pasokan Energi: Beijing terus menjadi sumber energi utama yang menjaga keberlangsungan infrastruktur dan ekonomi di Korea Utara.
Melalui dukungan ini, Korea Utara memiliki ruang gerak yang lebih luas meskipun terus mendapat sorotan tajam dari komunitas internasional terkait pengembangan senjata nuklirnya.
Peningkatan Volume Perdagangan Bilateral
Data terbaru menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi kedua negara mencapai puncaknya pada awal tahun 2026. Nilai perdagangan selama periode Januari hingga Februari menyentuh angka 427 juta dolar AS atau sekitar Rp7,5 triliun.
Angka pencapaian tersebut tercatat sebagai nilai transaksi tertinggi dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Beijing tetap menjadi pasar utama bagi berbagai komoditas ekspor Korea Utara yang tidak terkena sanksi PBB.
Informasi detail mengenai transaksi mineral strategis kedua negara pada tahun 2025 dapat dilihat pada tabel berikut:
| Jenis Komoditas Mineral | Nilai Impor (USD) | Estimasi Nilai (Rupiah) |
|---|---|---|
| Molybdenum | 17,2 Juta | Rp303 Miliar |
| Tungsten | 31,5 Juta | Rp555 Miliar |
Logam-logam penting seperti molybdenum dan tungsten ini digunakan oleh China untuk keperluan industri strategis, termasuk pembuatan roket. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran Korea Utara sebagai pemasok bahan baku industri berat China.