Kanker hingga kini masih menjadi salah satu penyakit yang menyumbang angka kematian tertinggi di tingkat global. Selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan genetika, kebiasaan makan sehari-hari ternyata memegang peranan vital dalam memicu risiko penyakit ini.
Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, SpPD-KHOM, seorang spesialis hematologi onkologi, menjelaskan bahwa penyebab pasti kanker memang belum bisa ditentukan secara tunggal. Namun, ia menekankan bahwa pola makan buruk yang memicu obesitas dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kanker payudara.
Hubungan Obesitas dan Risiko Kanker
Kelebihan asupan kalori yang berujung pada kegemukan menjadi perhatian serius dalam dunia medis. Dr. Jeffry mengungkapkan bahwa data penelitian menunjukkan kelompok wanita dengan obesitas memiliki risiko kanker yang jauh lebih tinggi.
Selain faktor berat badan, riwayat kesehatan keluarga juga menjadi elemen yang tidak bisa diabaikan. Adanya mutasi genetik seperti BRCA sering kali menjadi faktor keturunan yang memperbesar peluang munculnya sel kanker pada payudara.
Beberapa kebiasaan dan faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain:
- Pola makan surplus kalori yang menyebabkan berat badan berlebih atau obesitas.
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka panjang.
- Adanya faktor genetik atau riwayat mutasi gen BRCA dari garis keturunan.
- Kurangnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini secara rutin.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh dr. Jeffry dalam acara The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta Pusat. Beliau mengingatkan bahwa modifikasi gaya hidup merupakan langkah preventif yang paling mendasar.
Pentingnya Deteksi Dini Melalui Skrining Medis
Langkah pencegahan terbaik selain menjaga pola makan adalah dengan melakukan pemeriksaan payudara, baik secara mandiri maupun klinis. Pemeriksaan ini sangat krusial untuk menemukan potensi kelainan sebelum berkembang menjadi stadium lanjut.
Bagi wanita yang memiliki riwayat keluarga pengidap kanker atau sudah berusia di atas 40 tahun, pemeriksaan medis secara berkala sangat disarankan. Teknologi medis saat ini sudah sangat mumpuni untuk mendeteksi benjolan yang bahkan belum terasa saat diraba secara manual.
Berikut adalah metode pemeriksaan medis yang umum digunakan untuk deteksi dini:
| Metode Pemeriksaan | Kategori Usia | Teknologi yang Digunakan |
|---|---|---|
| USG Mammae | Di bawah 40 tahun | Gelombang suara (non-invasif) |
| Mammografi | Di atas 40 tahun | Sinar-X dosis rendah |
Tabel di atas merincikan perbedaan jenis skrining berdasarkan kelompok usia pasien. Pemilihan metode yang tepat akan membantu dokter mendapatkan gambaran jaringan payudara yang lebih akurat.
Dr. Jeffry juga menambahkan bahwa akses terhadap alat kesehatan seperti USG dan mammografi kini sudah merata di berbagai kota di Indonesia. Hal ini seharusnya memudahkan masyarakat untuk melakukan kontrol kesehatan tanpa harus pergi ke kota besar.
Menutup penjelasannya, beliau menegaskan bahwa kesadaran akan kesehatan diri sendiri adalah kunci utama. Dengan mengombinasikan gaya hidup sehat dan skrining rutin, risiko fatalitas akibat kanker dapat ditekan secara signifikan.