Viral Jasa Sewa Tas Hermes Birkin Rp171 Juta Setahun, Banyak Dipakai Pansos 2026

Viral Jasa Sewa Tas Hermes Birkin Rp171 Juta Setahun, Banyak Dipakai Pansos 2026
Foto: Viral Jasa Sewa Tas Hermes Birkin Rp171 Juta Setahun, Banyak Dipakai Pansos 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Memiliki tas Hermes Birkin sering kali dianggap sebagai pencapaian tertinggi bagi para kolektor barang mewah di seluruh dunia. Namun, harga yang sangat fantastis membuat tas ikonik ini sulit dijangkau oleh banyak orang, kecuali kalangan jetset seperti Kylie Jenner.

Kylie Jenner sendiri pernah terlihat mengenakan Hermes Birkin 35 berbahan kulit buaya warna biru tua yang harganya ditaksir mencapai USD 63.000 atau sekitar Rp1 miliar. Kondisi inilah yang kemudian memicu lahirnya fenomena layanan penyewaan barang mewah untuk memenuhi gengsi para pencinta fesyen.

Kini, masyarakat tidak perlu lagi merogoh kocek hingga miliaran rupiah hanya untuk menenteng tas eksklusif tersebut. Layanan berlangganan koleksi desainer mulai menjamur dan memberikan akses kepada konsumen untuk menyewa tas mewah dengan tarif yang jauh lebih rendah daripada harga belinya.

Tren ini memberikan peluang bagi banyak orang untuk merasakan pengalaman memakai tas paling langka di dunia tanpa harus memilikinya secara permanen. Hal ini dianggap sebagai solusi praktis bagi mereka yang ingin tampil maksimal di acara tertentu atau sekadar untuk kebutuhan konten.

Eksklusivitas Melalui Program Keanggotaan Berbayar

Vivrelle, sebuah platform penyewaan aksesori mewah ternama yang berbasis di New York, menjadi salah satu pelopor yang memopulerkan tren ini di kalangan pembuat konten. Baru-baru ini, mereka meluncurkan kategori keanggotaan khusus yang hanya bisa diakses melalui undangan resmi.

Program sangat terbatas ini ditujukan bagi anggota dengan profil pengeluaran tertinggi untuk menyewa berbagai koleksi perhiasan hingga tas Hermes langka. Beberapa model yang tersedia antara lain seri Birkin, Kelly, hingga Constance yang sangat sulit didapatkan di pasar ritel.

Vivrelle biasanya mendapatkan stok tas-tas prestisius tersebut melalui kerja sama dengan rumah lelang ternama maupun pengecer barang mewah terpercaya. Pelanggan cukup membayar biaya keanggotaan dasar mulai dari USD 800 atau sekitar Rp13 juta per bulan untuk mulai menyewa.

Perubahan pola konsumsi fesyen dari kepemilikan menjadi akses belaka :

  • Pergeseran budaya ini mengubah cara pandang orang terhadap barang-barang mewah.
  • Fokus utama kini beralih pada pengalaman memakai produk daripada investasi jangka panjang.
  • Konsumen lebih memilih fleksibilitas untuk bergonta-ganti gaya tanpa beban perawatan.
  • Platform penyewaan menjadi jembatan bagi mereka yang ingin mencicipi gaya hidup kelas atas.

Blake Geffen selaku pendiri Vivrelle menjelaskan bahwa fenomena ini menandai transformasi hubungan manusia dengan dunia mode. Namun, untuk bisa menyewa unit Hermes yang benar-benar langka, biaya keanggotaan tahunan bisa membengkak hingga USD 9.600 atau setara Rp171 juta.

Besaran angka tersebut memancing perdebatan di kalangan pengamat mode mengenai efisiensi pengeluaran tersebut. Sana Roychowdhury, seorang kolektor tas vintage asal New York, menilai biaya sewa setahun itu sebenarnya sudah cukup untuk membeli satu unit tas Kelly dalam kondisi bekas.

Munculnya Pro dan Kontra di Ranah Digital

Selain Vivrelle, platform asal Inggris bernama By Rotation juga ikut mengambil keuntungan dari tingginya minat masyarakat terhadap tas Hermes. Platform yang berdiri sejak 2019 ini memiliki sistem kerja yang berbeda dengan layanan berlangganan pada umumnya.

By Rotation memungkinkan antar pengguna untuk saling meminjamkan koleksi barang mewah mereka tanpa harus membayar iuran keanggotaan bulanan yang mengikat. Hal ini dianggap lebih inklusif bagi mereka yang hanya ingin menyewa sesekali saja.

Meski terlihat lebih fleksibel, tarif sewa harian yang ditetapkan oleh pemilik barang tetap tergolong sangat tinggi. Untuk satu unit tas mewah tertentu, penyewa bisa dikenakan biaya hingga USD 500 atau sekitar Rp8,5 juta hanya untuk pemakaian selama satu hari.

Beberapa poin keberatan yang muncul di media sosial terkait tren ini :

  • Kesan eksklusif tas Hermes dianggap menurun karena terlalu mudah ditemukan di mana saja.
  • Citra tas yang semula menjadi simbol status sosial permanen kini berubah menjadi sekadar properti foto.
  • Banyak yang mengkritik bahwa gaya hidup ini hanya demi mengejar popularitas semu di internet.
  • Nilai prestisius dari usaha mendapatkan tas tersebut di butik resmi menjadi hilang.

Di forum seperti Reddit, banyak warganet yang menyuarakan ketidaksenangan mereka terhadap tren penyewaan ini. Mereka berpendapat bahwa memiliki tas mewah asli memberikan kepuasan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan sekadar meminjam demi konten media sosial.

Strategi Kelangkaan yang Menjadi Daya Tarik Utama

Selama puluhan tahun, daya tarik utama Hermes Birkin terletak pada tingkat kesulitannya untuk dimiliki secara langsung. Konsumen tidak bisa begitu saja datang ke butik dan membawa pulang tas impian mereka tanpa melalui proses yang panjang.

Biasanya, calon pembeli harus menjalin hubungan baik dengan staf penjualan atau Sales Associate selama bertahun-tahun. Selain itu, mereka diwajibkan menunjukkan loyalitas dengan membeli produk lain seperti piring, selimut, atau perhiasan sebelum ditawari unit tas Birkin.

Di era digital, tantangan mendapatkan tas ini berubah menjadi semacam kompetisi strategi yang sering dibahas di TikTok. Banyak pengguna yang membagikan tips khusus mengenai cara berpakaian agar mendapatkan perhatian lebih dari staf butik Hermes saat berkunjung.

Seorang pengguna media sosial menceritakan pengalamannya yang gagal mendapatkan janji temu meskipun sudah berpakaian sangat mewah. Menariknya, ia justru berhasil mendapatkan akses tersebut saat datang dengan gaya yang lebih simpel namun tetap terlihat elegan.

Kenyataan bahwa keberhasilan mendapatkan tas sangat bergantung pada subjektivitas staf butik membuat Birkin semakin dikejar sebagai simbol status. Hal inilah yang mendorong generasi muda, terutama Gen Z, untuk melihat Birkin sebagai elemen penting dalam membangun persona di dunia maya.

Transformasi Citra Dari Quiet Luxury Menjadi Ajang Pamer

Popularitas Birkin di platform TikTok telah mengubah identitas tas ini secara signifikan di mata publik. Berbagai konten mulai dari unboxing hingga video "apa yang ada di dalam tas saya" telah ditonton oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia.

Sebelum layanan sewa seperti Vivrelle meledak, publik sudah sering meragukan keaslian kepemilikan para influencer terhadap koleksi tas mereka. Muncul spekulasi bahwa banyak dari mereka yang saling meminjam tas satu sama lain hanya untuk keperluan pengambilan gambar konten.

Pada tahun 2025, media mode ternama WWD sempat mempertanyakan apakah tindakan para influencer ini merusak nilai eksklusivitas Birkin. Mereka menilai bahwa media sosial telah menyeret citra Birkin keluar dari ranah quiet luxury atau kemewahan yang tenang.

Kini, Hermes Birkin lebih sering dianggap sebagai lambang kekayaan yang sengaja dipamerkan secara terbuka dan mencolok. Fase penyewaan tas mewah ini menjadi bukti bahwa tren mode terus berevolusi mengikuti kebutuhan pengakuan di ruang digital.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan bahwa orang-orang kini lebih menghargai akses sementara daripada kepemilikan jangka panjang. Semua itu dilakukan demi menjaga penampilan dan memenuhi standar gaya hidup yang kian tinggi di era konten digital saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi