Tren Solo Dining 2026 Meningkat, Ini Tips Makan Sendirian Tanpa Ribet Saat Traveling

Tren Solo Dining 2026 Meningkat, Ini Tips Makan Sendirian Tanpa Ribet Saat Traveling
Foto: Tren Solo Dining 2026 Meningkat, Ini Tips Makan Sendirian Tanpa Ribet Saat Traveling. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kegiatan solo traveling kini semakin populer karena menawarkan kebebasan penuh bagi para pelancong dalam menyusun agenda perjalanan mereka sendiri. Wisatawan tunggal bisa dengan bebas menentukan destinasi wisata yang ingin dikunjungi hingga memilih tempat makan sesuai selera pribadi tanpa perlu kompromi.

Namun, kenyataan di lapangan ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan, terutama saat berurusan dengan urusan perut di tempat makan. Ternyata, masih banyak restoran di berbagai belahan dunia yang menunjukkan sikap kurang bersahabat terhadap pelanggan yang datang sendirian.

Diskriminasi Terhadap Pengunjung Tunggal di Restoran

Fenomena penolakan terhadap pengunjung solo sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah foto dari Korea Selatan viral pada akhir tahun lalu. Foto tersebut memperlihatkan sebuah papan pengumuman di depan pintu masuk sebuah restoran yang secara terang-terangan menolak tamu tanpa teman.

Papan pengumuman tersebut mencantumkan empat pilihan yang cukup menyudutkan bagi pengunjung yang datang sendirian:

  • Membayar biaya setara untuk dua porsi makanan sekaligus.
  • Menghabiskan dua porsi makanan secara mandiri di tempat.
  • Menghubungi teman agar datang menemani makan di sana.
  • Datang kembali di waktu lain bersama pasangan atau istri.

Sikap diskriminatif terhadap mereka yang ingin makan sendirian ternyata bukan hanya terjadi di Negeri Ginseng, melainkan merambah ke benua Eropa. Di Barcelona, Spanyol, sejumlah restoran dilaporkan mendapatkan kecaman keras pada tahun 2023 karena menolak tamu yang datang sendirian.

Berdasarkan laporan media setempat, para pelayan sering kali memberikan alasan klasik bahwa kursi di restoran tersebut sudah penuh dipesan. Namun, banyak pihak menduga penolakan ini sebenarnya terjadi karena pemilik restoran ingin memaksimalkan keuntungan dengan memprioritaskan grup besar.

Strategi penolakan ini sering terlihat pada area teras restoran yang sangat diminati oleh para turis untuk menikmati suasana kota. Selain Spanyol, kejadian serupa dialami seorang wanita di sebuah restoran Turki yang berlokasi di Liverpool, Inggris, beberapa waktu lalu.

Wanita tersebut ditolak saat ingin makan sendirian dengan alasan pihak restoran tidak menyediakan meja untuk satu orang pada jam-jam sibuk. Alasan efisiensi ruang sering kali menjadi senjata bagi pengusaha kuliner untuk mengesampingkan para solo diner demi tamu berkelompok.

Lonjakan Tren Makan Sendirian di Seluruh Dunia

Ironisnya, kebijakan penolakan ini terjadi di tengah lonjakan tren makan sendirian yang justru semakin diminati oleh masyarakat modern. Laure Bornet, Senior Vice President di platform reservasi OpenTable, menegaskan bahwa fenomena ini telah menjadi tren gaya hidup global yang signifikan.

Berikut adalah ringkasan data pertumbuhan tren makan sendirian berdasarkan statistik global terbaru:

Kategori Data Informasi Statistik
Kenaikan Tahunan Meningkat 19 persen pada tahun 2025 di seluruh dunia.
Rata-rata Pengeluaran Mencapai $90 per orang untuk sekali kunjungan.
Perbandingan Biaya 54 persen lebih tinggi dibandingkan pengeluaran rata-rata per orang umum.
Pertumbuhan Nilai Transaksi Naik sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Data dari OpenTable tersebut menunjukkan bahwa pengunjung tunggal sebenarnya merupakan segmen pasar yang sangat potensial bagi industri kuliner. Mereka cenderung rela merogoh kocek lebih dalam demi menikmati hidangan berkualitas tinggi meskipun dilakukan tanpa teman bicara.

Strategi Kuliner bagi Pelancong Tunggal di Korea Selatan

Bagi para pelancong yang sedang berada di Korea Selatan, tantangan makan sendirian memang terasa lebih nyata karena budaya makan di sana bersifat komunal. Menu populer seperti Korean BBQ atau sup dalam panci besar biasanya dirancang untuk dinikmati oleh setidaknya dua orang atau lebih.

Gloria Chung Wing Han, seorang penulis perjalanan profesional, memberikan saran agar wisatawan solo lebih cermat dalam mencari tempat makan. Ia menyarankan untuk mengunjungi kedai mi atau kantin lokal yang biasa disebut dengan istilah sikdang di Korea.

Tempat-tempat makan jenis ini biasanya lebih terbuka dan memang menyediakan menu porsi satuan yang ramah bagi pelanggan individu. Gloria juga merekomendasikan pencarian tempat makan di area distrik bisnis yang padat seperti wilayah Gangnam atau Jongno.

Selain itu, wisatawan bisa memanfaatkan aplikasi Naver Maps yang merupakan aplikasi navigasi utama dan paling akurat di Korea Selatan. Aplikasi ini menyediakan fitur filter khusus yang memungkinkan pengguna mencari restoran dengan label ramah bagi pengunjung solo.

Tips Menghindari Penolakan Saat Makan Sendirian

Jika Anda sedang melakukan perjalanan di luar Korea Selatan, ada beberapa strategi tambahan agar tetap bisa menikmati kuliner tanpa hambatan. Gloria menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari jenis makanan keluarga seperti hot pot Cina atau paella yang porsinya sangat besar.

Simak beberapa langkah cerdas agar tidak mendapatkan penolakan dari pihak restoran saat bepergian sendiri:

  • Selalu lakukan reservasi terlebih dahulu jika ingin mengunjungi restoran dengan konsep fine dining.
  • Cek kebijakan restoran bintang Michelin, karena beberapa tempat membatasi pesanan satu orang demi menjaga pendapatan meja.
  • Pilihlah waktu makan di luar jam sibuk, seperti lebih awal sebelum jam makan siang atau sesudah jam makan malam utama.
  • Manfaatkan area bar di restoran yang biasanya lebih fleksibel bagi pelanggan yang datang sendirian.

Memilih waktu kunjungan yang lebih sepi memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelancong yang bepergian tanpa teman. Saat restoran tidak terlalu padat, beban kerja staf berkurang sehingga mereka biasanya jauh lebih ramah dan bersedia memberikan kursi bagi pelanggan tunggal.

Secara keseluruhan, meskipun tantangan bagi solo diner masih ada di beberapa tempat, kesadaran industri terhadap tren ini mulai meningkat. Memahami pola operasional restoran dan memanfaatkan teknologi navigasi menjadi kunci utama untuk tetap bisa menikmati wisata kuliner dengan nyaman.

Artikel terkait

Rekomendasi