Turis Italia Tewas Menyelam di Maladewa Dimakamkan, Penyebabnya Masih Misterius dan Banyak Dicari 2026

Turis Italia Tewas Menyelam di Maladewa Dimakamkan, Penyebabnya Masih Misterius dan Banyak Dicari 2026
Foto: Turis Italia Tewas Menyelam di Maladewa Dimakamkan, Penyebabnya Masih Misterius dan Banyak Dicari 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman dua dari lima wisatawan asal Italia yang kehilangan nyawa saat melakukan aktivitas penyelaman di Maladewa. Meski jasad para korban telah dipulangkan dan dimakamkan pada Sabtu, 30 Mei 2026, penyebab pasti tragedi maut ini masih menyisakan tanda tanya besar.

Ibadah pelepasan jenazah bagi Monica Montefalcone yang berusia 51 tahun dan putrinya, Giogia Sommacal, dilangsungkan di Gereja San Francesco di Pegli, Genoa. Upacara tersebut dihadiri oleh sekitar 2.000 pelayat yang terdiri dari anggota keluarga, kerabat dekat, hingga rekan-rekan mahasiswa dan dosen tempat Monica mengabdi.

Pendeta Don Corrado yang memimpin doa menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian kedua sosok yang sangat dicintai oleh komunitas lokal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa lingkungan mereka merasakan kekosongan yang amat besar serta ketidakpercayaan atas peristiwa yang begitu mendadak ini.

Kesedihan yang luar biasa juga terpancar dari Carlo Sommacal, suami sekaligus ayah para korban, yang merasa sulit memberikan ciuman perpisahan terakhir di peti jenazah. Ia menyatakan ingin selalu mengingat istri dan anaknya melalui senyum mereka yang penuh semangat dan pancaran keceriaan semasa hidup.

Kedua peti kayu berwarna terang yang berisi jasad ibu dan anak itu tampak dipenuhi tumpukan mawar putih saat dibawa masuk ke dalam gereja. Di lokasi tersebut, dipajang pula foto kenangan mereka berdua dengan latar belakang birunya laut yang sangat mereka gemari selama hidup.

Rekam Jejak Penelitian dan Investigasi Hukum

Monica Montefalcone bukanlah sosok baru dalam dunia eksplorasi bawah laut, mengingat rekam jejak akademisnya yang sangat mengesankan di kancah internasional. Sejak tahun 2003, ilmuwan dari Universitas Genoa ini diketahui telah memublikasikan sedikitnya empat karya ilmiah terkait pengambilan sampel sedimen di perairan Maladewa.

Penelitian-penelitian sebelumnya bahkan dilakukan pada kedalaman yang jauh lebih ekstrem, yakni berkisar antara 210 hingga 270 kaki di bawah permukaan laut. Kedalaman ini melebihi lokasi kecelakaan di Atol Vaavu, di mana kelompok penyelam tersebut ditemukan tewas pada kedalaman maksimal 200 kaki.

Kini, investigasi terkait dugaan pembunuhan atau kelalaian tengah dilakukan oleh pihak kejaksaan di Roma untuk mendalami tanggung jawab operator kapal Albatros. Muncul pula perdebatan antara pemerintah Maladewa dan pihak universitas mengenai prosedur keselamatan dan izin operasional yang dilakukan saat kejadian berlangsung.

Otoritas Maladewa akhirnya memberikan klarifikasi resmi mengenai status perizinan tim peneliti asal Italia tersebut saat melakukan kegiatan di wilayah mereka. Mereka mengonfirmasi bahwa Montefalcone bersama dua rekan peneliti lainnya memiliki izin resmi untuk menyelam hingga kedalaman 160 kaki guna mengambil sampel karang.

Rincian mengenai status izin para korban dalam kegiatan penelitian tersebut antara lain:

  • Monica Montefalcone (Peneliti): Memiliki izin resmi dari Departemen Penelitian Kelautan untuk pengambilan sampel karang lunak.
  • Muriel Oddenino (Peneliti): Tercantum dalam daftar izin resmi penelitian sistem terumbu karang.
  • Federico Gualtieri (Peneliti): Memiliki legalitas resmi untuk melakukan penyelaman riset di area yang ditentukan.
  • Giogia Sommacal (Anak Monica): Namanya tidak tercantum dalam dokumen pengajuan izin penelitian kelautan.
  • Gianluca Benedetti (Instruktur): Tidak terdaftar dalam izin khusus penelitian yang diajukan pada Februari 2026.

Hussain Shareef selaku juru bicara pemerintah Maladewa menjelaskan bahwa izin diberikan khusus untuk penelitian karang lunak dan komposisi sistem terumbu karang. Namun, ia menekankan adanya pelanggaran karena lokasi penyelaman yang dilakukan ternyata berada di dalam area gua bawah laut.

Misteri Peralatan dan Kondisi di Kedalaman Gua

Keberadaan para korban di lokasi gua bawah laut menjadi sorotan utama karena terumbu karang yang menjadi objek penelitian biasanya membutuhkan cahaya matahari. Karena cahaya matahari tidak dapat menembus kedalaman gua, aktivitas penyelaman di area tersebut dianggap tidak relevan dengan tujuan awal penelitian.

Teka-teki kematian ini semakin diperumit dengan laporan mengenai penggunaan peralatan selam yang dinilai tidak sesuai dengan standar keamanan untuk penyelaman gua. Seorang penyelam profesional, Sami Paakkarinen, mengungkapkan kepada media bahwa perlengkapan yang ditemukan pada jasad korban tidak optimal untuk kondisi tersebut.

Meskipun penyelaman di kedalaman 165 kaki bisa dilakukan dengan alat rekreasi biasa, risiko menjadi berlipat ganda saat berada di lingkungan gua yang sempit. Paakkarinen menjelaskan bahwa dalam kondisi lingkungan yang ekstrem, waktu yang dimiliki penyelam untuk kembali ke permukaan menjadi sangat terbatas dan berbahaya.

Carlo Sommacal membela dedikasi istrinya dengan menegaskan bahwa kepergian Monica ke Maladewa murni untuk menjalankan tugas ilmiah yang sangat ia kuasai. Menurutnya, Monica memiliki keahlian luar biasa dan telah memublikasikan sedikitnya 34 studi bawah laut tentang negara kepulauan tersebut sejak 2006.

Pihak keluarga meyakini bahwa Monica tidak mungkin melakukan kecerobohan dasar mengingat pengalamannya yang sangat luas dalam dunia riset kelautan. Namun, fakta-fakta yang ditemukan di lapangan oleh tim penyelamat memberikan gambaran yang berbeda mengenai detik-detik terakhir para korban.

Analisis Lokasi Penemuan Jasad

Tim penyelam dari Finlandia yang berhasil menemukan jasad para korban menduga kuat bahwa rombongan tersebut mengalami disorientasi arah di dalam gua. Mereka diduga salah mengambil jalur ketika mencoba mencari jalan keluar untuk segera kembali ke permukaan laut.

Berikut adalah tabel ringkasan mengenai kondisi medan di dalam gua bawah laut yang menjadi lokasi kejadian:

Zona Gua Karakteristik Medan Risiko Bagi Penyelam
Ruang Pertama Area luas, terang, dasar pasir Aman dengan jarak pandang baik
Koridor Penghubung Panjang 30m, lebar 3m Cahaya mulai berkurang
Gundukan Pasir Terletak di antara ruang 1 & 2 Tampak seperti dinding saat akan keluar
Ruang Kedua Bundar, tanpa cahaya alami Sangat rawan memicu disorientasi
Koridor Buntu Jalur di sisi kiri gundukan Jalur salah yang tidak memiliki jalan keluar

Penjelasan mengenai kondisi medan di atas menggambarkan betapa sulitnya navigasi di dalam gua tersebut bagi penyelam yang tidak memiliki peralatan khusus. Kesalahan kecil dalam menentukan arah saat melewati gundukan pasir dapat berakibat fatal bagi keselamatan nyawa penyelam.

CEO DAN Europe, Laura Marroni, menyebutkan bahwa jasad para korban ditemukan berkumpul di dalam sebuah koridor yang ternyata merupakan jalan buntu. Hal ini memperkuat dugaan bahwa mereka panik dan mengira koridor tersebut adalah jalur keluar yang benar saat oksigen mulai menipis.

Hingga saat ini, proses hukum dan investigasi mendalam masih terus berjalan untuk mengungkap apakah ada faktor kelalaian manusia dari pihak operator. Kepergian lima warga Italia ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kepatuhan pada prosedur keselamatan dalam aktivitas penyelaman ekstrem.

Artikel terkait

Rekomendasi