Jagad media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh aksi seorang kreator konten yang menuai kecaman luas dari warganet. Ia dituding melakukan tindakan yang merendahkan penyandang disabilitas saat sedang mempromosikan produk kecantikan.
Kreator TikTok bernama Xander tersebut memicu kemarahan publik setelah mengunggah konten yang dianggap mengejek kondisi fisik tertentu. Aksinya yang memparodikan disabilitas demi kebutuhan promosi dinilai sangat tidak pantas dan tidak berempati.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Xander akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui unggahan terbarunya. Ia berdalih bahwa konten tersebut dibuat tanpa niat untuk menyinggung atau menyakiti perasaan kelompok disabilitas.
Meski sudah meminta maaf, netizen tetap melabeli tindakan tersebut sebagai bentuk nyata dari perilaku ableisme atau ableism. Istilah ini merujuk pada sikap diskriminatif yang mungkin sering terjadi namun jarang disadari oleh masyarakat umum.
Memahami Definisi Ableisme
Menurut penjelasan dari American Psychological Association (APA), ableisme merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Sikap ini sering kali dibarengi dengan pandangan yang menganggap penyandang disabilitas harus "disembuhkan" agar kembali normal.
Secara lebih mendalam, ableisme menempatkan individu non-disabilitas pada posisi yang lebih tinggi atau lebih berharga. Hal ini menyebabkan penyandang disabilitas dipandang sebelah mata atau dianggap memiliki status sosial yang lebih rendah.
Fenomena ini sering muncul karena masyarakat terlalu berfokus pada standar kemampuan umum manusia pada umumnya. Akibatnya, orang-orang dengan kemampuan atau kondisi fisik yang berbeda sering kali terpinggirkan dari lingkungan sosial.
Melansir informasi dari laman WebMD, banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari yang sebenarnya bersifat diskriminatif tanpa kita sadari. Perilaku ableist tidak selalu muncul dari niat buruk, namun bisa lahir dari kurangnya edukasi dan pemahaman.
Beberapa contoh tindakan ableisme dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
- Memisahkan siswa yang memiliki disabilitas ke lingkungan sekolah yang berbeda secara eksklusif.
- Melakukan isolasi atau membatasi ruang gerak siswa penyandang disabilitas dalam aktivitas sosial.
- Membangun fasilitas publik tanpa aksesibilitas, seperti ketiadaan jalur kursi roda atau petunjuk huruf braille.
- Menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan candaan, ejekan, atau parodi di media sosial maupun dunia nyata.
- Aktor non-disabilitas yang memerankan karakter disabilitas dalam film atau pertunjukan seni.
- Karya audio visual yang tidak dilengkapi dengan teks atau transkripsi audio untuk membantu akses informasi.
- Menggunakan fasilitas khusus seperti toilet disabilitas padahal kondisi fisik dalam keadaan sehat dan normal.
- Berinteraksi atau berbicara kepada penyandang disabilitas dewasa dengan gaya bahasa seperti sedang bicara pada anak kecil.
- Mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi dan mengganggu mengenai kondisi disabilitas seseorang.
- Memiliki persepsi bahwa disabilitas harus terlihat secara fisik agar dianggap benar-benar ada atau nyata.
Daftar di atas menunjukkan bahwa diskriminasi bisa terjadi mulai dari skala sistemik hingga perilaku interpersonal yang dianggap sepele. Memahami poin-poin tersebut sangat penting agar kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi semua orang.
Dampak Ableisme di Masyarakat
Edukasi mengenai isu ini menjadi krusial agar tidak ada lagi konten media sosial yang mengeksploitasi keterbatasan fisik demi popularitas. Kesadaran publik diharapkan dapat meminimalisir perilaku yang merugikan martabat penyandang disabilitas di masa depan.
Penting bagi setiap individu untuk mulai mengevaluasi cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan kelompok disabilitas. Menghargai perbedaan adalah langkah awal untuk menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada mereka.