Tren Buah Kiwi Jadi Camilan Favorit Pelari di Korea, Ternyata Ini Manfaatnya yang Mengejutkan

Tren Buah Kiwi Jadi Camilan Favorit Pelari di Korea, Ternyata Ini Manfaatnya yang Mengejutkan
Foto: Tren Buah Kiwi Jadi Camilan Favorit Pelari di Korea, Ternyata Ini Manfaatnya yang Mengejutkan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Olahraga lari kini tengah menjadi tren yang sangat digandrungi oleh masyarakat di Korea Selatan. Fenomena ini terlihat dari melonjaknya jumlah agenda kompetisi lari yang diselenggarakan di berbagai wilayah negara tersebut.

Berdasarkan data dari situs komunitas Marathon Online, tercatat akan ada sekitar 494 ajang maraton yang digelar sepanjang tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2025 yang mengadakan 394 acara, bahkan meningkat dua kali lipat dari tahun 2021.

Laporan dari Gallup Korea pada Juli 2025 juga memperkuat tren ini, di mana 31 persen responden mengaku telah melakukan aktivitas lari. Dengan kata lain, satu dari tiga penduduk Korea Selatan yang berusia di atas 13 tahun setidaknya pernah mencoba berlari dalam setahun terakhir.

Jika merujuk pada data statistik tersebut, jumlah populasi pelari di Negeri Gingseng diperkirakan telah menyentuh angka 10 juta orang. Kenaikan minat pada olahraga ini secara otomatis memicu perhatian masyarakat terhadap asupan nutrisi yang tepat bagi tubuh.

Pergeseran Tren Camilan Sehat bagi Pelari

Saat ini para pelari di Korea Selatan mulai beralih dari camilan praktis buatan pabrik menuju bahan pangan yang lebih alami. Mereka kini lebih memilih makanan utuh atau yang diproses seminimal mungkin untuk memulihkan stamina setelah berlari.

Sebelumnya, energy bar atau batang energi menjadi pilihan utama karena kepraktisannya. Namun, kini banyak pelari yang menghindarinya karena kandungan gula buatan dan bahan aditif yang dianggap kurang sehat bagi tubuh.

Sebagai gantinya, buah-buahan seperti apel, tomat, dan pisang kini menjadi tren baru di kalangan komunitas lari. Namun, di antara semua pilihan tersebut, buah kiwi menjadi yang paling menonjol karena memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi.

Melansir laporan dari Korea Times pada Senin, 25 Mei 2026, buah kiwi diketahui mengandung lebih dari 20 jenis vitamin serta mineral. Kandungan yang paling diunggulkan adalah vitamin C yang berperan krusial dalam proses pemulihan fisik setelah berolahraga.

Rincian nutrisi dan manfaat utama buah kiwi bagi tubuh :

  • Kandungan Vitamin C Tinggi: Setiap 100 gram kiwi mengandung 152 mg vitamin C yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan harian orang dewasa.
  • Antioksidan Alami: Membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menjaga vitalitas setelah melakukan aktivitas fisik yang berat.
  • Mengatasi Peradangan: Sangat efektif dalam meredakan rasa lelah dan respons inflamasi pada otot setelah olahraga intensitas tinggi.
  • Indeks Glikemik Rendah: Membantu mengisi energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis, sehingga aman bagi metabolisme.

Penelitian dari Universitas Otago di Selandia Baru juga membuktikan manfaat ini melalui studi terhadap orang dewasa yang rutin mengonsumsi dua buah kiwi setiap hari. Hasilnya, kadar vitamin C dalam tubuh mereka kembali normal, sementara gejala kelelahan dan penanda peradangan menurun drastis.

Keunggulan lain dari kiwi adalah nilai Indeks Glikemik (GI) yang rendah, yakni sekitar 51 untuk kiwi hijau dan 48 untuk jenis SunGold. Karena angka tersebut berada di bawah standar GI rendah (55), pelari tidak perlu khawatir akan kenaikan gula darah secara mendadak.

Perbandingan jenis kiwi berdasarkan nilai Indeks Glikemik :

Jenis Buah Kiwi Nilai Indeks Glikemik (GI) Kategori GI
Kiwi Hijau Zespri 51 Rendah
Kiwi SunGold 48 Rendah
Standar Maksimal GI Rendah 55 Batas Aman

Data di atas memperlihatkan bahwa kedua jenis kiwi tersebut sangat aman dikonsumsi untuk menjaga kestabilan energi pelari. Hal ini menjadikannya pilihan camilan yang lebih unggul dibandingkan makanan olahan yang beredar di pasaran.

Fenomena Unik Butter Runs di Amerika Serikat

Berbeda dengan tren kesehatan di Korea Selatan, pelari di Amerika Serikat justru sedang diramaikan oleh tantangan unik bertajuk "Butter Runs". Tren yang juga dikenal dengan sebutan "Churn and Burn" ini menggabungkan olahraga lari dengan aktivitas mengolah bahan makanan.

Tantangan ini bermula dari eksperimen sekelompok pelari lintas alam di wilayah Oregon yang mencoba membuat mentega dengan cara tidak biasa. Mereka memasukkan botol berisi krim kental ke dalam rompi lari untuk memanfaatkan guncangan tubuh saat bergerak.

Tanpa diduga, guncangan yang terjadi selama berlari berhasil mengubah tekstur krim tersebut menjadi mentega padat. Ide kreatif ini kemudian diikuti oleh pasangan Libby Cope dan Jacob Arnold pada awal tahun 2026 setelah terinspirasi secara tidak sengaja.

Libby bercerita bahwa ide tersebut muncul saat ia sedang menuangkan krim kental ke dalam kopi di pagi hari. Jacob kemudian bertanya apakah krim tersebut bisa berubah menjadi mentega jika terus-menerus digoncangkan secara manual.

Langkah-langkah dalam melakukan tren membuat mentega sambil berlari :

  • Persiapan Bahan: Siapkan sekitar 32 ons krim kental dan tambahkan sedikit garam sesuai selera.
  • Pengemasan Ganda: Masukkan krim ke dalam kantong plastik ziplock, lalu lapisi kembali dengan kantong kedua untuk mencegah kebocoran.
  • Aktivitas Lari: Bawa kantong tersebut saat berlari, terutama di jalur pendakian atau medan yang memberikan banyak guncangan.
  • Durasi Olahraga: Berlarilah selama minimal satu jam agar proses pemisahan lemak dalam krim terjadi secara maksimal.
  • Hasil Akhir: Ambil gumpalan mentega berwarna kekuningan yang terbentuk dan siap disajikan sebagai olesan roti.

Prosedur sederhana ini terbukti efektif mengubah cairan krim menjadi mentega segar yang bisa langsung dinikmati setelah olahraga usai. Eksperimen ini pun menjadi viral di media sosial dan banyak ditiru oleh komunitas pelari lainnya sebagai cara seru mengisi waktu latihan.

Kedua tren di atas, baik konsumsi kiwi di Korea Selatan maupun pembuatan mentega di Amerika, menunjukkan dinamika budaya lari yang terus berkembang. Para pelari kini tidak hanya fokus pada jarak tempuh, tetapi juga mengeksplorasi sisi nutrisi dan kreativitas dalam aktivitas harian mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi