Waspada Gen Z, Pakar UI Ungkap Gejala Kanker Usus Besar Terbaru 2026

Waspada Gen Z, Pakar UI Ungkap Gejala Kanker Usus Besar Terbaru 2026
Foto: Waspada Gen Z, Pakar UI Ungkap Gejala Kanker Usus Besar Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Generasi Z kini diminta untuk lebih waspada terhadap gangguan pencernaan yang tampak sepele namun berisiko fatal. Pakar kesehatan memperingatkan adanya ancaman penyakit peradangan usus kronis yang bisa memicu kanker.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, mengungkapkan bahwa kondisi ini dikenal sebagai Inflammatory Bowel Disease (IBD). Masalah kesehatan ini sering kali terabaikan karena gejalanya yang mirip dengan gangguan pencernaan biasa.

Lonjakan Kasus pada Usia Produktif

Data menunjukkan bahwa penderita IBD terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif antara 15 hingga 30 tahun. Berdasarkan riset Asia-Pacific Crohn's and Colitis Epidemiologic Study, angka insiden di Indonesia mencapai 0,77 per 100 ribu penduduk.

Prof. Ari menyebutkan bahwa angka asli di lapangan kemungkinan jauh lebih besar dari data yang terlapor. Hal ini terjadi karena banyak pasien yang baru menyadari kondisinya setelah penyakit mencapai stadium lanjut.

Kondisi IBD sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang akibat gejala yang muncul secara terus-menerus. Jika tidak ditangani dengan tepat, peradangan ini memiliki risiko tinggi berkembang menjadi kanker usus besar.

Kanker usus besar saat ini semakin banyak ditemukan di tengah masyarakat Indonesia. Salah satu faktor pemicu utamanya adalah perjalanan penyakit dari peradangan usus yang tidak terobati.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Pasien yang mengalami diare non-infeksi memiliki peluang sekitar 10 persen disebabkan oleh faktor IBD. Meskipun persentasenya terlihat kecil, potensi sel kanker berkembang akan jauh lebih cepat jika peradangan dibiarkan.

Beberapa indikasi medis yang harus segera mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut antara lain:

  • Diare berulang yang terjadi lebih dari dua minggu secara berturut-turut.
  • Penurunan berat badan secara drastis tanpa penyebab yang jelas.
  • Munculnya darah saat buang air besar yang menandakan adanya luka di usus.

Tanda-tanda di atas merupakan sinyal serius bahwa sistem pencernaan sedang mengalami gangguan kronis. Konsultasi medis sangat disarankan agar peradangan tidak meluas menjadi keganasan atau kanker.

Pengaruh Pola Makan dan Jenis Makanan Pemicu

Pola makan memegang peran krusial dalam mengendalikan gejala IBD agar tidak semakin parah. Prof. Ari mengimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan tertentu yang dapat memicu kekambuhan.

Berikut adalah daftar makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita gangguan pencernaan kronis:

Kategori Makanan Contoh Menu/Jenis Makanan
Makanan Tradisional Berlemak Gudeg, rendang, dan sate kambing atau ayam.
Produk Olahan Susu & Lemak Keju, cokelat, dan makanan tinggi lemak jenuh.
Makanan Pabrikan Ultra processed food (UPF) atau makanan instan.

Tabel tersebut merangkum jenis asupan yang berpotensi memperburuk kondisi peradangan pada dinding usus. Menghindari jenis makanan ini merupakan langkah preventif untuk menjaga kesehatan pencernaan jangka panjang.

Selain menjaga pola makan, kesadaran dini terhadap gejala fisik menjadi kunci utama pencegahan. Edukasi mengenai IBD diharapkan mampu menekan angka kasus kanker usus besar pada generasi muda di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi